BIDADARI SURGA ASIAH

Saturday, September 11, 2010

"CINTA UNTUK CINTA"



Setiap hari Cinta selalu datang menyapaku...
Diawal shubuh sebelum sang surya merajukku...
Menanyakan khabarku hari ini...
Apakah aku sedang riang...tertawa...gembira...bahagia...
Ataukah aku sedang sedih...gundah...kecewa...terluka...
Aku jelas tau...
Tanpa hadir-pun Cinta pasti mengetahui akan keadaanku
Namun Cinta sengaja datang untuk menemuiku...
Karena Cinta tau...
Kehadirannya Akan menghangatkanku...


Aku teringat kembali pertemuanku dengan Cinta...
Pertemuan yang tak pernah kuduga...
Pertemuan yang merubah diriku...
Pertemuan yang merubah takdirku...
Ternyata...
Cinta sengaja merancangnya untukku...


Tujuh tahun silam ketika aku sibuk mengejar cintaku...
Cinta malah menyalip cinta yang kukejar...
Sebelum cintaku menyatakan cinta padaku...
Cinta lebih dulu menyatakan cintanya kepadaku...
Tapi aku menolak Cinta dan memilih cintaku...


Saat itu...
Cinta tak marah atau kecewa...
Cinta malah semakin menunjukkan kesungguhan cintanya...
Cinta mencegah aku bertemu dengan cintaku...
Cinta terus menjagaku...
Setiap saat...setiap waktu...


Aku tau Cinta terus mengikutiku...
Kearah manapun aku melangkah...
Kadang aku berpura-pura lalai dan lupa pada Cinta...
Berpura-pura tak melihat Cinta...
Tapi cinta tak pernah sedikitpun melalaikanku dan melupakanku...
Cinta tak sedetikpun memalingkan pandangannya dariku...


Malam itu...
Ketika berduaan denganku...
Cinta terdiam...
Saat melihat tetesan-tetesan air jatuh di kedua mata senduku...
Mengalir membasahi pipiku, bertemu di belahan daguku...
Hingga akhirnya bermuara di kedua tanganku yang menengadah pada Cinta...


Akhirnya...
Aku menumpahkan semua isi hatiku pada Cinta...
Cinta dengan tulus mendengarkan keluh kesahku...
Cinta Tersenyum...
Kemudian mendekapku erat...
Dekapannya mampu menghancurkan atmosfir hatiku yang kala itu sedang gerimis...
Kini aku menangis dalam dekapan Cinta...
Semalaman...


Cinta kemudian menggenggam tanganku...
Memandang wajahku dengan kasih sayang...
Cinta lalu membisikkan kalimat mesra di telingaku...


"Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal..
Maka Aku akan mendekatinya sehasta...
Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sehasta...
Maka Aku akan mendekatinya sedepa...
Dan apabila hamba-Ku datang kepada-Ku dengan berjalan....
Maka Aku akan datang padanya dengan berlari..."


Malam itu juga...
Cinta menyatakan kembali cintanya kepadaku...
Kali ini aku tak menolak...
Karena sebenarnya...akulah yang tak bisa hidup tanpa Cinta...
Bukan Cinta...
Akulah yang akan jauh tersesat dalam kegelapan bila Cinta tak menuntunku...
Bukan Cinta...
Kini aku sadar...
Aku sudah jatuh cinta pada Cinta...


Ah...Cinta...
Tetap kan mengampuni...
Walau makhluk-Nya bermaksiat kepada-Nya...
Tetap kan menyayangi...
Walau makhluk-Nya melupakan-Nya...
Tetap kan mencinta...
Walau makhluk-Nya mengkhianati-Nya...


Cinta....
Terimakasih karena tidak melepasku...
Terimakasih karena telah menuntunku ke jalan-Mu...
Terimakasih karena telah mengingatkan aku akan khilafku...
Terimakasih karena telah memanggilku dengan panggilan yang terindah...
"hamba-Ku"
Panggilan yang telah mampu mengalirkan air mataku...menentramkan hatiku...
Panggilan yang paling dirindui oleh makhluk penduduk bumi...


Ya...Rabb-ku...
Ya..Cinta-ku...
Izinkan Aku mencintaimu...
Sampai raga ini lelap dalam tidur panjangnya....

Friday, August 27, 2010

BENARKAH DALAM Al-QURAN TUHAN ITU ADA TIGA ???



Untuk postingan kali ini, saya sengaja mengcopy paste sebuah catatan dari klub "Islam Terbukti Benar". dengan judul "Makna Kata 'Kami' Dalam Al-Quran". Demi perjuangan pedangkalan Akidah yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir kepada muslim-muslim yang buta akan agamanya sendiri atau yang masih dangkal pemahaman islamnya, yang begitu mudah tergadai imannya hanya karena tidak mengerti kalimat "kami" dalam Al-Quran sehingga menganggap Tuhan itu banyak dan juga mudah tergadai imannya dengan 1 Dos bungkus mie. Sebarkan catatan ini di Blog kita semua sebagai tanda perjuangan kita melawan pemurtadan yang terjadi bagi saudara-saudara kita. Berikut kutipannya.... 

MAKNA KATA "KAMI" DALAM QUR'AN

السلام عليكم . بِسْــــمِ ï·²ِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو Ù„ الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Seringkali, orang kufar mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya: Mengapa Qur'an sering guna kata KAMI untuk ALLAH? Bukankah kami itu banyak? Apakah itu bermakna Qur'an pun mengakui "Tuhan" bapa, "Tuhan" anak & "Tuhan" roh?

^_^ ... Bagi yang belum tahu, mari kita sama-sama berbagi ilmu:

Jawaban 1: Kata KAMI sebagai penghormatan

Bahasa Arab ialah bahasa paling sukar didunia. Sedang bahasa paling sukar nomor 2 ialah Bahasa China. Hal ini disebabkan kerana dalam 1 kata, bahasa arab memiliki banyak makna.

Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah boleh bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain boleh bermakna perempuan.

Dalam bahasa Arab, dhamir 'NAHNU' ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu 'NAHWU', maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan sejenis ini. Pertanyaan diatas muncul karena ketidak tahuan meraka, namun banyak pulak para kufar yg berusaha untuk membodohi umat Islam yang tak faham dengan bahasa arab. Pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata melawan umat Islam yang kurang ilmunya.

Tapi bagi mereka yang faham bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan makna dan kandungan seni serta balaghah dan fashohahnya, Pertanyaan ini terlihat lucu dan jenaka.

Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang setengah-setengah?

JIKA MEMANG "KAMI" DALAM QUR'AN DIERTIKAN SEBAGAI LEBIH DARI 1, LALU MENGAPA ORANG ARAB TIDAK MENYEMBAH ALLAH LEBIH DARI 1? MENGAPA TETAP 1 ALLAH SAHAJA? TENTU KARENA MEREKA PAHAM TATA BAHASA MEREKA SENDIRI.

Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.

Selain kata 'Nahnu", ada juga kata 'antum' yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna 'antum' adalah kalian (jamak).

Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan 'antum', maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan 'anta'.

Kata 'Nahnu' tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata "Kami" tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang berpidato sambutan berkata,"Kami merasa berterimakasih sekali . . . "

Padahal orang yang berpidato Cuma sendiri dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang "Kami". Lalu apakah kalimat itu bermakna jika orang yang berpidato sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?

Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Kalau kawan diskusi kita yang christian itu tak paham rasa bahasa ini, harap maklum saja, karena alkitab bible mereka memang telah kehilangan rasa bahasa. Bahkan bukan hanya kehilangan rasa bahasa, tapi pun kehilangan kesucian sebuah kitab suci.

Sebagai contoh dari rasa bahasa Alkitab Kristen yang sudah "Hancur Lebur" dapat dilihat dalam postingan ini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=144868932209673&comments

Seperti yg sudah diketahui banyak orang, alkitab christian merupakan terjemahan dari terjemahan yang telah diterjemahkan dari terjemahan sebelumnya.

Ada sekian ribu versi bible yang antara satu dan lainnya bukan sekedar tidak sama tapi juga bertolak belakang. Jadi wajar bila alkitab christian mereka itu tidak punya balaghoh, logika, rasa dan gaya bahasa. Dia adalah tulisan karya manusia yang kering dari nilai sakral.
Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata 'ummat'.

Biasanya kita memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.

QS.16 An-Nahl :120 Sesungguhnya Ibrahim adalah "UMMATAN" yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan.

Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular [anâ], dan ada kata ganti pertama plural [nahnu]. Sama dengan tata bahasa lainnya. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular.

Dalam gramer Arab [nahwu-sharaf], hal demikian ini disebut "al-Mutakallim al-Mu'adzdzim li Nafsih-i", kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.

Permasalahan menjadi membingungkan setelah al-Quran yang berbahasa Arab, dengan kekhasan gramernya, diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Indonesia, yang tak mengenal "al-Mutakallim al-Mu'adzdzim li Nafsih-i" tersebut

Jawaban ke 2: Ada peran makhluk lain atas kehendak ALLAH
Contoh penggunaan kata KAMI dalam Qur'an:Qs. 15 Hijr: 66. Dan telah Kami wahyukan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.

"Kami wahyukan..." Maka disini berarti ada peran makhluk lain yaitu Malaikat Jibril sebagai pembawa atas perintah Allah.

Contoh penggunaan kata AKU dalam Qur'an:

11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
15. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.
16. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa".Qs.20 Thaaha:11-16

Pada ayat-ayat di atas, kata AKU digunakan karena Allah sendiri berfirman langsung kepada Nabi Musa AS tanpa perantara Malaikat Jibril.... ^_^

Contoh penggunaan kata KAMI dan AKU yang bersamaan dalam Qur'an:
Qs.21 Anbiyaa: 25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".

Kata KAMI digunakan saat Allah mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan sebagai perintah menyembah Allah saja.

Qs.23 Mu'minuun: 27. Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiapnya, dan keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Kata KAMI digunakan saat mewahyukan kepada Nabi Nuh AS dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan saat tidak ada malaikat.

Contoh peran makhluk lain dalam kata KAMI ialah peran sepasang suami istri dalam peran penciptaan manusia.

Jawaban ke 3: Kata KAMI pun digunakan dalam kitab terdahulu

Bahasa Arab sedikit banyak memiliki persamaan dengan saudara 1 rumpunnya yaitu Bani Israil. Ini saya maksudkan dalam kitab "Taurat" masa sekarang pun, dalam bahasa aslina kata yang digunakan ialah KAMI, tapi orang yahudi tidak pernah menganggap Tuhan itu lebih dari 1.

Sebagai Contoh ialah dalam Alkitab Kristen:
Kejadian 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (BAHASA SEKARANG)Padahal dalam bahasa ibrani aslinya ialah menggunakan kata KAMI.... Tapi yahudi tidak ada yang menyembah Tuhan 2 tapi 1 atau Tuhan 3 tapi 1 atau Tuhan 4 tapi 1....

emoga ini menjadi renungan bagi semua terutama bagi mereka yang murtad hanya karena dunia.

25 Juta Muslim menjadi Murtad Kafir antara tahun 1950-2004 berdasar 3 sumber resmi: Pemerintah Demokrasi, Pihak Islam & Pihak Kristen dengan sedikit perbedaan jumlah...

Ini baru yang tercatat, bagaimana dengan yang tidak tercatat?
Berapa jumlah murtadin antara 2005-2010?
Berapa jumlah murtadin sebelum tahun 1950?
Berapa jumlah murtadin di negara lain? Afrika, Malaysia, lainnya?
Belum termasuk yang terpengaruh Liberal berkata semua agama sama?
Berapa jumlah Islam yg setengah hati terpengaruh media massa?
Berapa jumlah muslim yang tak yakin dengan Islam?
Berapa Jumlah "Islam Keturunan"?
Sampai kapan kita harus toleransi?
Hak kita untuk membela diri & keturunan kita!
Hidupkan KEWAJIBAN dakwah setiap individu muslim...
Sampaikan dengan hikmah & cara yang baik....

Tidak benar semua agama sama, hanya 1 agama benar! Qur'an menulis:Siapa cari agama selain Islam,maka sekali-kali tidak diterima dari-nya, & dia di akhirat termasuk orang2 rugi (QS.3 Ali 'Imran:85).

Tidak sempurna iman seorang muslim sampai dia menyayangi muslim lain seperti dirinya sendiri. Dan salah satu wujud sayang itu ialah amar ma'ruf nahi munkar. Kemunkaran yang meraja lela saat ini ialah "Semua Agama Sama". Mari kita buktikan semua agama tidak sama, hanya Islam saja satu-satunya agama yang TERBUKTI benar!

Mukjizat Qur'an mencakup dari yang sangat sederhana, sampai yang penuh dengan kerumitan dari segala bidang matematika, astronomi, biologi, geografi, sastra, oceanografi dan segalanya. Karena Qur'an diturunkan kepada semua manusia sepanjang zaman. Bahasanya mencakup dari yang sangat sederhana, sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu bahasa & kesusasteraan yang baik.

Dengan demikian pesan yang dibawa bisa dicapai oleh setiap orang tanpa melihat tingkat pendidikannya. Sama halnya dengan mukjizat Qur'an, fenonema yang sungguh teramat sangat luar biasa ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu: BUKTI SEDERHANA dan BUKTI RUMIT

Bagi orang awam saja, keindahan bahasa & hikmah serta nasihat jiwa didalamnya sudah mampu membuktikan kemuliaan Qur'an bagi orang yang mau jujur menggunakan hati kecilnya. Diceritakan dalam sebuah kisah jika Abu Jahal pun menangis mendengar Rasulullah Muhammad SAW membaca Qur'an, namun sayang, Abu Jahal tidak mau mengakui Mukjizat Qur'an yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad SAW.

Info Islam Terbukti Benar dapat di klik di alamat berikut ini :

Saturday, August 7, 2010

"JILBAB PERTAMAKU"



Hmm....aku yakin kita semua punya kisah yang seru dan mendebarkan saat kita pertama kali memakai kerudung dan jilbab. Dan tulisanku kali ini adalah kisahku yang kubingkai dalam sebuah cerita. Sebuah kisah dimana aku pertama kalinya menutup helai-helai rambutnya dengan "Kerudung" dan membalut tubuhku dengan "Jilbab". Kisah ini sederhana, malah terkesan biasa saja dan tidak dapat dibandingkan dengan kisah teman-teman seperjuanganku yang sampai harus bertaruh nyawa. Walaupun terlihat biasa, tapi bagiku ini ujian yang berat dan cukup melelahkan. Yah..sesuai dengan tingkat keimananku yang masih lemah dan rapuh. Aku ingin mengisahkan pengalaman pertamaku tersebut ketika mengenakan kerudung dan jilbab pada kalian dengan tujuan untuk membedah otak, mengusik ketenangan hati, mengganggu jiwa, dan membisikkan di telinga kalian bahwa "Betapa bahagianya menjadi seorang Muslimah".

***

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Aku bingung ingin mengatakan keluargaku termasuk keluarga yang religius atau tidak. Dibilang religius, pemahaman agama orang tuaku kurang, buktinya kami tak pernah diajarkan tentang aurat, dibolehkan pacaran tapi dilarang berzina. Dibilang tidak religius juga religius karena ayah dan ibu termasuk orang yang rajin sholat. Mengajarkan kami mengaji dan memberitahukan pada kami mana yang baik dan buruk. Mungkin seperti keluarga muslim pada umumnya.

Aku sendiri mengenal islam dari mata pelajaran agama yang kudapat dari sekolah. Di sekolah aku diajarkan bahwa islam itu terdiri atas sholat, zakat, puasa, dan naik haji bagi yang mampu. Pelajaran agama tak pernah keluar dari topik tersebut mulai dari tingkat SD sampai SMU. Karena itu aku berpikir Islam itu  yah sholat, ya zakat, ya puasa dan naik haji titik. Jika kita sudah melaksanakan itu semua maka lengkaplah kita sebagai seorang muslim. Kukira kita semua berpikiran hal yang sama bukan? secara gitu lho, 12 tahun hanya berputar-putar disitu saja, tak pernah sedikitpun menyentuh topik yang lain. Ternyata ilmu Islam itu sedikit sekali.

Di zamanku, (kesannya biar gimana gitu..) sewaktu aku di bangku SMU, wanita yang menutup aurat masih sedikit jumlahnya. Mungkin diantara seribu siswi, yang menutup aurat hanya sekitar lima orang. Itupun hanya menutup biasa, jauh dari cara penutupan yang diperintahkan menurut syariat. Gak kayak sekarang, menutup aurat udah jadi trendseter walaupun nutupnya asal-asalan alias ngepaz abiz...

Dibangku SMU, aku masih culun-culun dan lugu-lugunya. Ikut trend, gak mau dibilang ketinggalan model. Menyukai baju yang ketat agar terlihat seksi, tak lupa celana pendek yang tentu dapat memperlihatkan jenjang kakiku. Jangan salahkan aku! Aku wanita, sudah menjadi naluri wanita ingin terlihat seksi, menggoda dan mempesona, serta menyukai pujian dari kaum adam. (aduh..buka kartu deh). Dengan gaya pakaian seperti itu, tak ada secuilpun rasa malu walaupun mata-mata kaum adam udah kenyang menelan auratku. Biasa saja, malah bangga dan senang jika ada yang memuji. Namun, aku bersyukur pada diri ini, walaupun saat itu aku akui tidak menutup aurat secara sempurna tapi aku masih menjaga pergaulanku dan diriku. Aku menjaga diriku dari yang namanya aktivitas pacaran. Mungkin karena saat SMP, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana teman kelasku begitu mudah dipeluk dan disentuh pacarnya. Kadang juga ciuman di pipi. Entah kenapa walaupun saat itu aku belum punya pemahaman islam, aku merasa sayang dan rugi jika tubuhku disentuh oleh laki-laki yang cuma berstatus pacar. Aduh betapa murahnya aku jika seperti itu, pikirku. Karena itu prinsipku, "Aku adalah boneka dari india yang boleh dipandang tapi tak  boleh disentuh. ( Aurat udah diobral gitu tapi masih sok jual mahal. hi..hi...lucu juga yah..^^ ).

Saat kelas 2 SMU, aku melihat teman kelasku memakai kerudung. Saat itu terbesit juga pertanyaan dalam hati ini, kenapa dia harus menutup rambutnya padahal rambutnya indah seperti mayang terurai? Siapa yang bisa menjawab pertanyaanku. Ya..akhirnya pikiranku tertuju pada guru agamaku yang jebolan Universitas yang melahirkan sarjana-sarjana agama yang pandai. Kala itu, guru agama dianggap orang yang paling ahli dalam ilmu agama, pastinya apapun yang keluar dari mulut mereka kami anggap benar. Pas mata pelajaran agama, akupun bertanya pada guru agamaku.
"Bu mana saja yang termasuk aurat wanita? Dan hukum menutup aurat bagi wanita apa bu?" Saat itu aku serius bertanya, sebab karena rasa penasaran, aku juga ingin tau alasan apa sehingga para wanita itu rela menyiksa dirinya memakai kain untuk menutup rambutnya. Serta ingin tau apakah aku berdosa atau tidak.
Ibu guru agamaku terlihat kaget, sebentar kemudian ia menjawab :
"menutup aurat bagi wanita itu tidak wajib kok nak". Ucapnya kemudian tersenyum.
"tidak wajib...? Tapi kenapa mereka pakai kerudung bu?" Aku merasa tambah tidak mengerti.
"begini, memang ada ayat-ayat dalam al-quran yang memerintahkan wanita untuk menutup auratnya, namun perintah tersebut hanya diwajibkan bagi wanita-wanita Arab saja, bukan wanita-wanita Indonesia atau wanita-wanita di negara lain." Ujarnya menjelaskan.
"kenapa begitu bu? Kok cuman wanita Arab?, apa bedanya kami wanita-wanita Indonesia dengan wanita-wanita Arab? Bukannya sama-sama wanita?" Aku semakin penasaran. ( Aku jadi ingat waktu nonton film KCB. Ketika Azzam menjawab pertanyaan tentang kecantikan wanita-wanita Mesir. "Kalau tiga wanita Mesir yang jalan, itu berarti ada enam orang yang cantik". Kok bisa?, "karena bayangannya juga cantik". Hi..hi...ini cukup memberitahukan kepada kita bahwa wanita-wanita Arab terkenal karena kecantikannya. "Kalau lima wanita Indonesia yang jalan, hanya satu yang cantik....wets...T_T ).

Akhirnya ibu guru agamaku-pun berkata,
"karena....( sebelumnya afwan bagi kaum adam )...nafsu laki-laki Arab sana tinggi-tinggi, mereka tidak bisa melihat aurat wanita sedikit saja. Mereka kalau melihat wajah, rambut atau betis saja, nafsu mereka sudah naik. Makanya kasus pemerkosaan disana tinggi. Sebab itulah wanita-wanita Arab wajib untuk menutup aurat termasuk wajah mereka. Beda sama laki-laki Indonesia. Nafsu laki-laki Indonesia tidak tinggi-tinggi. Tidak cepat tergoda kalau hanya lihat wajah, rambut atau betis. Jadi kita wanita Indonesia tidak wajib menutup aurat".  ( nah lo, kenapa senyum-seyum...)

Saat mendengar hal itu, teman-teman cowok pada tepuk tangan karena kegirangan, sembari mengangguk-ngangguk tanda setuju. Tak lupa mengaminkannya pula. ( huh...apa benar begitu...?)

Kami semua wanita yang berada di dalam kelas mengangguk paham. Ternyata bedanya hanya masalah "nafsu " saja. Saya mengaminkan hal ini karena saya sering mendengar di Arab sana banyak kasus pemerkosaan yang terjadi. Toh, belakangan kemudian muncul berita di TV, nenek-nenek umur 80 tahun diperkosa oleh pemuda tanggung berkali-kali...dan beritanya bukan hanya sekali. Idih...apa ini yang katanya nafsu laki-laki Indonesia tidak tinggi-tinggi? Mendingan laki-laki Arab, wajar kalau lihat yang bening-bening jadi nafsuan, ini nenek-nenek  yang udah kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit masih nafsu juga? saraf benar tuh orang.

Tapi alasan yang dikemukakan ibu guru agamaku saat itu begitu kupercaya dan mengena di akalku. Aku begitu yakin karena toh guru agamaku sendiri tak menutup auratnya. Rambutnya hanya ditutupi kain penutup kepala dengan jambul yang terlihat bagian depannya. Bajunya pun memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, dengan rok yang panjang namun terbelah di bagian belakangnya.
"jadi tidak berdosa khan bu"? Aku mengulangi pertanyaanku untuk memastikan.
"iya..tidak berdosa" jawabnya dengan tetap tersenyum.
"Alhamdulillah, syukur kalau begitu bu,  karena aku pikir selama ini aku telah berdosa".
Jujur saat  itu aku girang, karena ternyata aku tak berdosa. Semenjak hari itu, aku semakin PEDE dengan pakaian seksiku. Akupun tak pernah lagi bertanya dan mencari tau apakah jawaban ibu guruku benar atau salah.

Sampai akhirnya aku lulus sekolah dan memasuki dunia kampus. Di dunia kampus inilah aku ingin memanfaatkan masa-masa mudaku. Aku terpengaruh dengan slogan yang sering diucapkan teman-temanku. "Karena hidup hanya sekali, jadi manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin". Aku yang awalnya tak pernah mengenal  bagaimana rasanya berpacaran akhirnya memutuskan untuk mencari pacar. Sayang khan masa masa-masa ini berlalu begitu saja?

Saat kuliah ada beberapa teman-teman cowok dan senoir yang sudah memberikan sinyal, namun gak ada yang berani dan sempat untuk menyatakan cinta. Mereka hanya menunjukkan lewat sikap. Mungkin saat itu aku masih maba, lagipula aku masih pilih-pilih untuk jadi pcar pertamaku. Selama beberapa bulan, aku berkelana dalam pencarian cinta. (pejuang cinta.red).

Sampai suatu hari, dosenku pada hari itu tidak datang mengajar. Aku ingin balik ke rumah, tapi tanggung karena dalam selang waktu dua jam lagi, mata kuliah yang lain akan masuk. Aku bingung mau kemana. Tapi saat itu ada dorongan dalam hatiku untuk beristirahat di masjid kampus. Akhirnya aku memutuskan untuk kesana. Saat aku sedang duduk melamun sendiri, tiba-tiba datang seorang akhwat dan kemudian duduk disampingku. Sepertinya ia juga datang beristirahat disini. Kamipun ngobrol tentang islam. Pada akhirnya ia mengajakku untuk ikut kajian (belajar islam). Tanpa pikir panjang aku menerima begitu saja. Aku penasaran dengan pemahaman islamnya, terlebih melihat gaya pakaiannya yang sopan dan agak sedikit "beda".  Aku juga hanya berniat untuk sekedar mengetahui islam itu seperti apa, tak ada sedikitpun niat untuk berubah. Oh iya..aku juga ingin menguji diriku, bisa insaf atau tidak..? karena aku tau, diriku adalah orang yang keras kepala dan tidak mudah untuk dipengaruhi.

Akhirnya aku ikut kajian islam. Dari kajian islam itulah aku baru tau ternyata ilmu islam itu luasssss buanget, gak ada habisnya. Aku baru tau kalo ternyata islam itu bukan hanya agama yang berbicara seputar ibadah mahdo semata (sholat CS). Islam itu agama yang kaffah, yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari sistem ekonomi, sosial, pergaulan bahkan sampai urusan politik yang dibilang haram dikaitkan dengan agama diatur pula oleh islam. Yang lebih mencengangkan lagi saat aku tau bahwa ternyata Islam itu pernah berjaya selama  tiga setengah abad (350 tahun) dengan sebuah negara yang menerapkan aturan Allah yang disebut Daulah Khilafah Islamiyah. Tambah mencengangkan lagi saat aku diberitahu bahwa ternyata yang namanya seorang wanita muslim mempunyai kewajiban untuk menutup auratnya dengan "kerudung" dan "jilbab" ketika ia sudah baligh. Itulah dua syarat pakaian taqwa yang membedakan wanita-wanita muslim dengan wanita-wanita kafir. Iseng-iseng aku menghitung berapa tahun aku berdosa karena tak menutup auratku semenjak aku baligh. Astagfirullah..waktu yang cukup lama...sangat lama. (Waktu yang pada akhirnya aku sesali sepanjang hidupku setelah aku berubah T_T).

Musrifahku (pengajar) menjelaskan tentang aurat wnita. Dia berkata, menutup aurat itu bukan hanya sekedar menutupnya begitu saja. Tapi menutup yang harus sesuai dengan perintah syariat agar amalan menutup aurat kita tidaklah sia-sia. Cara penutupan aurat yang sesuai dengan perintah Allah dapat teman-teman baca (di alamat link ini :


"jadi selama ini aku berdosa kak? Tapi kata ibu guru agamaku yang jebolan  sarjana agama  itu...? Terus terang aku kaget juga, tapi saat itu hatiku masih keras. Penjelasan tentang auratnya itu hanya masuk di telinga kananku dan keluar di telinga kiriku. Aku berpikir, jika aku memakai kerudung gak kebayang panasnya bukan main. Jilbab apalagi..aduh ibu-ibu banget deh...!. Pakaianku yang modis dan mahal mau dibuang..?gak bisa dibonceng gratis pulang dari kampus, gak bisa ngumpul-ngumpul bareng teman-teman, apalagi rata-rata teman-temanku 95% adalah cowok karena aku kuliah di fakultas yang identik dengan laki-laki, apa kata orang tuaku yang tau betapa seksinya aku...lama-lama mereka bisa jantungan. Keluargaku...yang masih lekat dengan adat...tetanggaku yang terpengaruh dengan isu-isu bahwa orang-orang yang belajar islam pasti jadi teroris, gak boleh pacaran...segala sesuatu menjadi terbatas...sementara aku suka dengan kebebasan maklum anak tomboy...aku nggak sanggup meninggalkan duniaku yang seperti sekarang ini....hatiku berat. "Kalau aku berubah kak, dunia pasti akan terbalik". Itulah selalu kalimat yang sering kukatakan pada musrifahku, yang sebenarnya ingin aku gambarkan bahwa hal itu tidak mungkin dan itu takkan pernah terjadi. Catet...T_T

Kajian Islam jalan, tapi dosa juga jalan. Pergaulanku semakin luwes, aku masih berharap ada cinta yang menyapa. Sebab sinyal-sinyal cintaku semakin tinggi. Aku masih saja berharap untuk mendapatkan pacar tapi yah gitu, cuma sinyalnya aja yang tinggi tapi koneksinya belum juga nyambung. Rasa malasku untuk pergi kajian sudah memuncak, sebab aku merasa bahwa semakin aku tau hukumnya, semakin aku tak tenang. Tapi aku juga merasa sayang untuk berhenti karena bagaimanapun juga aku harus tau tentang islam dan inilah satu-satunya hal yang bisa menjadi pagar bagiku dalam pergaulanku. Walau hatiku semakin malas dan tak ikhlas, tapi akal dan pikiranku memaksa kaki-ku untuk terus melangkah setiap waktu kajian itu tiba. Walau harus bangun pagi, hujan deras sekalipun aku tetap pergi. Sempat juga menerobos banjir yang sampai dilutut demi pergi kajian islam. Aneh memang...berjalan tanpa hati dan pikiran yang selalu bertentangan. Keduanya kini berperang dalam diriku...aku bingung tapi menikmatinya.

"Jika hamba-KU mendekat pda-Ku dalam jarak sejengkal, Maka Aku akan mendekat padanya dengan jarak sehasta, Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku dengan jarak sehasta, Maka aku akan mendekat padanya dengan jarak sedepa, Jika hamba-ku mendekat pda-Ku dengan cara berjalan, Maka Aku akan mendekatinya dengan cara berlari".

Percayakah kalian dengan Hadits Qudsi diatas?  Aku percaya, sangat-sangat percaya. Karena aku membuktkannya pada diriku sendiri. Saat itu aku masih terus berusaha untuk mengejar cintaku (pacar.red.) walaupun aku tau itu dosa. Tapi di satu sisi, aku juga tak mau berhenti dari kajian islamku. Aku terus berusaha untuk mendekat kepada Allah walaupun tak ada keikhlasan sama sekali. Sungguh itu sangat berat. Alhamdulillah, Allah menjawab usahaku. Lama kelamaan keinginan untuk berkerudung muncul juga. Tapi niat itu belum seberapa dibandingkan dengan kuatnya penolakan hati. Aku pada akhirnya memutuskan untuk berkerudung. "aku akan memulainya besok". ucapku dalam hati.
Hari esok-pun tiba namun aku belum siap juga. "ah..besok lagi saja deh..mungkin besok lebih siap".
Besoknya...begitu lagi gak jadi lagi. Sampai akhirnya besok-besokku itu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Aku mulai sadar, hatiku sebenarnya takkan pernah siap sampai kapanpun. Pikiranku memaksaku untuk melawan pada hati. "aku ingin mengalahkanmu wahai hati". batinku.
Kali ini aku tak mau lagi  menunggu kesiapan hati, tak mau lagi menyebut kata "esok". Malam itu aku sengaja bangun untuk melaksanakan sholat tahajud.

Jika disepertiga malam para hamba Allah bangun untuk meminta, aku tidak. Aku ingin menyampaikan protes dan keluhanku pada-Nya. Setelah usai sholat, aku mengungkapkan protes, dan menumpahkan semua isi hatiku pada Allah.

"Ya Allah, kenapa sih wanita harus menutup auratnya...kenapa Engkau menurunkan perintah yang seperti ini?...yang sangat berat aku laksanakan....?"

"Ya Allah, kenapa wanita-wanita yang lain begitu mudahnya menutup aurat mereka, sementara aku tak bisa? Apa yang salah pada diriku ya Allah...?"

"Ya Allah, kenapa hati ini begitu berat melaksanakan perintah-Mu...kenapa hatiku menolaknya...?"

"Ya Allah, kenapa hatku tak bisa ikhlas agar aku mudah untuk melaksanakan perintah-Mu...kenapa..?"

Pokoknya aku protes dan mengeluh pada Allah. Malam itu hatiku sakit. Aku terus menangis sejadi-jadinya sampai aku merasa sesak untuk bernafas. Aku begitu benci dengan diriku yang mempunyai hati yang sekeras batu. Andai bisa kulukis, aku seperti tertindih oleh gunung yang besar. Jujur..memakai kerudung tak pernah ada dalam mimpiku sama sekali dan taki pernah terlintas dalam khayalku sedikitpun.

Aku-pun akhirnya memohon pada Allah dengan khusyu,
"Ya Allah, Engkau Maha membolak-balikkan hati, maka balik-kanlah hati hamba untuk menuju jalan-Mu, Ikhlaskan hati hamba ya Allah agar mudah melaksanakan perintah-Mu...ikhlaskan hati hamba ya Allah...Jika ia tak mau ikhlas, paksa ia untuk ikhlas ya Rabbi...paksa ia untuk ikhlas....paksa ya Rabb...untuk ikhlas...." Ucapku terus menerus sambil terisak.

Karena begitu kuatnya keinginan untuk berubah aku akhirnya mengucap sebuah janji pada Allah.
"ya Allah, aku benar-benar ingin berubah menjadi hamba-Mu. Mulai malam ini aku berjanji pada-Mu, aku tidak akan pernah menyentuh yang namanya pacaran. Itu janjiku pada-Mu..."

Semalaman aku menangis sampai waktu subuh tiba. Usai sholat shubuh, aku tertidur. Saat aku terbangun, alhamdulillah hatiku agak lega rasanya. beban hatiku kini sudah tak ada. Pagi itu aku ke kampus, dengan kerudung tentunya. Panjang ceritanya, aku hanya bisa bilang, semua orang memperhatikanku, semua terkejut, semua heran, semua diam, saling berbisik. Ada yang pro dan ada yang kontra, ada juga yang kecewa. Ya..lah siapa lagi kalau yng naksir padaku ..^^. Aku masa bodoh.

Alhamdulillah ujian kerudung lewat. Tapi aku masih merasa kurang, sebab masih ada tersisa satu perintah yang belum aku laksanakan yaitu memakai “Jilbab”. Kalau untuk perintah yang satu ini aku menyerah. Sebab aku tak tau, sanggupkah aku mengalahkan hati untuk yang kedua kalinya? Ku biarkan saja Allah membuat rencana untukku.

Dulu sebelum aku menutup rambutku, Aku berkenalan dengan seorang cowok yang menarik simpatiku. Pernakah kalian melihat seorang primus? Apa menurut kalian primus itu gagah? lelaki yang berkenalan denganku lebih gagah dari seorang primus. Sumpah. Di kedua pipinya terdapat lesung pipi, itu yang membuat senyumannya semakin menarik. Kulitnya putih, bibirnya berwarna pink, bodinya macho. Belum lagi ditambah suaranya yang merdu…dipadu padankan dengan kemahirannya memetik senar-senar gitar. Wanita normal mana sih yang gak tergoda? Dia lelaki tertampan yang pernah aku temui dalam hidupku. (astagfirullah…jaga hati..jaga hati….@_@). Menurut kabar yang kudengar dari temanku dia adalah laki-laki tertampan di kampusnya. Saking cakepnya, banyak wanita yang menawarkan diri padanya, namun dia menolak. Yang paling membuatku tertarik, dia pernah jadi seorang ikhwan, berpenampilan dengan baju koko dengan mata yang selalu menundukkan pandangan…. namun dia terpengaruh kembali dengan lingkungannya dan sekarang berstatus mantan ikhwan! T_T

Cowok itu sering datang di tempat kostku dikarenakan ia berteman dengan teman kostku. Hari itu, ia kaget saat bertemu aku kembali dengan penampilan yang berbeda. Kepalaku sudah terhijabi dengan kerudung. Ternyata dari awal ia sudah menyukaiku, namun dengan penampilanku yang baru akhirnya ia jatuh cinta padaku. Hanya selang dua hari dari perubahanku, ia kemudian datang dan menyatakan cinta padaku. Dia ingin menjadi pacarku.

Aku kaget, masya Allah, cowok setampan ini jatuh cinta pada gadis yang berwajah pas-pasan  seperti aku? Aku tidak percaya. Aku sampai menyuruhnya untuk memperbaiki matanya. Walaupun begitu, Perasaanku begitu senang.. Hatiku sudah menjawab ya dari tadi, seribu bahkan sejuta kali. Tapi pikiranku memerintahkan bibirku untuk diam. “inilah impianku, mendapatkan seorang kekasih untuk tambatan hati, akhirnya aku punya pacar juga”. Batinku.

Tapi…astagfirullah…aku baru teringat, dua malam yang lalu, aku sudah terlanjur berjanji kepada Allah untuk tidak menyentuh yang namanya pacaran. Hatiku kini meringis pilu. Pilu sekali. Dalam hati, aku marah padanya. “Kenapa kau baru menyatakan cintamu sekarang? Tahukah kau, aku sudah terlanjur berjanji”. Andai aku belum berjanji, kau pasti akan kuterima. Perlahan-lahan muncul rasa penyesalanku atas ucapan janjiku pada Allah. Aku sampai nyeletuk dalam hati, “ya Allah, bisakah aku meralat janjiku waktu itu pada-Mu, bisakah aku menarik kembali perkataanku kalau aku tidak akan pacaran”? ah penyesalanku semakin dalam. Hatiku semakin lemah saat melihat tatapan matanya yang sangat berharap agar aku menjadi pacarnya. Tapi pikiranku saat itu menguatkan aku. “ukhti, ingat kamu sudah berjanji, dan kamu harus menepati janji itu. Apakah kau mau Allah menurunkan siksa padamu karena kau telah mengingikari janjimu”.

Akupun mengumpulkan semua tenagaku untuk memberikan jawaban padanya.

“Maaf, pacaran dalam islam itu hukumnya haram, Saya tidak bisa. Dan saya kira kamu juga pasti tau khan? Aku berbicara begitu tenangnya. Andai ia bisa melihat isi hatiku, mungkin ia akan melihat hatiku yang sedang teriris pilu .

“aku tahu, karena itu, aku tidak akan menyentuhmu. Aku yang akan menjagamu dari laki-laki lain. Aku janji” ujarnya memohon padaku.

“maaf, sekali lagi aku tak bisa, sebaiknya kita berteman saja…(teman tapi mesra maksudku..he..he..)”. Saat itu aku hanya diam saat melihat ia pergi dengan wajah yang penuh kekecewaan. “maaf aku sudah berjanji pada tuhanku, aku harus menepatinya.”. aku lega.

Rupanya ia tak menyerah. Ia terus berusaha mendekatiku dengan segala rayuannya…rayuan pulau kelapa. Manisssss abisz. Untungnya aku sudah terbekali sedikit dengan islam, jadi aku masih bisa bertahan walaupun sudah jatuh bangun sampai terseok-seok. Belum selesai rupanya Tuhan mengujiku dengan komitmenku.
Selang beberapa hari kemudian, teman kampusku yang anak orang kaya juga menyatakan cinta padaku. Jika aku bersedia jadi pacarnya, dia akan memberikan apa-pun yang aku minta, mengantarku kemanapun aku ingin pergi, pokoknya hidupku terjamin. Wah, ini tawaran yang menarik, rugi khan kalo ditolak. Tapi janji tetap akan menjadi janji, apalagi janji dengan Sang Maha Pencipta. Aku menolak lagi dengan berat hati. Belum juga aku menghilangkan perasaan menyesal, datang lagi orang yang ketiga untuk menyatakan cinta…keempat dst…semua dengan tawaran-tawaran yang menarik. duh..apa maksudmu ini ya Allah? Godaan pacaran terus menyerangku….iblis tak berhenti untuk merayuku. Hatikupun dari awal sudah luluh lantak, tapi pikiranku yang sudah dipenuhi dengan pemahaman islam terus menarikku agar aku tak terjatuh kedalam lubang dosa. “jangan pakai perasaan..pakai pikiranmu”. “Ah, aku harus kuat…harus kuat…itu semua ujian Allah padaku. Ujian seusai janjiku”. Aku terus menguatkan hatiku. Andai aku belum berjanji mungkin aku sudah melakukan aktifitas pacaran. Naudzubillamindzalik.

Jika seperti ini terus aku takkan kuat. Aku harus berubah total, agar mereka tak lagi menggangguku. Tapi sekali lagi, Hatiku menolak untuk berjilbab. Malah hatiku terus mengumpatku karena menolak tawaran pacaran tersebut, apalagi menolak tawaran si tampan itu. pikiranku mulai goyah. Aku hampir saja menyerah, tapi Allah menguatkanku kembali dengan sedikit memberiku pelajaran kecil yang berharga.

Aku kembali mengadu pada Allah tentang cowok tersebut yang terus menggangguku. Kenapa dia datang disaat aku ingin berubah menjadi seorang muslimah yang sebenarnya. Aku meminta kepada Allah untuk menguatkan hatiku darinya. Selesai aku berdoa dan menangis ria, aku membuka Al-Quran dan kemudian mengaji. Kebetulan Al-Quran yang kubaca adalah al-quran terjemahan. Saat itu aku sampai pada suatu ayat yang membuat hatiku semakin jatuh cinta kepada Allah:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nuur; 26)

Astagfirullah, aku menangis seusai membaca ayat Allah yang satu ini. Bukankah ini adalah janji Allah bahwa wanita yang keji akan mendapat laki-laki yang keji dan wanita  yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula? Bodoh, kenapa aku menyesali cowok mantan ikhwan tersebut. Aku terus mengutuk hatiku…dan bukankah jika aku berubah menjadi wanita yang sholehah dengan melaksanakan perintah-Nya dengan menutup aurat secara sempurna maka Allah pasti akan memberikan padaku laki-laki yang sholeh juga khan?. Tanpa sadar akupun berdoa kepada Allah,

“Ya Allah, jika kelak aku sudah berubah menjadi wanita yang sholehah, maka hadiahkanlah padaku lelaki yang sholeh pula. Akan kutagih janji itu padamu ya Rabbi”!

Inilah alasan kedua, kenapa aku ingin berubah setelah alasan pertamaku yaitu agar aku bisa mendapatkan cinta Allah. Aku teringat perkataan seorang ustad bahwa jika kita ingin melihat cerminan jodoh kita, maka lihatlah pada diri kita sendiri.
Karena Allah akan memberikan jodoh yang sama dengan tingkat keimanan kita. Jika saat ini engkau melakukan dosa maka saat itupun jodohmu sedang melakukan dosa pula. Sebaliknya jika saat ini engkau sedang melakukan kebaikan maka saat itu pula jodohmu sedang melakukan kebaikan pula. Hmm…gara-gara terkenang dengan perkataan ustad tersebut, setiap aku melakukan kebaikan atau keburukkan aku teringat jodohku. Karena tak mau jodohku buruk maka aku selalu berusaha untuk berbuat kebaikan biar dia baik juga disana. He..he..!

Akhirnya aku mengumpulkan tekadku untuk mengenakan jilbab. Beruntung, ada seorang kakak yang menghadiahkan 2 jilbabnya kepadaku. Allah juga menolongku. Kakak sepupuku yang kembali ke kampungnya karena sudah selesai kuliah melupakan satu jilbabnya di lemari. Anehnya ia mengatakan bahwa hanya jilbab itu saja barangnya yang terlupakan. Kupikir itu rezekiku, Alhamdulillah sudah punya tiga jilbab. Tapi saat itu, aku tak tau kapan waktu yang tepat aku akan berani mengenakannya.

Kebetulan lembaga dakwah tempat kajianku di kampus mengadakan acara. Aku termasuk sebagai panitia inti. Saat hari itu tiba, aku bersiap ke tempat acara. Namun saat kubuka lemariku, astagfirullah, tak ada sedikitpun baju di dalamnya. Kulirik tempat pakaian kotorku, sudah penuh. Aku ingat, sudah dua minggu ini aku tak mencuci pakaianku karena kesibukkanku ( :P ).
Aku panic, ya Allah, aku harus pakai baju apa?. Gak mugkin khan aku mengambil kembali pakaian kotorku!. Aku masih dalam kebingungan, deringan telpon dan sms dari teman-teman sudah memintaku segera untuk ke acara. Ketua panitianya tiba-tiba mendadak harus mengasistensi laporan Tugas Akhirnya. Akhirnya aku dimintanya untuk menggantikan tugasnya sebab aku adalah sekretarisnya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kantongan plastic yang kusimpan dalam lemariku. Isinya jilbab hadiah dari sang kakak. Apa aku harus memakai jilbab sekarang?, jika aku tak pergi, bagaimana nanti acaranya? Ah…mungkin ini tandanya aku harus berubah. Akhirnya aku mengenakan jilbab untuk yang pertama kalinya. Aku terus memandangi cermin, sambil berpikir, apa aku terlihat seperti ibu-ibu?

Saat aku melangkahkan kaki keluar dari rumah kostku, kutau semua mata tertuju padaku. Mas bakso lannggananku menatapku kaget. Orang-orang di kostku apalagi. Belum lagi dengan mahasiswa-mahasiswa yang hanya kami saling mengenal wajah karena tinggal di lingkungan yang sama. Mereka tak berhenti berkedip. Saat itu, tak sedikit-pun aku  menoleh. Aku cepat-cepat menaiki angkot dan kabur dari situ. Dalam perjalananku, aku merasa ada sesuatu yang lain pada diriku. Entah kenapa matahari yang menyengat hari itu tak kurasakan. Aku juga merasa menjadi seperti muslimah yang baru terlahir ke dunia. Ya Allah, hatiku begitu merasa lega dan tenang karena sudah tidak dikejar lagi oleh dosa aurat. Aku merasa diriku menjadi terjaga dari pandangan-pandangan liar, dan merasa begitu terhormat. Rupanya beginilah rasanya jika kita sudah bisa menaklukkan dunia untuk akhirat…sungguh, aku tak dapat melukiskan kebahagiaanku dengan kata-kata. Setibaku di tempat acara, semua mata kembali tertuju padaku lagi.  Teman-teman akhwat bergembira melihat perubahanku dan mengucap syukur. “ukhti, setelah kau mengenakan jilbab, apakah dunia menjadi terbalik? Dunia aman-aman saja bukan?”. Ujar musrifahku, yang ingin menggodakku. “Iya kak, dunia tak terbalik malah semakin cerah saja . Balasku sambil tersenyum.

Tantangan yang sebenarnya akan datang ketika aku masuk kampus. Esoknya, aku memasuki gerbang fakultasku, seperti kemarin, semua orang menatapku mungkin mereka pikir ada mahasiswa baru di fakultas mereka. Maklum, saat itu aku satu-satunya mahasiswi yang memakai jilbab diantara semua mahasiswi di fakultasku.   Kakiku semakin bergetar saat aku menaiki tangga menuju lantai tiga tempat perkuliahanku. Jantungku semakin berdetak cepat. Saat tiba di lantai tiga, teman-teman seangkatanku sedang asyik bercanda sambil tertawa. Aku yang tiba-tiba muncul dengan penampilan baru mampu menghentikan aktifitas mereka beberapa detik. Semua diam semua membisu. suasana menjadi hening.  Aku tambah grogi. Entah apa yang ada dalam pandangan teman-temanku, melihatku dengan cara yang aneh. Bagi mereka ketika aku megenakan kerudung adalah hal yang biasa, tapi kali ini aku tampil dengan jilbab adalah hal yang luar biasa. Seharian di kampus, tak ada yang komentar. Teman-teman cowokku tak ada yang mengajakkku bicara. Bahkan sahabatkupun menjauh dariku. Aku hanya bisa terus beristigfar.

Hari berikutnya, di lingkungan jurusanku, aku mendapat panggilan baru. Uztadzah. Sebenarnya aku tau itu panggilan mengejek karena setiap menyebut kata ustadzah mereka tertawa. Jujur, itu adalah panggilan yang paling kubenci. Tapi aku hanya menjawab dengan bibir yang tersenyum mantap. “alhamdulillah, semoga kelak saya bisa menjadi seorang ustadzah, terima kasih doanya teman-teman” belum lagi aku dikatakan mirip oma-oma yang jualan sayur dipasar. Ditanyain, sudah hamil berapa bulan. Aku jawab saja seenaknya.”sudah 3 bulan”. Ditanyain, kamu ini aliran apa? Aku jawab “aliran listrik”. Hati sudah gerah ya Allah. Sabar…sabar…T_T

Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri adalah jurus yang kupakai ketika teman-teman mengejekku. Bagiku tak masalah, Seisi dunia pun menjauhiku aku tak peduli, asal Allah cinta dan ridho padaku. Karena bukan kepada mereka aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, tapi hanya kepada Allah tuhanku. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, akhirnya teman-teman kampusku bisa menerima keadaanku. Asalkan sabar dan kuat, insya Allah, badai pasti  berlalu.

Bagaimana kisahku menarik bukan?.  Ternyata, hidayah bagi seseorang sudah tersedia, tinggal kita yang datang dan berusaha untuk mengambilnya. Ibarat makanan yang sudah tersaji di piring, namun masih membutuhkan tangan kita agar makanan tersebut bisa masuk ke dalam mulut.  Dan memang, untuk mengambil hidayah tersebut, kita akan diuji oleh Allah berupa rintangan yang membutuhkan kesabaran dan keihklasan. Jika kita berusaha dengan sunguh-sungguh untuk berubah, maka Allah akan memudahkannya. Jika  Aku dan muslimah-muslimah yang lain berhasil menundukkan hati dan pikiran dengan aturan Allah, maka aku yakin, kamu juga bisa. Yuk…bersama-sama kita raih ampunan dan surga Allah.

”Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Hadiid : 21)

Wednesday, June 30, 2010

PACARAN ISLAMI ADAKAH ?



Tak indah rasanya hidup ini kalau gak punya pacar, ibarat minum teh tanpa gula, pahit rasanya. Ibarat makan rujak tanpa bumbu gula merah, kurang rasanya. Ibarat makan sayur tanpa garam, hambar rasanya. Ibarat memancing di air keruh, gak nongol-nongol ikannya, ups...maaf..ibarat yang terakhir kayaknya gak nyambung lagi...he...he...^^

Tapi pada intinya, hidup tanpa punya pacar akan membuat hidup kita tanpa gairah. bawaannya lemas terus, tak punya warna, warna merah, kuning hijau di langit yang biru, pelangi kalee! Apalagi melihat teman-teman kita yang udah punya pacar, kemana-mana selalu berdua. Duh..jadi jeolus khan? kepala panas, hati mendidih seratus derajat dan akhirnya bersedih. Tapi seandainya kalo udah punya pacar, uh rasanya dunia jadi milik berdua, orang lain cuman numpang ngontrak aja. Bahkan kalo udah jatuh cinta yang sampe setengah mati, kata orang yang udah pernah merasakannya, "Tai Kucing-pun Rasa Coklat"..(Ih, emang udah ada yang coba?) Please deh...! Tapi bagi saya, jatuh cinta apa gal, coklat tetap coklat n tai kucing tetap tai kucing...benar gak sobat...? yah. tambah gak nyambung lagi...

Balik lagi ke masalah pacaran, kita harus ngerti dulu bagaimana sih, status pacaran dalam islam sebelum kita menjalaninya. Mungkin aja statusnya wajib? Tau khan artinya "wajib" kalo dilakukan dapat pahala, kalau tidak dilakukan dapat dosa. (Wah, saya jadi senyum-senyum sendiri membayangkan jika nanti ada fatwa baru kalau status pacaran sudah berubah jadi "wajib" dengan alasan para ulama terdahulu salah menerjemahkan kitab dan sunnah dikarenakan otaknya yang sudah menua. Maka saya jamin, perintah Allah yang satu ini tidak akan dilalaikan, semua bakalan ikhlas...ikhlas....ikhlas menjalankannya, termasuk akyu..^^..ehm..). Atau  syukur-syukur statusnya "sunnah", lumayanlah masih dapat pahala, sambil menyelam minum air dong. Bisa-bisa ini  nanti jadi sunnah yang paling favorit dilaksanakan manusia. Atau paling tidak statusnya "Mubah", sah-sah aja, gak ada dosa bila dilakukan atau tidak dilakukan. Asal gak ada pelanggaran. Tapi gimana kalau statusnya adalah "Makruh" alias mengurangi pahala, atau kemungkinan yang terburuk statusnya ternyata "Haram"? dilakukan dapat dosa, dihindari dapat pahala? Wah harus hati-hati neh! Hmm..harapan kamu apa yah?

Karena itu sebelum kita ngulas lebih jauh tentang pacaran, kita mesti tau asal muasal pacaran. Ada satu hal yang menjadi pertanyaan saya selama ini, sebuah pertanyaan yang sulit saya temukan jawabannya. Karena sulitnya saya-pun mencari jawaban pada musrifah saya, tapi musrifah saya hanya menjawab dengan gelengan kepala, saya-pun bertanya lagi pada seorang ustad, dia-pun hanya menjawab dengan gelengan kepala yang sama. Belum puas, saya bertanya lagi sama pak Kiyai? dia juga menjawab tapi bukan dengan gelengan kepala, namun dengan jawaban ideologis, "Wallahu Alam Bisshawab". Ah..asal muasal pacaran, benarkah hanya Allah yang tau? tambah bingung deh. Saking bingungnya saya sampai mencoba mencarinya dalam literatur-literatur Islam, kali aja ada jawaban yang menyelinap biar cuma satu kalimat, tapi hasilnya nihil. Dalam kebingungan, sayapun teringat, "Lho kenapa gak tanya aja sama para pelaku pacaran? gak mungkin khan, mereka gak tau, toh mereka sudah mempraktekkannya bukan?. Tapi setiap pelaku  pacaran yang saya tanya semua menjawab "gak tau apa-apa, cuma mempraktekkannya doang". OMG...jadi selama ini para pelaku pacaran gak tau tentang sejarah munculnya pacaran?, siapa orang pertama yang mencetuskan ide tentang pacaran, kemudian menjadikannya sebagai  konsep dalam percintaan dan setelah itu mempraktekkannya pada kehidupan manusia seperti halnya tentang konsep "Demokrasi"?

Sepertinya itu akan menjadi PR bagi saya untuk mencari tau. Atau barangkali nanti ada teman-teman yang mau membantu mencarikan asal muasal munculnya pacaran. Insya Allah. Tapi menurut para pakar sejarah, pacaran bukanlah aturan atau budaya yang berasal dari peradaban Islam melainkan berasal dari peradaban Barat dan Eropa. Barat dan Eropa menjadikan kebebasan sebagai simbol kemajuan peradaban mereka. Makanya jangan heran pergaulan laki-laki dan perempuan Barat dan Eropa motonya "Langsung dan Bebas Aktif".

Walau sejarahnya gak jelas gitu, virus pacaran sudah terlanjur mewabah di negeri yang katanya paling besar populasi penduduk muslimnya. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Veteran semuanya sudah pernah mempraktekkannya.
Pernah suatu ketika, salah satu gadis kecil yang kukenal, datang melapor kepada saya,
"kakak saya mau melapor" katanya.
"melapor apa de?" tanyaku.
"kak, si Thoyib udah gagal dalam percintaannya kak". (Thoyib adalah anak lelaki yang baru duduk dibangku kelas 6 SD).
"hah...gagal dalam  cinta?..maksudnya apa"? saya mencoba memperjelas.

Gadis kecil itu kemudian bercerita dengan serius. Namun sebelum itu dia meminta saya untuk berjanji tidak melapor pada si Thoyib karena dia pasti kena jitak. Karena itu kalian juga harus janji, jangan melaporkan hal ini kepada si Thoyib. Kalau gak kita bisa kena jitak bareng-bareng. Ceritanya gini,

Thoyib yang hanya anak ingusan jatuh cinta sama teman kelasnya. Perasaan ini telah lama dia pendam dalam hatinya. Tak ingin menjadi pecundang, Thoyib akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan cinta sama teman kelasnya itu. Saat bel istirahat berbunyi, Thoyib menuju tempat duduk gadis itu dan tanpa izin, Thoyib menarik tangan gadis kecil tersebut dan membawanya di taman belakang sekolah. Di bawah pohon yang rindang, ditemani semilir angin sepoi-sepoi, sambil menggenggam tangan dan menatap lekat mata gadis kecil itu, Thoyib langsung menyatakan cinta kepada gadis kecil tersebut.
"Maukah kau jadi bagian dari hidupku? Maukah kau jadi pacarku"?

Gadis itu terperanjat kaget dan melepaskan tangan Thoyib. Dia diam sesaat. Thoyib cemas menunggu jawaban. Dug..dug..dug..! Namun, plak..plak..plak...lima jari tangan gadis kecil itu mendarat di pipi Thoyib kiri dan kanannya. Setelah melayangkan tamparannya, gadis kecil itu kemudian berlari sambil menangis. Thoyib hanya bisa terdiam, tertunduk lesu menahan sakit di pipinya dan saat dia mengangkat wajahnya, dia shock setelah sadar semua penghuni sekolah mengikuti kejadian itu.

Gak tau setelah mendengar cerita itu mau nanggapinnya gimana, rencananya mau istigfar, tapi mulut ini gak bisa berhenti untuk tertawa. Ah, anak sekecil itu sudah berani pacaran, gimana nanti besarnya...? jadi aktifis pacaran kale...!

Aktivitas Pacaran

Lalu bagaimana dengan aktivitas pacaran itu? yup saya tau kamu mau bilang kalo dengan pacaran kamu punya tempat curhatin, ada yang perhatiin, ada yang telponin plus sms-in, ada yang bisa buat kamu bahagia-in, pokoknya yang in-in-indah deh. Tentu aktivitasnya pasti janjian lalu jalan bertiga, lari bertiga, nonton bertiga, dan boncengan bertiga ke pantai sambil menikmati indahnya sunset..? Nah, lho senyum...ketahuan deh... ! pokoknya do it everything tetap bertigalah. Kenapa bingung? oh nanyain kenapa bukan berdua, ini kok malah bertiga?
Bukankah Jabir berkata, Rasulullah SAW bersabda :

"Siapa saja yang beriman kepada Allah SWT, dan hari akhir, janganlah sekali-kali ia berkhalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena yang ketiga di antara keduanya adalah setan".

saya kira semua kini jelas khan?

Aktivitas yang saya sebutkan tadi belum ditambahi bumbu penyedap rasa. Biasanya disaat berduaan gitu, mulai suka adu pandang-pandangan, itu baru awalan. Lama-lama mulai pegangan tangan. Semakin lama sudah menjurus ke peluk-pelukkan, semakin lama lagi udah berani cium-ciuman. Eh, tanpa sadar sudah melakukan zina. Naudzubillahimindzalik. Dan semua itu berawal dari  pacaran. Ih ngeri banget deh...

Pacaran Islami Adakah?

Allah WaZalla berfirman dalam surahnya :

"Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk" (Al-Israa ; 32)

"Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi". (Al-An'aam: 151)

Dari inti ayat ini adalah, Allah memberikan warning bagi manusia untuk menghindari perbuatan yang mendekati zina karena perbuatan tersebut dikatakan perbuatan keji dan salah satu jalan yang buruk. Juga menghindari perbuatan keji yang dilakukan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dan sudah tentu aktivitas pacaran adalah aktivitas yang mendekati zina. Coba lihat..! Awalnya berdua-duaan trus pandang-pandangan, terus pegangan, terus pelukkan, terus cium-ciuman, terus zina deh...Astagfirullah...!

Nah karena aktivitas itulah sehingga mengapa pacaran itu diharamkan dalam islam. Tapi mungkin kamu bisa ngeles kalo pacaran gak melakukan aktivitas itu boleh selama masih menjaga rambu-rambu alias pacaran islami. Duh ngotot banget sih kamu yang namanya dosa!.
Liat kamu, saya jadi ingat teman saya yang pernah ngotot ke saya kalau aktivitas pacarannya itu gak haram. Alasannya pacarnya itu alim dan anak sholeh, rajin sholat cing lima sempurna, eh maksudnya lima waktu. Pacarnya sering mengingatkan dia untuk sholat, malah sampai meminta ia mengenakan kerudung dan mengganti pakaiannya dengan yang longgar dikit. Pokoknya karena pacarnya dia jadi dekat ama Allah kembali. "Punya pacar sholeh dengan gaya pacaran seperti itu kan baik, kenapa harus diputusin? Bisa-bisa kalo saya putus sama pacar saya, saya bisa jadi lupa shalat lagi, dan jauh sama Allah. Itu khan bahaya....!" Hmmm...sama gak sih pertanyaannya dengan kamu???

Yah, saya balik nanya, tujuan sholat itu apa sih? untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar khan? Nah pacaran adalah perbuatan yang keji dan mungkar. Itu berarti, kalo shalatnya gak mampu menghalangi dia untuk tidak berpacaran, berarti shalatnya? jawab deh sendiri. Di salah satu sisi dia mengajak kebaikan, eh..disatu sisinya lagi dia mengajak berbuat haram. Jadinya yah gak benar.
Trus emang kalo gak disuruh pacar, gak bisa dekat sama Allah? Nah kalo ini saya harus bilangin ke kamu kalau kamu salah total. Kamu harus tau, kalo Allah itu maha dekat dengan hamba-Nya. Dia lebih tau isi hatimu daripada kamu sendiri. Kenapa misalnya kamu gak bisa dekat sama Allah? yah balik lagi ke kamu, kamunya sih masih melakukan perbuatan yang dibenci sama Allah jadinya Allah jauh deh.

Kembali lagi dengan aktivitas pacaran yang no kiss dan touch itu....alias pacaran islami. Walaupun tanpa kiss dan touch, gaya pacaran tetap takkan pernah terlepas khan dengan namanya "pembicaraan" yang melibatkan aktivitas mulut, "pandangan" yang melibatkan aktivitas mata, "pendengaran" yang melibatkan aktivitas telinga, "Perasaan" yang melibatkan aktivitas hati, dan "khayalan" yang melibatkan aktivitas akal atau pikiran.? dalam Al-Quran, mulut juga bisa disebut berzina apabila ia mengeluarkan kalimat rayuan kepada seseorang yang bukan muhrimnya, mata juga bisa disebut berzina apabila memandang lekat (saling beradu pandang dengan sengaja) seseorang yang bukan muhrimnya, telinga juga bisa disebut berzina apabila ia mendengar rayuan yang belum halal diucapkan oleh seseorang yang  bukan muhrimnya, hati juga bisa disebut berzina jika ia terus-menerus mengingat seseorang yang bukan muhrimnya, dan pikiran juga bisa disebut berzina apabila ia sampai membayangkan hubungan yang lebih dengan seseorang yang bukan muhrimnya. Adakah dari penjelasan ini yang tidak masuk dalam aktivitas pacaran islami kita?

Sekarang kita coba ngulik kedok Pacaran Kamu.

Saya masih bingung ketika kamu berkomitmen untuk pacaran. Padahal pacaran itu termasuk kedalam hubungan HTS (Hubungan Tanpa Status) saudaraan sama TTM. Ikatannya absurb, kapan-kapan bisa saja diakhiri tergantung mood atau kebosanan. Karena menurut islam ikatan yang legal dan sah dimata Allah hanya ikatan pernikahan, ikatan yang akan diminta pertanggung jawabannya kalo berani ini itu, putusnya juga gak mudah, karena harus melewati tiga kali proses. Lagian berapa persen sih hak pacar ke kamu dengan komitmen modal omong doang, sampai-sampai ada pacar yang ngelarang ini, ngelarang itu, nuntut ini, nuntut itu...narsis...!

Sttt...kamu tau gak kalo pacaran itu adalah "Topeng Kemunafikan"?, pasti kamu kaget khan. Ceritanya gini, pacar kamu ketika bertemu dengan kamu atau saat berada disisimu, dia hanya akan mengeluarkan sisi terbaiknya saja, yang buruk-burukny dia simpan. Dia akan berusaha tampil baik dihadapan kamu walaupun konsekuensinya dia harus berbohong dan bermuka dua. Yang tadinya marah-marah kalau ada pengemis datang kepadanya untuk meminta uang, eh ini dia sendiri yang nyamperin tuh pengemis. Ngasinya juga gak tanggung-tanggung sepuluh ribu, biar dilihat dermawan ama pacar. Atau dia yang sebenarnya tak pernah sholat, tiba-tiba jadi rajin sholat. Sampai-sampai minta izin segala supaya bisa sholat tepat waktu sambil berjamaah. "say, pending dulu pacarannya yah...Allah dah manggil tuh, abang mesti segera menghadap, takut terlambat berjamaah". Ya Allah..tolong....! Trus kalau kamu udah gak ada dekat dia, sifat buruk yang sebenarnya muncul kembali.

Nah, hal itupun juga akan berlaku dengan diri kamu. Kamu juga bakalan mengeluarkan sisi terbaikmu, yang buruk disembunyikan, malah sifat yang gak ada kamu ada-adain. Biasanya kalau cewek dia akan bersikap manis dan imut-imut biar gemesin kalo dilihat. Suaranya dibuat sehalus  mungkin..biar terdengar merdu ditelinga...(ketahuan deh..^^). Itu artinya kamu dan pacar kamu sama-sama munafik. Sama-sama bermuka dua, sama-sama membangun benteng kebohongan. Udah ngaku aja..! sudah banyak kok yang terbukti dari orang yang berpacaran kemudian menikah akhirnya menyesal setelah baru sadar melihat sifat asli sang pacar yang sudah menjadi suami. Terbukti kalau tujuan pacaran untuk saling kenal satu sama lain yang selama ini dijadikan alasan adalah bohong besar. Selain itu, kedok pacaran yang sebenarnya juga adalah hanya untuk bersenang-senang semata. Sebenarnya yang ada dalam aktivitas pacaran bukanlah cinta melainkan hawa nafsu. Karena pada dasarnya hawa nafsu-lah yang mendorong seseorang untuk berhasrat memiliki. Karena dorongan hawa nafsu sesaat, maka yang dicintai bukannya apa yang ada dalam diri kamu, tapi apa yang bisa kamu serahkan dari diri kamu. Ntar kalo udah bosan...sudah habis manisnya...kamu ditinggalin. Miris gak sih?

By the way any busway, disini saya berbicara sebagai saudari kamu sesama muslim. Saya sayang banget ama kamu. Saking sayangnya, saya sedih kalo melihat kamu dimurkai Allah hanya karena kamu pada pacaran. Belum lagi kamu adalah wanita. Tau gak kalo wanita itu mulia banget? semua yang ada pada diri kamu itu berharga. Karena Wanita ibarat porselen. Ketika dia retak sedikit saja, biar diobral begitu aja gak ada yang mau. Dikasih juga orang ogah. Gimana sedih khan? Kalo gitu kok kamu mau aja dinodai ama seseorang yang cuma sebatas pacar. Orang yang gak jelas jodoh kamu atau bukan.

Lagipula, kamu gak usah takut gak kebagian jodoh. Sebab, sebelum rohmu ditiupkan ke dalam rahim ibumu, Allah sudah mencatat, menetapkan dan menentukan jodohmuu. Mau kamu pacaran sama 1000 orang yang ada di dunia ini, kalau bukan jodohmu yah gak bakalan jadi. Malah tanpa pacaran-pun kalo emang udah jodoh, pasti jadi juga. (cihuy..).

Tapi kalo kamu udah terlanjur menjalaninya, terlanjur basah kutup, kamu cepat-cepat deh bertaubat ama Allah...toh Allah Maha Pengampun. Segera putuskan pacarmu dan biarkanlah Allah yang menuntun jodohmu, datang menemuimu pada waktu yang tepat dan dengan scenario yang indah, mengikatmu dengannya dengan ikatan yang indah pula. Amin........



Wednesday, June 16, 2010

“JANGAN MUDAH MARAH TAPI MUDAH MEMAAFKHAN”


Pertanyaan yang muncul, kenapa saya mengambil judul “Jangan mudah Marah Tapi Mudah Memaafkhan”, sebab judul dan isi sebagian dari catatan ini, saya copy paste dari sebuah buku yang dikarang oleh Syaikh Fauzi Said dan DR. Nayif Al-Hamd dengan judul “Jangan Mudah Marah”. Bukunya harganya murah kok, cuma 10ribu perak, tapi isinya insya Allah bisa mengantarkan anda selamat dunia dan akhirat. Lagipula dengan menjadikan buku ini sumber acuan, dengan begitu hati saya tidak terlalu terbebani. Mengapa? Bukankah orang yang mengajak orang lain untuk jangan mudah marah maka dia sendiripun haruslah lebih baik dalam menahan amarahnya? Saya tau saya belum sebaik itu, belum pantas untuk menasehati orang. Karena itu ilmu dari buku ini saya teruskan saja untuk menjadi perisai bagi kita untuk jangan mudah marah tapi mudah memaafkhan. He…he….he..!

Rasa marah memang adalah bagian dari “gharizah baqa” yang ada dalam diri manusia. Gharizah baqa ini adalah sebuah naluri manusia untuk mempertahankan diri yang akan muncul ketika eksistensi dirinya diusik. Misalnya rasa emosi, benci, marah dsb. Adalah fitrah ketika rasa marah itu muncul jika tiba-tiba kita ditampar seseorang tanpa alasan. Gak mungkin kan kita akan diam atau menjadi welas asih seraya berkata. “Maaf, kurang afdol rasanya kalau hanya pipi kanan yang ditampar, andai tuan sudi, tamparlah pula pipi kiriku ini, biar maching warnanya”. Oh tidakkkkkkkkkk……………

Menurut Al-Manawi, rasa marah adalah “Ekspresi perasaan" yang merupakan efek dari jiwa yang bergejolak dan hal tersebut tidak bisa dinalar dengan akal.” Hal ini saya akui kebenarannya, karena pada umumnya orang yang sedang marah, nalarnya seolah-olah lenyap, saat itu perasaan mampu mengalahkan pemikiran (akal). Nanti setelah kemarahan itu dilampiaskan, amarah akhirnya reda. Baru kemudian kesadaran itu muncul yang akhirnya berbuah penyesalan.

Dari Mana Datangnya Marah.

UJUB ( rasa bangga terhadap diri sendiri).. Yaitu bangga akan status social, harta, status keturunan dan yang sejenisnya. Orang yang mempunyai ini cenderung lebih mudah marah karena dia menempatkan harga dirinya lebih tinggi dibanding dengan orang lain.

satu kisah nyata tentang hal ini:

seorang wanita yang mempunyai status social yang tinggi, sebab dia anak keturunan bangsawan. Kebetulan dia juga mempunyai harta dan jabatan yang cukup tinggi dalam pemerintahan. Suatu hari, anak ibu ini pulang ke sekolah dengan menaiki sebuah becak. Dalam perjalanan pulang kerumahnya, tanpa diduga becak yang dinaikinya bertabrakan dengan sebuah motor. Si abang becak kehilangan kendali dan becak itu akhirnya terbalik bersama penumpangnya. Dengan susah payah sambil merintih kesakitan karena tertindih becaknya, si abang becak masih tetap berupaya melakukan kewajibannya mengantar anak tersebut selamat sampai dirumahnya. Sesampainya dirumahnya, si anak melaporkan kejadian itu pada ibunya, dan apa yang terjadi? Prak…prak…prak….lima jari pancasila mendarat berulang kali pada wajah si abang becak tersebut….saat itu abang becak hanya bisa pasrah.

Perdebatan/perselisihan.

Abdullah bin Husain berkata : perdebatan merupakan penyulut kemarahan. Ketika sedang berdebat, Allah merendahkan akal orang yang berdebat sehingga muncullah rasa marah. Makanya jangan heran kalo di negeri kita ini kalo mulut sudah tak dapat berbicara, maka adu jotos yang akan berbicara.

Kadang kita gak sadar kalau senda gurau kita yang berlebihan, telah menyakiti orang lain. Misalnya, kita memanggil teman kita dengan si bondeng (Gendut). Emang sih kita jujur tapi kita telah membuatnya teringat akan kelebihan lemaknya dan dia tentu tidak menyukainya. Wajarkhan kalau dia tersinggung kemudian marah?

Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbicara keji dan tidak sopan (kotor)". . Yah seperti kata pepatah “Lidah itu tidak bertulang” akibatnya “karena mulut badan binasa”. sebab itulah islam memerintahkan kita untuk berhati-hati dalam berkata.

Marah Terpuji dan Marah Tercela.

Marah juga terbagi atas marah terpuji dan marah yang tercela.

Marah yang terpuji adalah rasa marah yang timbul karena Allah, ketika larangan dan apa-apa yang diharamkan-Nya dilanggar. Marah semacam ini buah dari keimanan. Seseorang yang tidak marah ketika menemui keadaan yang mengharuskannya marah berarti lemah imannya. Lihatlah bagaimana kemarahan Rasulullah tidak akan timbul kecuali ketika melihat larangan-larangan Allah dilanggar. Aisyah Rad. berkata :

“Rasulullah tidak pernah sekalipun memukul sesuatu/ seseorang dengan tangannya, tidak juga seorang wanita ataupun pelayan. Kecuali pada saat berjihad di jalan allah. Dan beliau tidak pernah merasa dendam karena disakiti lalu membalas kepada orang yang menyakitinya, kecuali jika hal itu merupakan pelanggaran terhadap larangan Allah. Rasulullah membalas karena allah semata.”

Bisakah kita seperti Rasulullah yang tau kapan dan dimana mengeluarkan rasa marahnya?

Marah yang tercela adalah kemarahan yang muncul karena membela kebatilan dan setan atau marah yang hanya mengikuti hawa nafsu. Marah seperti ini hanya akan merugikan diri sendiri, mencelakai orang dan tentu dapat berdosa pula.

contohnya adalah kemarahaan teman saya waktu di SMA dulu. Ia marah karena pacarnya direbut wanita lain. Sedikit kisahnya, Dengan alasan solidaritas pula, kami menyusun rencana menyerang kelas si wanita perebut pacar teman kami. Strategi sudah kami susun, masing-masing memilih siapa yang akan dilawannya, saya tentu saja memilih yang porsi tubuhnya sama dengan saya. Saat bel tanda pelajaran usai berbunyi, kami mulai menyerang kelas tersebut. Tentunya satu-lawan satu. Tapi..”Kabur…”aku berteriak…spontan semua teman-teman pada lari berhamburan. Kelas jadi kosong melompong. Aku berdiri pura-pura gak tau masalah. Bukan takut dengan musuh, tapi karena keburu datang guru paling killer yang kekejamannya sudah terkenal semenjak sekolah ini berdiri. Alhamdulillah, gak jadi bonyok deh ^^.

Marah disini adalah marah yang disebabkan sesuatu yang bukan berupa kemaksiatan. Namun marah seperti ini tidak boleh melampaui batas. Dan harus ditempatkan sesuai pada porsinya. Berkenan dengan marah seperti ini, ada sebuah kisah di zaman sahabat.

Suatu hari budak perempuan Ali Bin Husain menuangkan air berwudhu untuknya ketika ia hendak melakukan shalat. Tiba-tiba ceret yang digunakan untuk menuangkan air terlepas dari tangan si budak wanita dan menimpa wajah Ali hingga melukainya. Serta merta Ali Bin Husain mengangkat kepalanya dan menatap budak perempuannya dengan wajah yang menyiratkan kemarahan. Melihat hal ini perempuan budak itu berkata : “Dan orang-orang yang menahan marahnya”. Mendengar ucapan budak tersebut, seketika itu juga Ali menjawab. “Aku telah menahan marahku”.. Budak tadi melanjutkan ucapannya: “Serta orang-orang yang memaafkhan kesalahan orang lain”. Ali menimpali, “Aku telah memaafkhan kesalahanmu”. Budak tadi kembali berkata: “Sendangkan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” Lalu Ali-pun berkata : “Pergilah, mulai saat ini kamu jadi orang merdeka”.

Itulah keanggunan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang dapat menguasai amarahnya.

Nasehat Nabi Tentang Marah

Imam Ibnu Rajab meriwayatkan dalam kitabnya: bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Tunjukanlah kepadaku suatu amalan, yang dapat memasukkanku ke dalam surga serta tidak membebaniku. Beritahukan kepadaku ucapan yang mudah aku jalankan. Ajarkan kepadaku sesuatu jangan banyak-banyak agar aku dapat melaksanakannya. Apakah yang dapat menjauhkanku dari murka Allah?” Maka Rasulullah menjawabnya dengan satu jawaban untuk beberapa pertanyaan tadi, yaitu : “Jangan mudah marah”.

Ini menunjukkan bahwa rasa marah merupakan sumber dari segala keburukkan dan kejahatan serta menjauhinya merupakan pangkal kebaikan.

Selain itu, Marah adalah tunggangan Iblis dan Setan untuk menghancurkan manusia. Dengan marah Iblis dan Setan akan lebih mudah mempengaruhi manusia untuk berbuat kejahatan dan keburukkan. Karena pada saat marah manusia akan kehilangan akal dan pikirannya. Itulah mengapa ketika manusia tersebut telah sadar, dia hanya bisa mengucapkan, “saat itu saya tidak sadar”. Dan menyesali perbuatannya.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa dapat menahan marahnya disaat ia mampu untuk meluapkannya, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat diantara para pemuka makhluk. Kemudian ia memilih bidadari yang disukainya” .

Subhanaullah, hanya dengan menahan marah kita dapat memilih satu bidadari surga yang kita sukai…hmm…coba hitung berapa kali kita udah menahan marah terhadap orang yang mendzalimi kita? Kali aja tawaran Allah berlaku kelipatannya.^^

Ibnu Abas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Ada tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang, niscaya Allah akan melindunginya dalam naungan-Nya, meliputinya dengan rahmat-Nya, serta memasukkannya dalam kasih sayang-Nya”. Ada yang bertanya, “Apa saja tiga perkara tersebut, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Seseorang yang jika diberi ia berterima kasih (bersyukur), dan jika mampu untuk marah (hendak marah) ia memberikan maaf, serta pada saat marah ia bisa meredakan kemarahannya”.

Memaafkan Adalah Lebih Baik.

Saya ingin mengingatkan kita semua dengan kisah Rasulullah ketika berdakwah. Ini adalah kisah favorit para pengemban dakwah ketika mereka diuji dengan sabar, marah dan putus asa.

Ketika Rasulullah pergi mendakwahkan islam kepada penduduk Thaif. penduduk Thaif malah mengusir Rasulullah. Cara mengusir mereka diluar batas. Para penduduk Thaif berbondong-bondong mengejar Rasulullah sambil melemparinya dengan batu. Saat itu Rasulullah hanya seorang diri, tak ada satupun sahabat yang membantunya. Batu-batu itu meghujani kepala dan tubuh Rasulullah. Rasulullah berlari sambil memegang kepalanya yang terus mengucurkan darah, badannya terluka pula. Saat itu Rasulullah melewati bukit uhud yang dijaga oleh malaikat. Malaikat yang sejatinya tidak diciptakan Allah tanpa hawa nafsu, kemudian marah melihat perbuatan penduduk Thaif pada kekasih Allah tersebut . Malaikat penjaga bukit uhud pun meminta izin kepada rasulullah : “Ya Rasulullah, izinkanlah saya untuk menimpakkan bukit uhud ini kepada penduduk Thaif”. Namun apa kata Rasulullah. “Jangan lakukan itu…mereka tidak bersalah. mereka melakukan itu karena mereka tidak tau, andaikan mereka tau mereka tidak akan berbuat seperti itu padaku.”

Subhanaullah, inilah contoh madrasah kesabaran dan sifat memaafkan yang diajarkan oleh Rasulullah. Andai itu saya. Maka saya akan berkata kepada malaikat” jangan malaikat…jangan ragu-ragu…kalau perlu usahakan semua penduduk tidak ada yang bisa lolos … “( Peace…)

Kenapa Harus Memaafkhan..

Manusia terlahir dengan kelebihan dan kekurangannya. Setiap manusia ada saatnya dia melakukan kebaikan ketika imannya siaga dan ada saatnya dia melakukan kekhilafan ketika imannya lalai. Karena itulah Allah mengajarkan Kalimat “maaf” pada penduduk bumi agar manusia bisa saling memaafkhan, walaupun memaafkhan itu sangat sulit tapi bukan berarti tak bisa.

Andai kita adalah orang yang tak bisa memaafkhan, itu berarti kita ingin mengatakan bahwa kita adalah orang yang sempurna melebihi para Nabi dan Rasul. Selama hidup, gak penah satu kalipun berbuat salah kepada orang lain, jadi kita gak tau artinya meminta maaf lebih-lebih harus meaafkan perbuatan khilaf orang lain kepada kita. Gak ada dosa yang mengalir..cuman pahala doang, juga gak pernah minta ampun pada Allah. Sadar..sadar…kita bukan malaikat sayang.

Bukan cuma pada saat merasakan makanan yang lezat kita menemukan kenikmatan, tapi kenikmatan memaafkan jauh lebih nikmat dari itu. Karena hati kita akan terasa lega.

Teman saya pernah berprasangka buruk kepada saya terhadap suatu perbuatan yang tak pernah saya lakukan. Saat itu saya tidak diam. Setelah saya menjelaskan kekeliruannya, diapun menyadari kesalahannya. Dia merasa bersalah pada saya, diapun mengirimkan sms yang bertuliskan…

“…dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran : 134).

Tersenyum hati ini saat membacanya, marah saya tiba-tiba mereda. Namun karena ingin mengerjainya, saya kemudian membalasnya:

“Allah memberikan waktu 3 hari bagi hambanya untuk memaafkhan kesalahan, karena itu saya ingin memakai bonus waktu 3 hari untuk tidak menegurmu. afwan.” Sms itu kukirim begitu saja.Namun hari belum senja, saya sudah merindukannya. Gimana gak rindu kalau hampir setiap hari kami selalu melewati waktu bersama. Ingin menelpon tapi takut ketahuan bohongnya. Akhirnya saya menahan rindu padanya selama 3 hari. Tepat ketika hari ketiga itu berakhir, saya langsung ke rumahnya dan kami berpelukan. Ah memaafkhan itu ternyata indah dan nikmat.

Lagipula buat apa menyimpan sesuatu yang menyakitkan berlama-lama di dalam hati. Itu merugikan diri sendiri dan merusak hati bisa-bisa jadi makan hati. Sayapun kemudian teringat nasehat nenek saya, nasehat yang diucapkannya ketika ia menangis karena disakiti oleh orang lain.

“Siapkanlah dalam hatimu sebuah keranjang yang di bagian bawahnya bocor, dan gunakan keranjang itu untuk menampung setiap perbuatan orang lain yang menyakitkan hatimu. Ketika kamu berjalan sampah-sampah itu akan berjatuhan sedikit demi sedikit. Sehingga tanpa kamu sadari kamu tidak akan merasakan sakit hati pada orang yang bersalah padamu”. Ah nenekku itu bisa aja…

Oleh karena itu teman, marilah kita bersama-sama memperbaiki kualitas keimanan kita kepada Allah SWT agar kita bisa menjadi orang yang tidak mudah untuk marah…tapi mudah untuk memaafkhan.