BIDADARI SURGA ASIAH

Sunday, January 23, 2011

RUMAH DI SURGA YANG MEMBERATKAN ( WACANA POLIGAMI )




Manusia mana yang tak ingin masuk surga? Sebuah tempat yang penuh dengan segala keindahan yang tiada tara, sebuah tempat yang di ibaratkan sebagai puncak dari semua kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang berhasil menundukkan dunia untuk akhirat. Surga yang penuh dengan segala kenikmatan tersebut telah Allah gambarkan dalam firmannya :

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu, berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari ) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan. (QS. Al-Waqiah :27-38)

“mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak…..” (Ad-Dahr : 21).

Masih banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an yang menggambarkan tentang kenikmatan surga tersebut tapi cukuplah dua ayat ini yang saya kutipkan bagi teman-teman sekalian.

Kembali pada judul tulisan saya, jujur menulis dengan topik poligami sangat sukar bagi saya. Tulisan ini sudah tersimpan setahun lamanya di laptop saya dan hanya menjadi arsip yang sesekali dilirik untuk dimuat dalam blog “Bidadari Surga Asiah” ketika ada lagi opini-opini negative yang muncul tentang poligami, tapi selalu saja niat itu saya urungkan. Namun seiring munculnya beberapa kasus perceraian di masyarakat dikarenakan sang suami menikah lagi alias melakukan poligami sehingga mengakibatkan munculnya penafsiran yang salah dalam masyarakat bahwa “poligami adalah perbuatan yang sangat buruk dan sangat mendzolimi wanita”. Bahkan yang paling miris adalah orang-orang islam sendiripun malah ikut menjadi penghujat, penolak bahkan tidak tanggung-tanggung mengharamkan poligami. Belum lagi hukum Allah yang satu ini seringkali dijadikan senjata utama para feminis dan orang kafir barat untuk menyerang islam, hukum beserta aturan-Nya.Benar, saya ingin sekali memperbaiki kesalahan penafsiran tersebut. Dan pada akhirnya saya memberanikan diri juga memposting artikel ini untuk memperbaiki kesalahan pemahaman poligami tersebut.

Beberapa pengalaman yang lalu saat masih kuliah, ketika itu masyarakat terutama ibu-ibu dikejutkan dengan berita menikahnya Dai kondang Aa Gymnastiar untuk kedua kalinya. Dalam waktu yang bersamaan pula, muncul pula berita dimana seorang anggota dewan melakukan perbuatan zina dengan seorang artis dangdut. Saya awalnya berpikir bahwa dua berita ini hanyalah kejadian kecil yang tidak akan berdampak apapun pada masyarakat dan slam. Saya pun berpikir pula bahwa masyarakat pasti jeli melihat mana perbuatan yang terpuji (halal) dan yang tercela (haram).

Ternyata pikiran saya salah. Saya baru sadar kalau penafsiran masyarakat mulai bertukar posisi, perbuatan yang halal telah dianggap tercela (haram) dan perbuatan haram telah dianggap perkara yang halal. Masyarakat lebih memilih menghujat, mencaci, dan memaki Aa Gym yang menikahi seorang wanita secara halal, dan malah memaafkan perbuatan zina yang dilakukan oleh anggota dewan tersebut. Jauh bertolak belakang dengan hukum Allah yang mengharamkan zina dan membolehkan poligami. Aturan Allah-pun sudah dianggap buruk.

Begitupun saat saya pergi ke Gramedia untuk membeli buku “Indahnya poligami” dikarenakan saya mendapat tugas untuk mengisi radio dengan tema poligami yang sedang hangat-hangatnya. Saat saya sedang mengambil buku Aa Gym yang kalau tidak salah berjudul “Menjadi Keluarga Bahagia” yang kala itu dibuat oleh Aa Gym saat masih beristrikan Teh Nini seorang, si ibu disamping saya juga mengambil buku yang sama. Kemudian berkomentar. “bahagia apanya…ngajak orang untuk membahagiakan istri, eh malah dia yang nikah lagi, ini namanya kehancuran keluarga”. Prakkk…tiba-tiba buku tersebut di banting di lantai persis disamping saya. Saya kaget dan balik melihat tajam ibu tersebut. Si ibu memandang saya dengan wajah yang marah dan pergi meninggalkan saya tanpa memungut kembali buku tersebut. ”Masya Allah sebegitu bencikah orang dengan syariat Allah ini?” Kata saya dalam hati…

Poligami Dalam Islam Sebenarnya sudah banyak buku yang menjelaskan bagaimana hukum poligami dalam pandangan Islam.Jadi saya tidak akan menuliskan secara terperinci disini. Cukup pembahasan yang penting-pentingnya saja.

Dalam Islam, poligami hukumnya adalah mubah (boleh), hal ini terdapat dalam firman Allah SWT :

“….Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat…”

Ayat tersebut mengandung pengertian tentang kebolehan poligami secara mutlak. Kebolehan ini-pun tanpa ikatan atau syarat apapun. Artinya setiap muslim boleh menikahi dua, tiga dan empat orang wanita yang menurutnya baik. Selain itu Surah ini sudah memberikan lampu hijau bagi sang suami untuk menikah "dengan" atau "tanpa persetujuan" dari istrinya.

"Benarkah Poligami Bersyarat…?"

Pada dasarnya orang-orang yang menentang poligami selalu mencari alasan-alasan yang tidak rasional untuk menjegal hukum tersebut sembari memperkuat alasan mereka dengan dalil-dalil dalam Al-Quran pula. Misalnya mereka mengatakan bahwa poligami memang boleh tapi syaratnya haruslah adil. Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam surah-Nya :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(An-Nisaa ; 129).

Sehingga secara tidak langsung mereka menyimpulkan bahwa, poligami itu diizinkan Allah, tapi tetap tidak akan pernah bisa dilakukan oleh manusia.

Pertanyaannya, apa mungkin Allah menurunkan ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lainnya? Di satu sisi mengatakan boleh namun disisi yang lain mengatakan bahwa itu takkan pernah bisa  dilakukan oleh manusia?.

Kesimpulan tersebut memang akan muncul dalam pemikiran orang-orang yang awam alias orang-orang yang “ke-PeDean” mengartikan makna ayat Al-Quran sementara dirinya tidak punya kapasitas Ilmu untuk menafsirkan Al-Quran. Mengartikan ayat Allah hanya berdasar hawa nafsu dan akal semata. Sementara bahasa Al-Quran walaupun berasal dari bahasa arab namun tidak serta-merta bisa diartikan seenaknya. Sebab Al-Quran mempunyai makna yang tersirat dan tersurat, satu kata pengertiannya banyak, dan dilihat pula dari asbabun nuzul turunnya ayat. Jadi hanya orang yang menguasai ilmu tafsir sajalah yang boleh mengartikan makna kandungan dalam Al-Quran.

Quraish Shihab yang mengeluarkan tafsir Al-Misbah mengatakan bahwa kesimpulan itu tidaklah tepat. Dengan kata lain, kongklusi tersebut lebih merupakan prasangka, bukan kesimpulan ilmiah. Dalam buku “Wawasan Al-Quran”, Quraish Shihab menyatakan bahwa keadilan yang diisyaratkan oleh ayat yang membolehkan poligami adalah keadilan dalam bidang material. Adapun keadilan dalam surah An-Nisaa : 129, adalah keadilan dibidang immaterial (cinta). Dengan demikian, tandas Quraish Shihab, tidaklah tepat menjadikan ayat ini sebagai dalih untuk menutup pintu poligami serapat-rapatnya.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nidzam Ijtima’i Fil Islam ( Sistem Pergaulan Dalam Islam) menyatakan bahwa tuntutan keadilan bukan merupakan syarat berlakunya (illat) poligami. Surah An-Nisaa : 3,yang membolehkan poligami itu, tidak menetapkan syarat apapun.An-Nabhani menulis :

“Ayat ini (An-Nisaa ; 3) mengandung pengertian tentang kebolehan untuk berpoligami secara mutlak. Kalimat “fainkhiftum” ( kemudian jika kalian khawatir ) bukanlah syarat poligami, melainkan kalimat baru yang berdiri sendiri. Seandainya hal itu menjadi syarat, pasti ayat tersebut akan berkata :

“Nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi dua, tiga atau empat jika kalian dapat berlaku adil.

Setelah itu muncul hukum lain yaitu anjuran untuk membatasi istri satu orang saja jika berpoligami akan menyebabkan tidak dapat berlaku adil pada istri-istrinya.

Taqiyuddin juga pun menulis:

“Kaum muslimin harus di ingatkan bahwa poligami dibolehkan syariat. Jika Al-Quran sendiri telah menyebut kebolehannya berarti perbuatan semacam ini terpuji, sebaliknya tindakan melarang poligami tercela”.

Karena itulah sebagai seorang mukmin yang mengimani Allah, Rasul dan Kitabnya, kita tidaklah boleh melarang poligami sebab perbuatan itu dimata Allah adalah terpuji, jika kita melarang maka kita sudah menjadi muslim yang mengingkari ayat-ayat allah dan hukumnya adalah haram.

Rumah Yang Memberatkan

Poligami adalah perkara yang ringan bagi seorang laki-laki namun sangat berat bagi seorang wanita. Karena itulah imbalan yang patut-pun Allah berikan bagi para wanita yang bersedia dipoligami dengan sebuah rumah hunian di surga.

Bukanlah perkara yang mudah untuk mendapatkan surga seperti yang kita bayangkan. Hanya dengan sholat lima waktu, puasa, beramal sana-sini belumlah cukup untuk membuat kita bisa mendapatkan tiket masuk surga. Apalagi ditambah dengan kondisi sekarang dimana hukum-hukum Allah belum terterapkan secara kaffah (sempurna) dalam diri dan kehidupan kita. Yang terterapkan malah hukum-hukum buatan manusia, sehingga tanpa kita sadari setiap titian langkah dan perbuatan kita bisa saja salah. Karena itu bisa terhindar dari api neraka dan masuk surga walaupun hanya tinggal di emperan-emperan (pingir-pinggir) surga tanpa sebuah kamar dan rumah, sudah merupakan kebahagiaan terbesar. Apalagi misalnya masuk surga dan kemudian tinggal di sebuah rumah hunian yang mewah. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi-kah yang kita dustakan?. Namun setidaknya wanita yang dipoligami tidaklah khawatir sebab ada istilahnya “tanah dan rumah sudah di kapling dan telah dibangun oleh Allah, jelas tinggal menunggu kehadiran penghuninya…” tau khan maksudnya….?

Tapi jujur, perkara poligami bukanlah perkara yang mudah apalagi dari awal saya sudah jelaskan bahwa poligami adalah perkara yang sangat berat. Disini saya tidak akan menulis untuk menasehati para wanita yang dipoligami sebab saya pribadipun belum pernah di poligami jadi saya tidak akan menjadi orang yang sok menasehati. Saya hanya akan berbicara sesuai dengan pandangan Islam dan kapasitas saya sebagai seorang muslimah yang bagaimana seharusnya bersikap dalam menanggapi poligami.

Tapi sedikit banyak saya bisa ikut merasakan walau tak merasakan sepenuhnya seperti wanita yang di poligami. Saya jadi teringat ketika saya masih TTM (Teman Tapi Mesra) dengan seorang pria (jahiliyah red.) . Dia masih PeDeKaTe sama saya waktu itu. Ketika itu tersiar kabar bahwa TTM saya juga menjalin hubungan dengan seorang gadis.Betapa marahnya saya ketika mendengar hal itu. tanpa pikir panjang, sayapun lantas mengirimkan surat kepadanya. (maklum saat itu email belum banyak dikenal masyarakat). Isi surat saya :

”maaf, saya dipilih karena saya memang pantas untuk dipilih.Satu hal, Jangan pernah memilih, Sebab saya bukan pilihan…. Karena itu kamu harus buat keputusan, saya atau dia…?

NB: dalam waktu 1 x 24 jam setelah surat ini diterima, kamu harus segera menkonfirmasi. Jika tidak…hubungan kita berakhir…sebab sekali lagi…”saya bukan pilihan”…

Lihatlah bagaimana saya ketika seseorang yang hanya berstatus TTM hendak menjalin kasih dengan orang lain saya sudah cemburu setengah mati, sampai membayangkan kejadian kayak di sinetron-sinetron itu, mendatangin rumah wanita yang jadi selingkuhannya TTM saya…memukul wajahnya, menjambak rambutnya, sampai ia tobaat…dan berjanji untuk meninggalkan TTM saya. Apalagi misalnya dia sudah jadi suami. (he…he…peace..^^). Pada akhirnya saya menolaknya untuk menjadi pacar karena saya sudah Ilfil dengannya hanya karena percobaan perselingkuhan.

Seorang wanita ketika suaminya menikah lagi dengan wanita lain, perasaannya pasti sakit, kecewa, terluka, dan hatinya bisa jadi akan hancur berkeping-keping. Ibaratnya “Bagai langit runtuh “ (afwan terlalu mendramatsir yah? Tapi serius…inilah perasaan yang dialami seorang wanita, inipun belum sepenuhnya menggambarkan perasaan mereka). Sebab ujian yang terbesar bagi seorang wanita tidak lain adalah ketika suaminya menikah lagi. Karena itulah ketika kita melihat sikap seorang wanita yang di poligami oleh suaminya kecemburuannya menjadi-jadi, emosinya labil, dan marahnya menjadi tidak terkendali, janganlah serta merta kita menyalahkan dia. Tetapi kita juga tidak boleh pula membiarkan dia bersikap seperti itu seterusnya. Wajarlah..rumah di surga yang Allah tawarkan sebagai hadiah sudah sepantasnya,…sebab Allah tau perasaan wanita yang dipoligami.

Memang benar, perkara hati itu sulit sebab dia begitu mudah tergores dan terluka. Sembuhnya pun membutuhkan waktu yang lama bahkan dalam beberapa kasus mungkin tak bisa sembuh. Karena hati wanita khawatir kalau suaminya poligami akan mengakibatkan cinta suaminya berkurang padanya. Pertanyaan wanita ini dijawab oleh Zuliani D, SE. Seorang staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam surat terbukanya untuk rekan-rekan muslimah. Zuliani menulis ;

“Rekan-rekan muslimah yang mendambakan keluarga yang sakinah, acapkali penolakan seorang wanita terhadap poligami lebih disebabkan oleh persepsinya yang keliru tentang cinta. Allah memberi laki-laki dan wanita struktur emosi yang berbeda dan memberi hukum yang berbeda dalam beberapa hal. Bagi seorang wanita,seolah-olah jika suami menikah lagi berarti tidak ada lagi cinta yang tersisa untuknya, menurut saya wanita-wanita berpikir seperti itu sebab secara fitrah wanita tidak dapat mencintai lebih dari satu laki-laki pada saat yang bersamaan. Apabila menemukan pelabuhan hati yang baru, maka seorang wanita akan melupakan sama sekali laki-laki yang pernah mengisi relung hatinya”

“Padahal hal tersebut tidak terjadi pada laki-laki. Laki-laki dapat mencintai lebih dari satu wanita pada saat yang bersamaan, dan laki-laki tidak akan melupakan wanita yang pernah mengisi relung hatinya sekalipun wanita tersebut telah meninggal atau menikah dengan orang lain. Tengoklah bagaimana cinta Rasulullah yang tidak berkurang sedikitpun terhadap Khadijah sekalipun beliau sangat mencintai Aisyah”.

“Apabila seorang ibu sanggup mencintai semua anak yang lahir dari rahimnya tanpa mengurangi sedikitpun rasa cinta pada anak yang pertama, demikian juga halnya seorang laki-laki yang sanggup mencintai setiap istrinya tanpa mengurangi cinta pada istri yang pertama

Saya pikir apa yang dikatakan oleh mbak Zulianti adalah benar. Saya sendiri-pun tidak bisa mencintai dua pria sekaligus. Kalaupun suka pasti ada yang lebih dominan.Bukankah itu fitrah?

Lalu bagaimana dengan banyaknya fakta yang muncul yaitu sang suami menceraikan istri pertamanya ketika ia sudah menikah lagi. Andaikan suaminya tidak menikah lagi,mungkin perceraian itu takkan ada? Ini berarti hukum Allah itu buruk?

Kebenarannya yang buruk bukanlah pada hukum Allah. Tapi yang buruk adalah pada pelaku poligami itu sendiri. Sama seperti orang islam yang melakukan kejahatan, itu bukan berarti agama Islam yang salah dalam pengajarannya tetapi kesalahan pada orang yang mengemban agama itu sendiri.Pada faktanya, rata-rata orang-orang yang melakukan poligami adalah orang-orang yang belum atau bahkan tidak sepenuhnya mempunyai pemahan tentang poligami. Laki-laki yang hendak berpoligami hanya tau bahwa mereka boleh menikah lebih dari satu wanita. Apalagi jika mereka sudah di dukung dengan kekuatan finansial berupa harta, tanpa pikir panjang mereka langsung menikah lagi , tanpa mempersiapkan ilmu dalam berpoligami. Sehingga terkadang pada prakteknya mereka melakukan kesalahan. Misalnya dalam hal tempat tinggal, ada suami yang mengabungkan istri-istri mereka dalam satu rumah, dalam hal materi terkadang berat sebelah, atau lebih memperhatikan istri yang lain dan menelantarkan istri yang lainnya. Inilah kesalahan-kesalahan yang dilakukan sehingga bisa memicu perceraian.

Laki-laki yang mempunyai mahfum islam tentu ketika melakukan poligami. dia akan berusaha untuk berlaku adil terhadap istri-istrinya sebab dia takut Allah akan meminta pertanggung jawaban atas ketidak adilannya dalam memperlakukan istri-istrinya. Akan berbeda halnya dengan laki-laki yang menikah tanpa mahfum islam.

"Tak ada gading yang tak retak" karenanya pastilah dalam berpoligami laki-laki yang mahfum-pun punya salah dan khilaf...tinggal bagaimana istri yang harus menanggapinya secara baik.

Walaupun begitu, banyak pula orang-orang yang melakukan poligami yang kehidupannya bahagia. Contohnya Mas Puspo Wardoyo yang berhasil memenej hati ke empat istrinya. sehingga dapat berhasil menjadi keluarga SAMARA. "Hmm…ini bisa juga faktor dari ketidak adilan media yang lebih banyak mengekspos proses kehancuran rumah tangga akibat poligami dan jarang sekali mengekspos rumah tangga yang bahagia karena poligami.

Sebagai Wanita Bagaimana Menyikapinya?

Poligami itu beraaaaaaaaaaaaaaaaat banget.( serius ini berat...^^). Tapi dalam menyikapi hukum Allah yang satu ini kita tidaklah boleh menggunakan perasaan dan membuang akal (logika) yang kita miliki. Sebab menyikapi dengan perasaan tidak menutup kemungkinan hawa nafsu akan lebih mendominasi sehingga membutakan akal kita. Kita tidak dan tak akan pernah menerima konsep poligami dengan memakai perasaan. Sebagai muslimah kita harus yakin bahwa tidaklah mungkin Allah menetapkan sebuah hukum yang tidak adil dan mendzolimi wanita.

Dalam beberapa kondisi, ada rumah tangga yang diuji oleh Allah misalnya, sang istri tidak dapat memberikan keturunan, sang istri sakit keras sehingga tidak dapat melayani lagi suaminya dengan baik atau berbagai permasalahan yang lainnya. Apa solusi dari semua itu, kalau bukan di selesaikan dengan poliagmi?. Dan jika suami menikah misalnya dengan alasan dia menyukai wanita lain, tidak ada larangan baginya untuk menikahi wanita tersebut. Alasan apa yang lebih baik dengan menjadikannya halal untuk menghindari sebuah perzinahan?

Mungkin ada diantara kita yang berpikir, rasanya tidak adil jika istri bermasalah maka suami nikah lagi. Bagaimana kalau misalnya, suami yang bermasalah? Kenapa istri tidak nikah lagi saja? saya jawab, permasalahannya tidak ada hukum untuk berpoliandri (suami lebih dari satu). Kalau memang suami bermasalah misalnya dalam beberapa kasus sang suami sakit dan tidak dapat memberinya lagi nafkah lahir dan batin, dan sang istri tidak dapat bertahan, silahkan bagi istri untuk menceraikan suaminya dan mencari suami yang lain. Dan pendapat saya pribadi itulah sejelek-jeleknya wanita.

Apa jadinya jika hukum poliandri itu ada?. Kodrat seorang wanita adalah melayani suaminya, disitulah letak jihadnya untuk masuk surga. Misalnya yaitu dengan memasakan makanannya, mencuci bajunya, melayani kebutuhan batin suaminya, menjaga dan membersihkan rumahnya, menjaga harta suaminya. Ini belum ditambah dengan menjaga dan merawat anaknya, mengantarkan anaknya ke sekolah, mengajarkannya ilmu agama, menemani anaknya siang dan malam, ditambah lagi kalau misalnya dia dikunjungi oleh keluarga suaminya yang harus ia layani pula. Astagfirullah, betapa berat pekerjaannya. Itu dengan perhitungan satu suami. Bagaimana kalau misalnya dia harus melayani dua, tiga dan empat suaminya plus tetek bengeknya....? Naudzubillah....betapa tersiksanya dia. Mungkin dalam kerja seharinya dia sudah harus menginap di UGD. Bayangkan Apakah kita sanggup melakukan itu semua. hmm... jangankan dua suami, satu suami saja sang istri sudah kepayahan.

Kasus lain juga misalnya, jika sang istri hamil dan melahirkan, bagaimana menentukan siapa ayahnya? mungkin orang berkilah, "yah test DNA toh...susah amat". yah itu kalau biaya test DNA-nya murah. Biaya untuk test DNA yang pernah diceritakan teman saya katanya diatas seratus juta rupiah. Wah...wah...jangankan untuk biaya test DNA, biaya makan aja susah....lalu apa setiap anak yang lahir harus selalu di test DNA-nya...? apakah ada juga jaminan dalam hasil test DNA tidak ada manipulasi untuk mengganti hasilnya..? Benar-benar rumah tangga yang ribet dan hancur....!

Lagipula, Adalah fitrah seorang laki-laki dilayani oleh istrinya. Walaupun sebenarnya laki-laki tidaklah dilayani dikarenakan mereka juga bertugas untuk bekerja mencari nafkah di luar rumah. Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang sudah susah payang bating tulang di luar rumah, ketika kembali ke rumah dia lagi yang harus bekerja melayani istrinya? Mencuci, memasak dan de el el lainnya... Apa ada laki-laki yang mau dimadu? Apa ada laki-laki yang bersedia kena jatah gilir? Apa ada laki-laki yang mau diperlakukan seperti itu? (sampai bingung bagaimana cara membayangkannya...). Yang ada adalah berita pembunuhan suami terhadap istrinya dikarenakan istrinya selingkuh...

Jadi bagi para aktifis gender dan orang-orang kafir yang mencoba mencari dan menggungat hukum Allah yang satu ini....sungguh teramat sangat picik. Pada hakekatnya hukum yang sudah Allah terapkan pastilah sesuai dengan fitrah manusia. Sudah terbukti khan, berpoliandri akan sangat menyiksa wanita...?

Karena itu, sebagai seorang muslimah, janganlah kita untuk mencaci, membenci dan menolak hukum Allah yang satu ini. Andai kita memang tak sanggup dipoligami tak mesti menjadikan kita membenci hukum yang telah ditetapkan oleh-Nya. Tak mesti menjadikan kita mengharamkannya. Saya pribadi salut dengan mbak Dewi Yull. Walaupun pada akhirnya dia bercerai dengan suaminya, tidak menjadikannya membenci hukum Allah ini. Itulah posisi standar pemahaman yang setidaknya harus kita miliki dalam diri kita. Dan saya lebih salut lagi kepada wanita-wanita yang mengikhlaskan suaminya menikah lagi…sungguh, kalian telah lulus dalam ujian yang mana tidak semua wanita bisa menjalaninya.
Yah…kita harus belajar menata hati dari sekarang terhadap hukum Allah tersebut…agar tidak membenci hukum Allah yang satu ini.^^

Teruntuk Wanita Yang Diuji

Disini saya tidak ingin menasehati atau "sok menasehati", karena bagi diri inipun, perkara poligami adalah hal yang sangat berat bagi saya.Rasanya sangat tidak pantas bagi saya. sekali lagi, saya hanya ingin mengurai agar saya maupun kaumku tidak membenci atau menyalahkan hukum Allah, itu saja. Karena itu, Saya hanya ingin share tentang maraknya kasus perceraian yang muncul karena poligami. Banyak wanita yang ketika suaminya menikah lagi lebih memilih bercerai daripada harus dimadu. Bercerai adalah perkara yang walaupun di bolehkan oleh Allah tapi sungguh Allah-pun sangat membencinya. Bercerai adalah jalan keluar terakhir ketika jalan rumah tangga yang kita lewati sudah buntu. Disini sekali lagi saya tidak punya kapasitas dan hak untuk menasehati. Teori saya hanya akan menjadi angin lalu Sebab pada faktanya saya belum menjalaninya. Tetapi saya ingin sedikit berbagi pengalaman dengan kisah beberapa wanita yang di uji oleh Allah dengan suami yang menikah lagi.

Sahabat saya ini, suaminya mempunyai keinginan menikah lagi padahal mereka sudah di karuniai 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Karena tak sanggup menerima kenyataan itu, akhirnya sahabat saya memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Namun Suaminya walaupun ingin menikah dengan wanita lain tapi dia tetap tidak mau bercerai dengan istrinya. Di satu sisi dia mencintai istrinya tapi disatu sisi dia juga mencintai wanita lain. Karena keinginan yang kuat untuk bercerai akhirnya suaminya dengan sangat terpaksa menceraikan sahabat saya. Namun hari-hari yang di jalani sahabat saya seorang diri dengan tanggungan anak-anak yang masih kecil terasa semakin berat. Ternyata hidup tanpa suami jauh terasa lebih berat daripada harus berbagi dengan wanita lain. Perasaan sakit ketika itu ternyata jauh lebih sakit sekarang. Pada akhirnya sahabat saya menyesali tindakan yang telah ia lakukan. Diapun berujar, “Andai saya mau belajar untuk menerima ketika itu, andai saya belajar menata hati ketika itu, andai saya mencoba menjalani terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bercerai, tidak menutup kemungkinan khan saya bisa menjalaninya? saya bodoh, kenapa begitu mudah mengikuti ego saya waktu itu. saya menyesal…sangat menyesal…” Di usianya yang sudah tidak muda lagi saya berharap kelak aka ada juga cinta lain yang akan menyapanya. Bukankah penyesalan selalu datang dari belakang?

Oleh sebeb itu berpikirlah yang jernih ketika kita memutuskan sesuatu. Sebab bisa jadi, banyak kerugian yang kita dapatkan ketika kita bercerai. Kita kehilangan suami juga kehilangan rumah di surga yang sedianya sudah disediakan Allah untuk kita. Dan jika pada akhirnya memutuskan untuk bercerai, maka bercerailah secara baik-baik agar tidak ada luka diantara keduanya walaupun itu adalah seburuk-buruknya jalan. Yakinlah bahwa Allah pasti punya jalan yang terbaik bagi kita, jalan yang membuat kita semakin dekat dengan ridho-Nya.

Pesan Bagi Para Lelaki……

Allah telah mengizinkan kepada kalian untuk menikahi lebih dari seorang wanita. Jika pada saatnya nanti kalian berkeinginan untuk berpoligami, bekalilah terlebih dahulu diri kalian dengan ilmu Islam. Sebab laki-laki yang ketika berpoligami dan tidak dapat berbuat adil (bukan termasuk perasaan. red) terhadap istri-istrinya maka laki-laki tersebut akan mendapat ancaman dari Allah dalam hadits Rasulullah :

“Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri kemudian tidak berlaku adil terhadap keduanya, maka ia kan datang pada hari kiamat dalam keadaan pincang/lumpuh. Dalam riwayat lain disebutkan, “ lalu ia condong (berat sebelah) terhadap salah satunya, maka akan datng di hari kiamat dalam keadaan pincang. (badannya miring karena cacat)”. (HR. Abu dawud dan Ad darimi)

Selain itu bersyukurlah terhadap apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian yaitu seorang istri. Saat akan menikah lagi, sebagai suami yang berlaku baik terhadap istrinya, tidak ada salahnya jika kalian menyampaikan hal tersebut kepadanya. Jangan menyembunyikannya. Karena bagi saya, itu adalah seburuk-buruk perbuatan.

Hargailah ia sebab ia adalah wanita yang menikah denganmu disaat engkau masih tak berparas, masih tak berkemampuan, masih susah-susahnya, masih bukan apa-apa. Saat ia menerimamu apa adanya. Jangan ketika engkau sudah berparas, sudah berkemampuan, sudah senang-senangnya, engkau meninggalkannya. Semoga Allah menghinakanmu di akhirat kelak jika engkau berbuat seperti itu. Lakukanlah itu, sebagai bentuk dari cinta dan pengorbanan yang telah ia lakukan untukmu…

Dan bilamana kalian takut tidak dapat berbuat adil nantinya maka Allah-pun memberikan anjuran pada surah-Nya :

“…kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniyaya (An-Nisaa :3)

Anjuran Allah sama dengan anjuran saya..^^. Memiliki satu istri-pun adalah pilihan yang lebih baik, sebab ia lebih dekat kepada tidak berbuat aniyaya....ini adalah tawaran terbaik. ^^. Berpikirlah dengan pertimbangan yang matang…dan melangkahlah dengan iman. Sebab jika salah bertindak mungkin akan menghancurkan apa yang sedari awal yang engkau bangun…bersamanya....^^

Semoga bermanfaat bagi kita semua.^^

Sumber :
“Indahnya poligami”, Nurbowo, Apiko Joko Mulyono. 2003. Pt Senayan Abadi.
Nidzam Ijtima’i Fil Islam” Taqiyuddin An-Nhabani.

Tuesday, December 21, 2010

Ketika Cintaku Bertasbih



Ketika aku mencoba menulis artikel “Ketika Cintaku Bertasbih” disaat hati sedang tidak jatuh cinta, ternyata begitu sulit.Beberapa kali aku menghapus kalimat-kalimat yang sudah kuketik, beberapa kali potongan-potongan kalimatku tak bisa kurangkai menjadi satu kalimat utuh, beberapa kali mataku harus aku kucek karena mengantuk, beberapa kali aku berhenti dan menshut-downkan laptopku untuk rehat sejenak karena otakku buntu, terasa begitu sulit untuk menjadi seorang penyair cinta ketika itu. Namun tatkala hati sedang jatuh cinta, beberapa bait-bait cinta sudah kutuangkan dalam coretan-coretan dinding kalbuku, beberapa lagu cinta sudah bersenandung riang tiada henti dari mulutku, kalimat-kalimat pujangga tertoreh lugas dalam kertas putihku, aku dapat berubah menjadi seorang penyair cinta hanya dalam waktu sekejap. Yah semua karena cinta..!

APA ITU CINTA ?

Cinta itu misteri! kenapa? Walaupun sudah ribuan bahkan jutaan buku yang membahas tentang cinta namun tak juga ada kesepakatan tentang defenisi sebenarnya dari cinta. Masing-masing punya persepsi yang berbeda-beda, tergantung dari sisi dan sudut pandang mana mereka melihat cinta....

Jika kita bertanya kepada seorang Pahlawan apa itu cinta ? maka dia akan menjawab tanah airnya..

Jika kita bertanya kepada seorang Ibu apa itu cinta? maka dia akan menjawab anaknya

Jika kita bertanya kepada seorang Julius Caesar apa itu cinta? maka Julius akan menjawab Cleopatra

Dan jika kita bertanya pada seorang Rasulullah apa itu cinta? Maka beliau akan menjawab Allah

Lalu jika aku bertanya padamu apa itu cinta? Apa jawabanmu ?

Kini dengarlah bagaimana Ibnu Hazm Al-Andalusy mendefenisikan cinta dalam bukunya “Thauq Al-Hamamah”. Menurutnya cinta adalah “ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolak naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Ia terlahir dengan penuh semangat, kasih sayang dan kegembiraan.."

Simaklah pula bagaimana Mushtafa Shadiq Ar-Rafi dalam bukunya “Wahyu Al-Qalam” mengungkapkan cinta itu...

"Begitu kulihat wajahnya untuk pertama kali, cinta itu langsung menyentuh kalbuku dengan sentuhan sihir. Kemudian saya duduk disampingnya menikmati keindahan wajahnya. Kulihat ia tertawa ringan dan keluar dari mulutnya yang merekah begitu indah, seakan ia hadir disisiku sebagai seorang penyair. Kemudian ia menebar senyum, seakan ia berkata disetiap gerak bibirnya, “lihatlah aku…lihatlah aku..."

"Adapun keadaannya pada saat itu, hampir saja ia berteriak sambil menundukkan pandangannya, “aku takut…aku takut…” Rambutnya yang berkibar-kibar mengisahkan kalbu yang tersayat bercampur rasa senang dan gembira. Ada sisa kebahagiaan yang terselip ditengah-tengah kepedihannya. Duhai sihir cinta, kau tinggalkan aku menikmati wajahnya dari kejauhan, wajah yang menjadikan dunia ini ikut menikmati tawanya. Engkau berikan kesempatan untukku menikmati senyuman manisnya. Senyuman yang paling indah di alam ini. Duhai sihir cinta, engkau menjadikan jiwaku menjadi tergila-gila padanya…"

Karena itu menurut kesimpulanku, cinta adalah perasaaan hati yang takkan pernah bisa habis diungkapkan dengan kata-kata, juga tak selamanya terwakilkan dengan perbuatan, pandangan cinta jauh melebihi pandangan mata, pendengaran cinta jauh melebihi pendengaran telinga, luasnya cinta jauh melebihi luasnya samudera di dunia ini. Selain itu pula jika kedalaman laut dapat ditebak maka kedalaman cinta tak dapat ditebak. Jika semua benda dapat diukur besarnya maka cinta tidak. Karena cinta masuk pada bilangan tak terhingga. Orang yang jatuh cinta-pun takkan pernah bisa mengukur dengan pasti seberapa besar rasa cintanya. Yang dia tau ketika jatuh cinta adalah “semua menjadi indah”…. ^^

Ibnu Hizm sudah terpedaya oleh cinta, Musthafa telah tersihir oleh cinta, akupun sudah jatuh cinta dengan cinta.Jika benar cinta sedasyat itu, aku jadi penasaran, kekuatan apa sebenarnya yang berada dibalik Cinta? Begitu maha dashyatnya sehingga sahabatku mencoret seluruh lembaran diaryku berisikan kekuatan cinta. Menurutnya, cinta itu bisa membuat yang kuat menjadi lemah begitupun sebaliknya yang lemah menjadi kuat, yang sakit menjadi sembuh dan sebaliknya yang sembuh menjadi sakit, yang baik berubah menjadi jahat dan yang jahat menjadi baik, dapat menyihir kesedihan menjadi kebahagiaan dan membalikkan kebahagiaan menjadi kesedihan. Kekuatan Cinta juga dapat menghancurkan dinding kesombongan, merapuhkan dinding ke-egoisan, meruntuhkan aturan adat istiadat, bahkan sampai bisa melepaskan hidayah seseorang.

Yang pasti di saat jatuh cinta, disaat hati tak dapat diingkari, di saat akal kehilangann jeniusnya, disaat mulut tak bisa berkata, disaat mata tak bisa berpaling, disaat raga terasa lemah, disaat jantung berdetak begitu cepatnya, saat dunia menjadi lebih indahnya…saat ketika kita jatuh cinta.

Cinta Yang Tak Bertasbih

Cinta yang tidak dilandasi atas kecintaan kepada yang menciptakan cinta dan hanya muncul karena dorongan hawa nafsu maka cinta itu tak bisa dan tak akan pernah bisa untuk bertasbih. Bagaimana mungkin cinta itu bertasbih jika dia menampikkan Dzat yang menciptakan cintanya. Dia hanya menjadikan hawa nafsu sebagai dasar pijakan cintanya. Lalu seperti apakah cinta yang tak bertasbih ?

* Jika Cinta Kenapa Harus Menggadaikan Allah ?

Akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan berita beberapa artis yang melakukan pernikahan beda agama. Bahkan ada yang rela meninggalkan (baca : menggadaikan) agamanya demi bersatu dengan sang kekasih. Sihir cinta telah membutakan mata dan hati mereka, kecintaan kepada makhluk yang begitu besar melebihi kecintaan mereka kepada Tuhannya sehingga mereka rela menggadaikan Allah, Menggadaikan Tuhan pemilik cinta abadi. Mereka rela melepaskan agama yang menjadi jaminan surga…Astagfirullah.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Imran ayat 19 :

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah islam"

Ayat ini menjelaskan kedudukan islam sebagai agama samawi yang diturunkan oleh Allah kepada manusia. Ayat ini juga menegaskan bahwa agama lain yang pernah diturunkan oleh Allah tidak diakui setelah diturunkannya Islam alias tertolak.

Allah juga memperkuat nash ini dalam surah Ali-Imran ayat 85 yang isinya :

"Siapa aja yang mencari selain Islam sebagai agama, sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Ali-Imran: 85)

Betapa Allah memberikan peringatan kepada manusia bahwa jalan kebenaran menuju Allah hanyalah Islam. Orang yang mencari dan keluar dari Islam adalah orang yang akan tidak akan mendapat jaminan keselamatan, pada akhirnya tempat kembali mereka di akhirat adalah neraka keabadian yang tak akan pernah berakhir.

Cinta yang begitu buta, seperti mencintai orang yang berbeda agama dengan kita. Saking butanya sehingga beberapa muslim rela untuk melepas hidayah dari dirinya. Padahal Allah telah memperingati laki-laki dan wanita muslim bagaimana seharusnya mencintai makhluk, dalam surahnya :

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah:221).


Hmm...wahai saudaraku, orang kafir itu….walaupun tampan dan cantiknya seindah bintang di langit, walaupun hartanya sebanyak bintang di langit, walaupun kebaikkanya menggapai bintang di langit, walaupun rayuannya setinggi bintang di langit, tetap tidak akan pernah bisa menjadi bintang bercahaya yang menerangi malammu, tetap tak akan pernah bisa menjadi langit yang luas untuk menaungi bintang-bintang hatimu, apalagi menandingi Sang Pencipta langit.
Tapi orang muslim itu…walaupun tampan dan cantiknya tak seindah bintang di langit, walaupun hartanya tak sebanyak bintang di langit, walaupun kebaikkanya tak menggapai bintang di langit, walaupun rayuannya tak setinggi bintang di langit, Tapi kelak dia akan bersinar terang jauh melebihi bintang yang akan setia menerangi malammu, kelak akan menjadi langit yang luas untuk menaungi bintang-bintang hatimu, kelak akan menemanimu melihat wajah Sang Pencipta Langit di surga.

Ingatlah bahwa penyesalan itu selalu datang dari belakang. Cinta boleh tapi ketika cinta itu sudah berkhianat pada yang menciptakan cinta maka kita harus melepaskan cinta itu. Cinta wajar asal dia tunduk dan patuh terhadap hukum syara (hukum yang berasal dari Sang Pencipta). Carilah yang seiman agar bersama-sama meraih cinta yang hakiki. Ingat…jika cinta janganlah berkhianat…!

So,,,…Maukah kita menukar Kebahgiaan kehidupan akhirat yang kekal dengan kebahagiaan kehidupan dunia yang sedikit dan bersifat sementara...?

* Jika Cinta Kenapa Harus Hamil Di Luar Nikah

Aku ingin bercerita sedikit. Dulu sewaktu sedang mencari-cari artikel di internet, tanpa sengaja aku menemukan sebuah blog remaja, aku lupa apa nama blognya. Judul artikelnya yang menarik membuat aku tertarik untuk membacanya. Judulnya “TIPS JITU MENGAJAK ML PACAR”. Sebuah artikel yang ditujukkan kepada seorang lelaki untuk mengajak ML pacar wanitanya.

Oh iya, Awalnya aku bingung apa sih ML itu. Setelah berusaha nanya sana sini aku baru tau kalau arti ML itu adalah making Love alias bercinta. Sebagai wanita aku penasaran. Akupun mulai membacanya. Ada sekitaran 15 tips. Tips yang pertama kalau tidak salah adalah sang pria harus mengeluarkan rayuan gombal dengan mengatakan sang wanita cantik dan menarik. Di akhir tipsnya mengatakan, jika semua tips tidak berhasil membuat sang wanita terpedaya untuk ML maka sang lelaki harus mengangkat jurus mautnya. Yaitu :

"katakan padanya bahwa anda akan bertangung jawab untuk menikahinya walaupun itu “cuma tipuan”, dijamin pacar anda akan bersedia ML dengan Anda”. Dan memang ternyata tips ini emang ampuh. Banyak wanita yang terpedaya dengan kalimat yang terakhir ini sehingga mau-mau saja ketika di ajak berzina..ck…ck…!

Maknanya adalah bahwa cinta yang suci itu takkan membuat kamu hamil di luar nikah. Karena yang membuatmu hamil diluar nikah adalah hawa nafsu.. Yah cinta seperti ini adalah manifesto dari “Karena Cinta Maka Pacaran”. Padahal jika memang cinta maka dia akan menjaga kita dari berbuat dosa, tidak mengikat kita dengan hubungan coba-coba (baca:pacaran) kapan manis jalan, kapan pahit buang…sangat jauh berbeda dengan cinta suci yang dengan ketulusannya akan mengikat kita dengan ikatan suci pernikahan.

Yup...sepakat bahwa hawa nafsu telah membuat cinta kehilangan kesucian, kehilangan keagungan, kehilangan kasih sayang dan kelembutannya. Inilah Cinta yang tak pernah bisa untuk bertasbih. Jauhilah cinta yang berjenis seperti ini…!


Cinta Yang Bertasbih

Lalu bagaimana dengan cinta yang bertasbih, seperti apa jenisnya ?

Yup...…masih ingat film “Ketika Cinta Bertasbih?” apa sebenarnya yang membuat kedua insan Azzam dan Anna saling mencintai? Benar…Azzam mencintai Anna karena Anna adalah seorang wanita sholehah yang menjaga pandangannya, menjaga auratnya, menjaga pergaulannya, berakhlatul karimah dan pandai dalam ilmu agama. Azzam sudah mencintai Anna walaupun hanya mendengar pribadi Anna dari seorang sopir tanpa melihat wajah Anna. Azzam mencintai Anna karena Allah. Sama seperti azzam, Anna-pun mencintai Azzam karena Allah. Sebab Azzam adalah seorang lelaki yang baik agamanya, sholeh pribadinya, menjaga pandangan dan pergaulannya dan punya kepandaian ilmu islam.


Sedikit bercerita, teman aku seorang akhwat pernah mengatakan bahwa,bila seorang ikhwan melihat seorang wanita yang memakai pakaian yang seksi dan ketat berjalan di hadapan mereka, hati mereka mengeras dan mengejek. Namun ketika seorang akhwat yang berjalan dihadapan mereka maka hati mereka akan melembut dan memuji (bertasbih mengucap subhanaullah) malah katanya hati si ikhwan tersebut sampai bergetar. “Andai Semakin panjang kerudung akhwatnya, maka semakin bertambah pula getaran hati ikhwan tersebut”. Ah masa…? Benarkah itu wahai para ikhwan? ^^

Jadi cinta yang bertasbih adalah cinta yang lebih dulu mencintai kepada yang menciptakan cinta. Cinta yang menempatkan Allah pada posisi teratas, kemudian Rasulullah pada posisi yang kedua.Kemudian barulah memberi posisi cinta pada makhluk. Cinta Allah akan menaungi cinta yang lainnya sehinggga cinta itu akan selalu terjaga kehormatan dan kesuciannya.

Karena itu belajarlah menjadikan cintamu bertasbih seperti cinta Khadijah pada Muhammad. Ketika Khadijah yang akhirnya jatuh cinta kepada kepribadian Muhammad yang jujur dan beraklak mulia sehingga memutuskan untuk melamarnya. Menemaninya dalam perjuanggan menegakkan agama Allah dalam kesusahan dan kepayahan sampai ajal menjemputnya. Subhanaullah...

Belajarlah pula dari Fatimah yang diam-diam mencintai Ali dalam hatinya semenjak ia kecil. Cintanya tak membuatnya buta, tidak membuatnya kehilangan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang muslimah dihadapan Ali. Kepandaiannya menjaga perasaannya membuat Ali tak menduga akan dicintai oleh Fatimah, wanita penghuni surga. Disaat dan waktu yang tepat, Allah pun mengikat mereka dengan ikatan suci perkawinan.

Andai cinta karena Allah…Maka segala kekurangan kita akan menjadi kelebihan baginya, andai cinta karena Allah maka tampan atau cantik tak berlaku lagi, andai cinta karena Allah maka sedikit harta bukanlah kekurangan, banyaknya harta bukanlah keberadaan, andai cinta karena Allah maka hanya kepada Allah cinta kita tasbihkan…!

Kitapun juga mesti tau bahwa ada konsekuensi ketika mencintai manusia yang notabene adalah makhluk. Tak ada Makhluk di dunia ini yang sempurna, semua punya kekurangan dan kelebihan. Mencintai makhluk pasti suatu ketika akan sakit , pasti suatu ketika akan terluka, pasti suatu ketika akan kecewa, pasti suatu ketika akan merana….

Jadilah orang-orang yang berada di taman-taman cinta yang ketika jatuh cinta maka cintanya akan bertasbih kepada sang pemilik cinta…Uhibbukifillah………^^

"Di sekitar arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada hamba-hamba Allah yang pakaiannya dari cahaya dan wajah mereka bercahaya. Sehingga para nabi dan syuhada kagum terhadap kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat berkata: “ya Rasulullah, siapa mereka dan bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka”. Rasulullah SAW bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling memberi karena Allah, saling bersahabat karena Allah, saling berkunjung karena Allah dan saling memaafkhan karena Allah” (Hadits Qudsi).

Subhanaullah…segala puji bagi Allah yang menciptakan cinta itu….Ya allah semoga kami bisa menjadi bagian dari hamba-hambamu tersebut. Amin


Asiah Muslimah

Saturday, September 11, 2010

"CINTA UNTUK CINTA"



Setiap hari Cinta selalu datang menyapaku...
Diawal shubuh sebelum sang surya merajukku...
Menanyakan khabarku hari ini...
Apakah aku sedang riang...tertawa...gembira...bahagia...
Ataukah aku sedang sedih...gundah...kecewa...terluka...
Aku jelas tau...
Tanpa hadir-pun Cinta pasti mengetahui akan keadaanku
Namun Cinta sengaja datang untuk menemuiku...
Karena Cinta tau...
Kehadirannya Akan menghangatkanku...


Aku teringat kembali pertemuanku dengan Cinta...
Pertemuan yang tak pernah kuduga...
Pertemuan yang merubah diriku...
Pertemuan yang merubah takdirku...
Ternyata...
Cinta sengaja merancangnya untukku...


Tujuh tahun silam ketika aku sibuk mengejar cintaku...
Cinta malah menyalip cinta yang kukejar...
Sebelum cintaku menyatakan cinta padaku...
Cinta lebih dulu menyatakan cintanya kepadaku...
Tapi aku menolak Cinta dan memilih cintaku...


Saat itu...
Cinta tak marah atau kecewa...
Cinta malah semakin menunjukkan kesungguhan cintanya...
Cinta mencegah aku bertemu dengan cintaku...
Cinta terus menjagaku...
Setiap saat...setiap waktu...


Aku tau Cinta terus mengikutiku...
Kearah manapun aku melangkah...
Kadang aku berpura-pura lalai dan lupa pada Cinta...
Berpura-pura tak melihat Cinta...
Tapi cinta tak pernah sedikitpun melalaikanku dan melupakanku...
Cinta tak sedetikpun memalingkan pandangannya dariku...


Malam itu...
Ketika berduaan denganku...
Cinta terdiam...
Saat melihat tetesan-tetesan air jatuh di kedua mata senduku...
Mengalir membasahi pipiku, bertemu di belahan daguku...
Hingga akhirnya bermuara di kedua tanganku yang menengadah pada Cinta...


Akhirnya...
Aku menumpahkan semua isi hatiku pada Cinta...
Cinta dengan tulus mendengarkan keluh kesahku...
Cinta Tersenyum...
Kemudian mendekapku erat...
Dekapannya mampu menghancurkan atmosfir hatiku yang kala itu sedang gerimis...
Kini aku menangis dalam dekapan Cinta...
Semalaman...


Cinta kemudian menggenggam tanganku...
Memandang wajahku dengan kasih sayang...
Cinta lalu membisikkan kalimat mesra di telingaku...


"Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal..
Maka Aku akan mendekatinya sehasta...
Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sehasta...
Maka Aku akan mendekatinya sedepa...
Dan apabila hamba-Ku datang kepada-Ku dengan berjalan....
Maka Aku akan datang padanya dengan berlari..."


Malam itu juga...
Cinta menyatakan kembali cintanya kepadaku...
Kali ini aku tak menolak...
Karena sebenarnya...akulah yang tak bisa hidup tanpa Cinta...
Bukan Cinta...
Akulah yang akan jauh tersesat dalam kegelapan bila Cinta tak menuntunku...
Bukan Cinta...
Kini aku sadar...
Aku sudah jatuh cinta pada Cinta...


Ah...Cinta...
Tetap kan mengampuni...
Walau makhluk-Nya bermaksiat kepada-Nya...
Tetap kan menyayangi...
Walau makhluk-Nya melupakan-Nya...
Tetap kan mencinta...
Walau makhluk-Nya mengkhianati-Nya...


Cinta....
Terimakasih karena tidak melepasku...
Terimakasih karena telah menuntunku ke jalan-Mu...
Terimakasih karena telah mengingatkan aku akan khilafku...
Terimakasih karena telah memanggilku dengan panggilan yang terindah...
"hamba-Ku"
Panggilan yang telah mampu mengalirkan air mataku...menentramkan hatiku...
Panggilan yang paling dirindui oleh makhluk penduduk bumi...


Ya...Rabb-ku...
Ya..Cinta-ku...
Izinkan Aku mencintaimu...
Sampai raga ini lelap dalam tidur panjangnya....

Friday, August 27, 2010

BENARKAH DALAM Al-QURAN TUHAN ITU ADA TIGA ???



Untuk postingan kali ini, saya sengaja mengcopy paste sebuah catatan dari klub "Islam Terbukti Benar". dengan judul "Makna Kata 'Kami' Dalam Al-Quran". Demi perjuangan pedangkalan Akidah yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir kepada muslim-muslim yang buta akan agamanya sendiri atau yang masih dangkal pemahaman islamnya, yang begitu mudah tergadai imannya hanya karena tidak mengerti kalimat "kami" dalam Al-Quran sehingga menganggap Tuhan itu banyak dan juga mudah tergadai imannya dengan 1 Dos bungkus mie. Sebarkan catatan ini di Blog kita semua sebagai tanda perjuangan kita melawan pemurtadan yang terjadi bagi saudara-saudara kita. Berikut kutipannya.... 

MAKNA KATA "KAMI" DALAM QUR'AN

السلام عليكم . بِسْــــمِ ï·²ِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو Ù„ الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Seringkali, orang kufar mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya: Mengapa Qur'an sering guna kata KAMI untuk ALLAH? Bukankah kami itu banyak? Apakah itu bermakna Qur'an pun mengakui "Tuhan" bapa, "Tuhan" anak & "Tuhan" roh?

^_^ ... Bagi yang belum tahu, mari kita sama-sama berbagi ilmu:

Jawaban 1: Kata KAMI sebagai penghormatan

Bahasa Arab ialah bahasa paling sukar didunia. Sedang bahasa paling sukar nomor 2 ialah Bahasa China. Hal ini disebabkan kerana dalam 1 kata, bahasa arab memiliki banyak makna.

Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah boleh bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain boleh bermakna perempuan.

Dalam bahasa Arab, dhamir 'NAHNU' ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu 'NAHWU', maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan sejenis ini. Pertanyaan diatas muncul karena ketidak tahuan meraka, namun banyak pulak para kufar yg berusaha untuk membodohi umat Islam yang tak faham dengan bahasa arab. Pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata melawan umat Islam yang kurang ilmunya.

Tapi bagi mereka yang faham bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan makna dan kandungan seni serta balaghah dan fashohahnya, Pertanyaan ini terlihat lucu dan jenaka.

Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang setengah-setengah?

JIKA MEMANG "KAMI" DALAM QUR'AN DIERTIKAN SEBAGAI LEBIH DARI 1, LALU MENGAPA ORANG ARAB TIDAK MENYEMBAH ALLAH LEBIH DARI 1? MENGAPA TETAP 1 ALLAH SAHAJA? TENTU KARENA MEREKA PAHAM TATA BAHASA MEREKA SENDIRI.

Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.

Selain kata 'Nahnu", ada juga kata 'antum' yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna 'antum' adalah kalian (jamak).

Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan 'antum', maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan 'anta'.

Kata 'Nahnu' tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata "Kami" tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang berpidato sambutan berkata,"Kami merasa berterimakasih sekali . . . "

Padahal orang yang berpidato Cuma sendiri dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang "Kami". Lalu apakah kalimat itu bermakna jika orang yang berpidato sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?

Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Kalau kawan diskusi kita yang christian itu tak paham rasa bahasa ini, harap maklum saja, karena alkitab bible mereka memang telah kehilangan rasa bahasa. Bahkan bukan hanya kehilangan rasa bahasa, tapi pun kehilangan kesucian sebuah kitab suci.

Sebagai contoh dari rasa bahasa Alkitab Kristen yang sudah "Hancur Lebur" dapat dilihat dalam postingan ini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=144868932209673&comments

Seperti yg sudah diketahui banyak orang, alkitab christian merupakan terjemahan dari terjemahan yang telah diterjemahkan dari terjemahan sebelumnya.

Ada sekian ribu versi bible yang antara satu dan lainnya bukan sekedar tidak sama tapi juga bertolak belakang. Jadi wajar bila alkitab christian mereka itu tidak punya balaghoh, logika, rasa dan gaya bahasa. Dia adalah tulisan karya manusia yang kering dari nilai sakral.
Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata 'ummat'.

Biasanya kita memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.

QS.16 An-Nahl :120 Sesungguhnya Ibrahim adalah "UMMATAN" yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan.

Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular [anâ], dan ada kata ganti pertama plural [nahnu]. Sama dengan tata bahasa lainnya. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular.

Dalam gramer Arab [nahwu-sharaf], hal demikian ini disebut "al-Mutakallim al-Mu'adzdzim li Nafsih-i", kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.

Permasalahan menjadi membingungkan setelah al-Quran yang berbahasa Arab, dengan kekhasan gramernya, diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Indonesia, yang tak mengenal "al-Mutakallim al-Mu'adzdzim li Nafsih-i" tersebut

Jawaban ke 2: Ada peran makhluk lain atas kehendak ALLAH
Contoh penggunaan kata KAMI dalam Qur'an:Qs. 15 Hijr: 66. Dan telah Kami wahyukan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.

"Kami wahyukan..." Maka disini berarti ada peran makhluk lain yaitu Malaikat Jibril sebagai pembawa atas perintah Allah.

Contoh penggunaan kata AKU dalam Qur'an:

11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
15. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.
16. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa".Qs.20 Thaaha:11-16

Pada ayat-ayat di atas, kata AKU digunakan karena Allah sendiri berfirman langsung kepada Nabi Musa AS tanpa perantara Malaikat Jibril.... ^_^

Contoh penggunaan kata KAMI dan AKU yang bersamaan dalam Qur'an:
Qs.21 Anbiyaa: 25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".

Kata KAMI digunakan saat Allah mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan sebagai perintah menyembah Allah saja.

Qs.23 Mu'minuun: 27. Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiapnya, dan keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Kata KAMI digunakan saat mewahyukan kepada Nabi Nuh AS dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan saat tidak ada malaikat.

Contoh peran makhluk lain dalam kata KAMI ialah peran sepasang suami istri dalam peran penciptaan manusia.

Jawaban ke 3: Kata KAMI pun digunakan dalam kitab terdahulu

Bahasa Arab sedikit banyak memiliki persamaan dengan saudara 1 rumpunnya yaitu Bani Israil. Ini saya maksudkan dalam kitab "Taurat" masa sekarang pun, dalam bahasa aslina kata yang digunakan ialah KAMI, tapi orang yahudi tidak pernah menganggap Tuhan itu lebih dari 1.

Sebagai Contoh ialah dalam Alkitab Kristen:
Kejadian 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (BAHASA SEKARANG)Padahal dalam bahasa ibrani aslinya ialah menggunakan kata KAMI.... Tapi yahudi tidak ada yang menyembah Tuhan 2 tapi 1 atau Tuhan 3 tapi 1 atau Tuhan 4 tapi 1....

emoga ini menjadi renungan bagi semua terutama bagi mereka yang murtad hanya karena dunia.

25 Juta Muslim menjadi Murtad Kafir antara tahun 1950-2004 berdasar 3 sumber resmi: Pemerintah Demokrasi, Pihak Islam & Pihak Kristen dengan sedikit perbedaan jumlah...

Ini baru yang tercatat, bagaimana dengan yang tidak tercatat?
Berapa jumlah murtadin antara 2005-2010?
Berapa jumlah murtadin sebelum tahun 1950?
Berapa jumlah murtadin di negara lain? Afrika, Malaysia, lainnya?
Belum termasuk yang terpengaruh Liberal berkata semua agama sama?
Berapa jumlah Islam yg setengah hati terpengaruh media massa?
Berapa jumlah muslim yang tak yakin dengan Islam?
Berapa Jumlah "Islam Keturunan"?
Sampai kapan kita harus toleransi?
Hak kita untuk membela diri & keturunan kita!
Hidupkan KEWAJIBAN dakwah setiap individu muslim...
Sampaikan dengan hikmah & cara yang baik....

Tidak benar semua agama sama, hanya 1 agama benar! Qur'an menulis:Siapa cari agama selain Islam,maka sekali-kali tidak diterima dari-nya, & dia di akhirat termasuk orang2 rugi (QS.3 Ali 'Imran:85).

Tidak sempurna iman seorang muslim sampai dia menyayangi muslim lain seperti dirinya sendiri. Dan salah satu wujud sayang itu ialah amar ma'ruf nahi munkar. Kemunkaran yang meraja lela saat ini ialah "Semua Agama Sama". Mari kita buktikan semua agama tidak sama, hanya Islam saja satu-satunya agama yang TERBUKTI benar!

Mukjizat Qur'an mencakup dari yang sangat sederhana, sampai yang penuh dengan kerumitan dari segala bidang matematika, astronomi, biologi, geografi, sastra, oceanografi dan segalanya. Karena Qur'an diturunkan kepada semua manusia sepanjang zaman. Bahasanya mencakup dari yang sangat sederhana, sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu bahasa & kesusasteraan yang baik.

Dengan demikian pesan yang dibawa bisa dicapai oleh setiap orang tanpa melihat tingkat pendidikannya. Sama halnya dengan mukjizat Qur'an, fenonema yang sungguh teramat sangat luar biasa ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu: BUKTI SEDERHANA dan BUKTI RUMIT

Bagi orang awam saja, keindahan bahasa & hikmah serta nasihat jiwa didalamnya sudah mampu membuktikan kemuliaan Qur'an bagi orang yang mau jujur menggunakan hati kecilnya. Diceritakan dalam sebuah kisah jika Abu Jahal pun menangis mendengar Rasulullah Muhammad SAW membaca Qur'an, namun sayang, Abu Jahal tidak mau mengakui Mukjizat Qur'an yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad SAW.

Info Islam Terbukti Benar dapat di klik di alamat berikut ini :

Saturday, August 7, 2010

"JILBAB PERTAMAKU"



Hmm....aku yakin kita semua punya kisah yang seru dan mendebarkan saat kita pertama kali memakai kerudung dan jilbab. Dan tulisanku kali ini adalah kisahku yang kubingkai dalam sebuah cerita. Sebuah kisah dimana aku pertama kalinya menutup helai-helai rambutnya dengan "Kerudung" dan membalut tubuhku dengan "Jilbab". Kisah ini sederhana, malah terkesan biasa saja dan tidak dapat dibandingkan dengan kisah teman-teman seperjuanganku yang sampai harus bertaruh nyawa. Walaupun terlihat biasa, tapi bagiku ini ujian yang berat dan cukup melelahkan. Yah..sesuai dengan tingkat keimananku yang masih lemah dan rapuh. Aku ingin mengisahkan pengalaman pertamaku tersebut ketika mengenakan kerudung dan jilbab pada kalian dengan tujuan untuk membedah otak, mengusik ketenangan hati, mengganggu jiwa, dan membisikkan di telinga kalian bahwa "Betapa bahagianya menjadi seorang Muslimah".

***

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Aku bingung ingin mengatakan keluargaku termasuk keluarga yang religius atau tidak. Dibilang religius, pemahaman agama orang tuaku kurang, buktinya kami tak pernah diajarkan tentang aurat, dibolehkan pacaran tapi dilarang berzina. Dibilang tidak religius juga religius karena ayah dan ibu termasuk orang yang rajin sholat. Mengajarkan kami mengaji dan memberitahukan pada kami mana yang baik dan buruk. Mungkin seperti keluarga muslim pada umumnya.

Aku sendiri mengenal islam dari mata pelajaran agama yang kudapat dari sekolah. Di sekolah aku diajarkan bahwa islam itu terdiri atas sholat, zakat, puasa, dan naik haji bagi yang mampu. Pelajaran agama tak pernah keluar dari topik tersebut mulai dari tingkat SD sampai SMU. Karena itu aku berpikir Islam itu  yah sholat, ya zakat, ya puasa dan naik haji titik. Jika kita sudah melaksanakan itu semua maka lengkaplah kita sebagai seorang muslim. Kukira kita semua berpikiran hal yang sama bukan? secara gitu lho, 12 tahun hanya berputar-putar disitu saja, tak pernah sedikitpun menyentuh topik yang lain. Ternyata ilmu Islam itu sedikit sekali.

Di zamanku, (kesannya biar gimana gitu..) sewaktu aku di bangku SMU, wanita yang menutup aurat masih sedikit jumlahnya. Mungkin diantara seribu siswi, yang menutup aurat hanya sekitar lima orang. Itupun hanya menutup biasa, jauh dari cara penutupan yang diperintahkan menurut syariat. Gak kayak sekarang, menutup aurat udah jadi trendseter walaupun nutupnya asal-asalan alias ngepaz abiz...

Dibangku SMU, aku masih culun-culun dan lugu-lugunya. Ikut trend, gak mau dibilang ketinggalan model. Menyukai baju yang ketat agar terlihat seksi, tak lupa celana pendek yang tentu dapat memperlihatkan jenjang kakiku. Jangan salahkan aku! Aku wanita, sudah menjadi naluri wanita ingin terlihat seksi, menggoda dan mempesona, serta menyukai pujian dari kaum adam. (aduh..buka kartu deh). Dengan gaya pakaian seperti itu, tak ada secuilpun rasa malu walaupun mata-mata kaum adam udah kenyang menelan auratku. Biasa saja, malah bangga dan senang jika ada yang memuji. Namun, aku bersyukur pada diri ini, walaupun saat itu aku akui tidak menutup aurat secara sempurna tapi aku masih menjaga pergaulanku dan diriku. Aku menjaga diriku dari yang namanya aktivitas pacaran. Mungkin karena saat SMP, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana teman kelasku begitu mudah dipeluk dan disentuh pacarnya. Kadang juga ciuman di pipi. Entah kenapa walaupun saat itu aku belum punya pemahaman islam, aku merasa sayang dan rugi jika tubuhku disentuh oleh laki-laki yang cuma berstatus pacar. Aduh betapa murahnya aku jika seperti itu, pikirku. Karena itu prinsipku, "Aku adalah boneka dari india yang boleh dipandang tapi tak  boleh disentuh. ( Aurat udah diobral gitu tapi masih sok jual mahal. hi..hi...lucu juga yah..^^ ).

Saat kelas 2 SMU, aku melihat teman kelasku memakai kerudung. Saat itu terbesit juga pertanyaan dalam hati ini, kenapa dia harus menutup rambutnya padahal rambutnya indah seperti mayang terurai? Siapa yang bisa menjawab pertanyaanku. Ya..akhirnya pikiranku tertuju pada guru agamaku yang jebolan Universitas yang melahirkan sarjana-sarjana agama yang pandai. Kala itu, guru agama dianggap orang yang paling ahli dalam ilmu agama, pastinya apapun yang keluar dari mulut mereka kami anggap benar. Pas mata pelajaran agama, akupun bertanya pada guru agamaku.
"Bu mana saja yang termasuk aurat wanita? Dan hukum menutup aurat bagi wanita apa bu?" Saat itu aku serius bertanya, sebab karena rasa penasaran, aku juga ingin tau alasan apa sehingga para wanita itu rela menyiksa dirinya memakai kain untuk menutup rambutnya. Serta ingin tau apakah aku berdosa atau tidak.
Ibu guru agamaku terlihat kaget, sebentar kemudian ia menjawab :
"menutup aurat bagi wanita itu tidak wajib kok nak". Ucapnya kemudian tersenyum.
"tidak wajib...? Tapi kenapa mereka pakai kerudung bu?" Aku merasa tambah tidak mengerti.
"begini, memang ada ayat-ayat dalam al-quran yang memerintahkan wanita untuk menutup auratnya, namun perintah tersebut hanya diwajibkan bagi wanita-wanita Arab saja, bukan wanita-wanita Indonesia atau wanita-wanita di negara lain." Ujarnya menjelaskan.
"kenapa begitu bu? Kok cuman wanita Arab?, apa bedanya kami wanita-wanita Indonesia dengan wanita-wanita Arab? Bukannya sama-sama wanita?" Aku semakin penasaran. ( Aku jadi ingat waktu nonton film KCB. Ketika Azzam menjawab pertanyaan tentang kecantikan wanita-wanita Mesir. "Kalau tiga wanita Mesir yang jalan, itu berarti ada enam orang yang cantik". Kok bisa?, "karena bayangannya juga cantik". Hi..hi...ini cukup memberitahukan kepada kita bahwa wanita-wanita Arab terkenal karena kecantikannya. "Kalau lima wanita Indonesia yang jalan, hanya satu yang cantik....wets...T_T ).

Akhirnya ibu guru agamaku-pun berkata,
"karena....( sebelumnya afwan bagi kaum adam )...nafsu laki-laki Arab sana tinggi-tinggi, mereka tidak bisa melihat aurat wanita sedikit saja. Mereka kalau melihat wajah, rambut atau betis saja, nafsu mereka sudah naik. Makanya kasus pemerkosaan disana tinggi. Sebab itulah wanita-wanita Arab wajib untuk menutup aurat termasuk wajah mereka. Beda sama laki-laki Indonesia. Nafsu laki-laki Indonesia tidak tinggi-tinggi. Tidak cepat tergoda kalau hanya lihat wajah, rambut atau betis. Jadi kita wanita Indonesia tidak wajib menutup aurat".  ( nah lo, kenapa senyum-seyum...)

Saat mendengar hal itu, teman-teman cowok pada tepuk tangan karena kegirangan, sembari mengangguk-ngangguk tanda setuju. Tak lupa mengaminkannya pula. ( huh...apa benar begitu...?)

Kami semua wanita yang berada di dalam kelas mengangguk paham. Ternyata bedanya hanya masalah "nafsu " saja. Saya mengaminkan hal ini karena saya sering mendengar di Arab sana banyak kasus pemerkosaan yang terjadi. Toh, belakangan kemudian muncul berita di TV, nenek-nenek umur 80 tahun diperkosa oleh pemuda tanggung berkali-kali...dan beritanya bukan hanya sekali. Idih...apa ini yang katanya nafsu laki-laki Indonesia tidak tinggi-tinggi? Mendingan laki-laki Arab, wajar kalau lihat yang bening-bening jadi nafsuan, ini nenek-nenek  yang udah kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit masih nafsu juga? saraf benar tuh orang.

Tapi alasan yang dikemukakan ibu guru agamaku saat itu begitu kupercaya dan mengena di akalku. Aku begitu yakin karena toh guru agamaku sendiri tak menutup auratnya. Rambutnya hanya ditutupi kain penutup kepala dengan jambul yang terlihat bagian depannya. Bajunya pun memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, dengan rok yang panjang namun terbelah di bagian belakangnya.
"jadi tidak berdosa khan bu"? Aku mengulangi pertanyaanku untuk memastikan.
"iya..tidak berdosa" jawabnya dengan tetap tersenyum.
"Alhamdulillah, syukur kalau begitu bu,  karena aku pikir selama ini aku telah berdosa".
Jujur saat  itu aku girang, karena ternyata aku tak berdosa. Semenjak hari itu, aku semakin PEDE dengan pakaian seksiku. Akupun tak pernah lagi bertanya dan mencari tau apakah jawaban ibu guruku benar atau salah.

Sampai akhirnya aku lulus sekolah dan memasuki dunia kampus. Di dunia kampus inilah aku ingin memanfaatkan masa-masa mudaku. Aku terpengaruh dengan slogan yang sering diucapkan teman-temanku. "Karena hidup hanya sekali, jadi manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin". Aku yang awalnya tak pernah mengenal  bagaimana rasanya berpacaran akhirnya memutuskan untuk mencari pacar. Sayang khan masa masa-masa ini berlalu begitu saja?

Saat kuliah ada beberapa teman-teman cowok dan senoir yang sudah memberikan sinyal, namun gak ada yang berani dan sempat untuk menyatakan cinta. Mereka hanya menunjukkan lewat sikap. Mungkin saat itu aku masih maba, lagipula aku masih pilih-pilih untuk jadi pcar pertamaku. Selama beberapa bulan, aku berkelana dalam pencarian cinta. (pejuang cinta.red).

Sampai suatu hari, dosenku pada hari itu tidak datang mengajar. Aku ingin balik ke rumah, tapi tanggung karena dalam selang waktu dua jam lagi, mata kuliah yang lain akan masuk. Aku bingung mau kemana. Tapi saat itu ada dorongan dalam hatiku untuk beristirahat di masjid kampus. Akhirnya aku memutuskan untuk kesana. Saat aku sedang duduk melamun sendiri, tiba-tiba datang seorang akhwat dan kemudian duduk disampingku. Sepertinya ia juga datang beristirahat disini. Kamipun ngobrol tentang islam. Pada akhirnya ia mengajakku untuk ikut kajian (belajar islam). Tanpa pikir panjang aku menerima begitu saja. Aku penasaran dengan pemahaman islamnya, terlebih melihat gaya pakaiannya yang sopan dan agak sedikit "beda".  Aku juga hanya berniat untuk sekedar mengetahui islam itu seperti apa, tak ada sedikitpun niat untuk berubah. Oh iya..aku juga ingin menguji diriku, bisa insaf atau tidak..? karena aku tau, diriku adalah orang yang keras kepala dan tidak mudah untuk dipengaruhi.

Akhirnya aku ikut kajian islam. Dari kajian islam itulah aku baru tau ternyata ilmu islam itu luasssss buanget, gak ada habisnya. Aku baru tau kalo ternyata islam itu bukan hanya agama yang berbicara seputar ibadah mahdo semata (sholat CS). Islam itu agama yang kaffah, yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari sistem ekonomi, sosial, pergaulan bahkan sampai urusan politik yang dibilang haram dikaitkan dengan agama diatur pula oleh islam. Yang lebih mencengangkan lagi saat aku tau bahwa ternyata Islam itu pernah berjaya selama  tiga setengah abad (350 tahun) dengan sebuah negara yang menerapkan aturan Allah yang disebut Daulah Khilafah Islamiyah. Tambah mencengangkan lagi saat aku diberitahu bahwa ternyata yang namanya seorang wanita muslim mempunyai kewajiban untuk menutup auratnya dengan "kerudung" dan "jilbab" ketika ia sudah baligh. Itulah dua syarat pakaian taqwa yang membedakan wanita-wanita muslim dengan wanita-wanita kafir. Iseng-iseng aku menghitung berapa tahun aku berdosa karena tak menutup auratku semenjak aku baligh. Astagfirullah..waktu yang cukup lama...sangat lama. (Waktu yang pada akhirnya aku sesali sepanjang hidupku setelah aku berubah T_T).

Musrifahku (pengajar) menjelaskan tentang aurat wnita. Dia berkata, menutup aurat itu bukan hanya sekedar menutupnya begitu saja. Tapi menutup yang harus sesuai dengan perintah syariat agar amalan menutup aurat kita tidaklah sia-sia. Cara penutupan aurat yang sesuai dengan perintah Allah dapat teman-teman baca (di alamat link ini :


"jadi selama ini aku berdosa kak? Tapi kata ibu guru agamaku yang jebolan  sarjana agama  itu...? Terus terang aku kaget juga, tapi saat itu hatiku masih keras. Penjelasan tentang auratnya itu hanya masuk di telinga kananku dan keluar di telinga kiriku. Aku berpikir, jika aku memakai kerudung gak kebayang panasnya bukan main. Jilbab apalagi..aduh ibu-ibu banget deh...!. Pakaianku yang modis dan mahal mau dibuang..?gak bisa dibonceng gratis pulang dari kampus, gak bisa ngumpul-ngumpul bareng teman-teman, apalagi rata-rata teman-temanku 95% adalah cowok karena aku kuliah di fakultas yang identik dengan laki-laki, apa kata orang tuaku yang tau betapa seksinya aku...lama-lama mereka bisa jantungan. Keluargaku...yang masih lekat dengan adat...tetanggaku yang terpengaruh dengan isu-isu bahwa orang-orang yang belajar islam pasti jadi teroris, gak boleh pacaran...segala sesuatu menjadi terbatas...sementara aku suka dengan kebebasan maklum anak tomboy...aku nggak sanggup meninggalkan duniaku yang seperti sekarang ini....hatiku berat. "Kalau aku berubah kak, dunia pasti akan terbalik". Itulah selalu kalimat yang sering kukatakan pada musrifahku, yang sebenarnya ingin aku gambarkan bahwa hal itu tidak mungkin dan itu takkan pernah terjadi. Catet...T_T

Kajian Islam jalan, tapi dosa juga jalan. Pergaulanku semakin luwes, aku masih berharap ada cinta yang menyapa. Sebab sinyal-sinyal cintaku semakin tinggi. Aku masih saja berharap untuk mendapatkan pacar tapi yah gitu, cuma sinyalnya aja yang tinggi tapi koneksinya belum juga nyambung. Rasa malasku untuk pergi kajian sudah memuncak, sebab aku merasa bahwa semakin aku tau hukumnya, semakin aku tak tenang. Tapi aku juga merasa sayang untuk berhenti karena bagaimanapun juga aku harus tau tentang islam dan inilah satu-satunya hal yang bisa menjadi pagar bagiku dalam pergaulanku. Walau hatiku semakin malas dan tak ikhlas, tapi akal dan pikiranku memaksa kaki-ku untuk terus melangkah setiap waktu kajian itu tiba. Walau harus bangun pagi, hujan deras sekalipun aku tetap pergi. Sempat juga menerobos banjir yang sampai dilutut demi pergi kajian islam. Aneh memang...berjalan tanpa hati dan pikiran yang selalu bertentangan. Keduanya kini berperang dalam diriku...aku bingung tapi menikmatinya.

"Jika hamba-KU mendekat pda-Ku dalam jarak sejengkal, Maka Aku akan mendekat padanya dengan jarak sehasta, Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku dengan jarak sehasta, Maka aku akan mendekat padanya dengan jarak sedepa, Jika hamba-ku mendekat pda-Ku dengan cara berjalan, Maka Aku akan mendekatinya dengan cara berlari".

Percayakah kalian dengan Hadits Qudsi diatas?  Aku percaya, sangat-sangat percaya. Karena aku membuktkannya pada diriku sendiri. Saat itu aku masih terus berusaha untuk mengejar cintaku (pacar.red.) walaupun aku tau itu dosa. Tapi di satu sisi, aku juga tak mau berhenti dari kajian islamku. Aku terus berusaha untuk mendekat kepada Allah walaupun tak ada keikhlasan sama sekali. Sungguh itu sangat berat. Alhamdulillah, Allah menjawab usahaku. Lama kelamaan keinginan untuk berkerudung muncul juga. Tapi niat itu belum seberapa dibandingkan dengan kuatnya penolakan hati. Aku pada akhirnya memutuskan untuk berkerudung. "aku akan memulainya besok". ucapku dalam hati.
Hari esok-pun tiba namun aku belum siap juga. "ah..besok lagi saja deh..mungkin besok lebih siap".
Besoknya...begitu lagi gak jadi lagi. Sampai akhirnya besok-besokku itu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Aku mulai sadar, hatiku sebenarnya takkan pernah siap sampai kapanpun. Pikiranku memaksaku untuk melawan pada hati. "aku ingin mengalahkanmu wahai hati". batinku.
Kali ini aku tak mau lagi  menunggu kesiapan hati, tak mau lagi menyebut kata "esok". Malam itu aku sengaja bangun untuk melaksanakan sholat tahajud.

Jika disepertiga malam para hamba Allah bangun untuk meminta, aku tidak. Aku ingin menyampaikan protes dan keluhanku pada-Nya. Setelah usai sholat, aku mengungkapkan protes, dan menumpahkan semua isi hatiku pada Allah.

"Ya Allah, kenapa sih wanita harus menutup auratnya...kenapa Engkau menurunkan perintah yang seperti ini?...yang sangat berat aku laksanakan....?"

"Ya Allah, kenapa wanita-wanita yang lain begitu mudahnya menutup aurat mereka, sementara aku tak bisa? Apa yang salah pada diriku ya Allah...?"

"Ya Allah, kenapa hati ini begitu berat melaksanakan perintah-Mu...kenapa hatiku menolaknya...?"

"Ya Allah, kenapa hatku tak bisa ikhlas agar aku mudah untuk melaksanakan perintah-Mu...kenapa..?"

Pokoknya aku protes dan mengeluh pada Allah. Malam itu hatiku sakit. Aku terus menangis sejadi-jadinya sampai aku merasa sesak untuk bernafas. Aku begitu benci dengan diriku yang mempunyai hati yang sekeras batu. Andai bisa kulukis, aku seperti tertindih oleh gunung yang besar. Jujur..memakai kerudung tak pernah ada dalam mimpiku sama sekali dan taki pernah terlintas dalam khayalku sedikitpun.

Aku-pun akhirnya memohon pada Allah dengan khusyu,
"Ya Allah, Engkau Maha membolak-balikkan hati, maka balik-kanlah hati hamba untuk menuju jalan-Mu, Ikhlaskan hati hamba ya Allah agar mudah melaksanakan perintah-Mu...ikhlaskan hati hamba ya Allah...Jika ia tak mau ikhlas, paksa ia untuk ikhlas ya Rabbi...paksa ia untuk ikhlas....paksa ya Rabb...untuk ikhlas...." Ucapku terus menerus sambil terisak.

Karena begitu kuatnya keinginan untuk berubah aku akhirnya mengucap sebuah janji pada Allah.
"ya Allah, aku benar-benar ingin berubah menjadi hamba-Mu. Mulai malam ini aku berjanji pada-Mu, aku tidak akan pernah menyentuh yang namanya pacaran. Itu janjiku pada-Mu..."

Semalaman aku menangis sampai waktu subuh tiba. Usai sholat shubuh, aku tertidur. Saat aku terbangun, alhamdulillah hatiku agak lega rasanya. beban hatiku kini sudah tak ada. Pagi itu aku ke kampus, dengan kerudung tentunya. Panjang ceritanya, aku hanya bisa bilang, semua orang memperhatikanku, semua terkejut, semua heran, semua diam, saling berbisik. Ada yang pro dan ada yang kontra, ada juga yang kecewa. Ya..lah siapa lagi kalau yng naksir padaku ..^^. Aku masa bodoh.

Alhamdulillah ujian kerudung lewat. Tapi aku masih merasa kurang, sebab masih ada tersisa satu perintah yang belum aku laksanakan yaitu memakai “Jilbab”. Kalau untuk perintah yang satu ini aku menyerah. Sebab aku tak tau, sanggupkah aku mengalahkan hati untuk yang kedua kalinya? Ku biarkan saja Allah membuat rencana untukku.

Dulu sebelum aku menutup rambutku, Aku berkenalan dengan seorang cowok yang menarik simpatiku. Pernakah kalian melihat seorang primus? Apa menurut kalian primus itu gagah? lelaki yang berkenalan denganku lebih gagah dari seorang primus. Sumpah. Di kedua pipinya terdapat lesung pipi, itu yang membuat senyumannya semakin menarik. Kulitnya putih, bibirnya berwarna pink, bodinya macho. Belum lagi ditambah suaranya yang merdu…dipadu padankan dengan kemahirannya memetik senar-senar gitar. Wanita normal mana sih yang gak tergoda? Dia lelaki tertampan yang pernah aku temui dalam hidupku. (astagfirullah…jaga hati..jaga hati….@_@). Menurut kabar yang kudengar dari temanku dia adalah laki-laki tertampan di kampusnya. Saking cakepnya, banyak wanita yang menawarkan diri padanya, namun dia menolak. Yang paling membuatku tertarik, dia pernah jadi seorang ikhwan, berpenampilan dengan baju koko dengan mata yang selalu menundukkan pandangan…. namun dia terpengaruh kembali dengan lingkungannya dan sekarang berstatus mantan ikhwan! T_T

Cowok itu sering datang di tempat kostku dikarenakan ia berteman dengan teman kostku. Hari itu, ia kaget saat bertemu aku kembali dengan penampilan yang berbeda. Kepalaku sudah terhijabi dengan kerudung. Ternyata dari awal ia sudah menyukaiku, namun dengan penampilanku yang baru akhirnya ia jatuh cinta padaku. Hanya selang dua hari dari perubahanku, ia kemudian datang dan menyatakan cinta padaku. Dia ingin menjadi pacarku.

Aku kaget, masya Allah, cowok setampan ini jatuh cinta pada gadis yang berwajah pas-pasan  seperti aku? Aku tidak percaya. Aku sampai menyuruhnya untuk memperbaiki matanya. Walaupun begitu, Perasaanku begitu senang.. Hatiku sudah menjawab ya dari tadi, seribu bahkan sejuta kali. Tapi pikiranku memerintahkan bibirku untuk diam. “inilah impianku, mendapatkan seorang kekasih untuk tambatan hati, akhirnya aku punya pacar juga”. Batinku.

Tapi…astagfirullah…aku baru teringat, dua malam yang lalu, aku sudah terlanjur berjanji kepada Allah untuk tidak menyentuh yang namanya pacaran. Hatiku kini meringis pilu. Pilu sekali. Dalam hati, aku marah padanya. “Kenapa kau baru menyatakan cintamu sekarang? Tahukah kau, aku sudah terlanjur berjanji”. Andai aku belum berjanji, kau pasti akan kuterima. Perlahan-lahan muncul rasa penyesalanku atas ucapan janjiku pada Allah. Aku sampai nyeletuk dalam hati, “ya Allah, bisakah aku meralat janjiku waktu itu pada-Mu, bisakah aku menarik kembali perkataanku kalau aku tidak akan pacaran”? ah penyesalanku semakin dalam. Hatiku semakin lemah saat melihat tatapan matanya yang sangat berharap agar aku menjadi pacarnya. Tapi pikiranku saat itu menguatkan aku. “ukhti, ingat kamu sudah berjanji, dan kamu harus menepati janji itu. Apakah kau mau Allah menurunkan siksa padamu karena kau telah mengingikari janjimu”.

Akupun mengumpulkan semua tenagaku untuk memberikan jawaban padanya.

“Maaf, pacaran dalam islam itu hukumnya haram, Saya tidak bisa. Dan saya kira kamu juga pasti tau khan? Aku berbicara begitu tenangnya. Andai ia bisa melihat isi hatiku, mungkin ia akan melihat hatiku yang sedang teriris pilu .

“aku tahu, karena itu, aku tidak akan menyentuhmu. Aku yang akan menjagamu dari laki-laki lain. Aku janji” ujarnya memohon padaku.

“maaf, sekali lagi aku tak bisa, sebaiknya kita berteman saja…(teman tapi mesra maksudku..he..he..)”. Saat itu aku hanya diam saat melihat ia pergi dengan wajah yang penuh kekecewaan. “maaf aku sudah berjanji pada tuhanku, aku harus menepatinya.”. aku lega.

Rupanya ia tak menyerah. Ia terus berusaha mendekatiku dengan segala rayuannya…rayuan pulau kelapa. Manisssss abisz. Untungnya aku sudah terbekali sedikit dengan islam, jadi aku masih bisa bertahan walaupun sudah jatuh bangun sampai terseok-seok. Belum selesai rupanya Tuhan mengujiku dengan komitmenku.
Selang beberapa hari kemudian, teman kampusku yang anak orang kaya juga menyatakan cinta padaku. Jika aku bersedia jadi pacarnya, dia akan memberikan apa-pun yang aku minta, mengantarku kemanapun aku ingin pergi, pokoknya hidupku terjamin. Wah, ini tawaran yang menarik, rugi khan kalo ditolak. Tapi janji tetap akan menjadi janji, apalagi janji dengan Sang Maha Pencipta. Aku menolak lagi dengan berat hati. Belum juga aku menghilangkan perasaan menyesal, datang lagi orang yang ketiga untuk menyatakan cinta…keempat dst…semua dengan tawaran-tawaran yang menarik. duh..apa maksudmu ini ya Allah? Godaan pacaran terus menyerangku….iblis tak berhenti untuk merayuku. Hatikupun dari awal sudah luluh lantak, tapi pikiranku yang sudah dipenuhi dengan pemahaman islam terus menarikku agar aku tak terjatuh kedalam lubang dosa. “jangan pakai perasaan..pakai pikiranmu”. “Ah, aku harus kuat…harus kuat…itu semua ujian Allah padaku. Ujian seusai janjiku”. Aku terus menguatkan hatiku. Andai aku belum berjanji mungkin aku sudah melakukan aktifitas pacaran. Naudzubillamindzalik.

Jika seperti ini terus aku takkan kuat. Aku harus berubah total, agar mereka tak lagi menggangguku. Tapi sekali lagi, Hatiku menolak untuk berjilbab. Malah hatiku terus mengumpatku karena menolak tawaran pacaran tersebut, apalagi menolak tawaran si tampan itu. pikiranku mulai goyah. Aku hampir saja menyerah, tapi Allah menguatkanku kembali dengan sedikit memberiku pelajaran kecil yang berharga.

Aku kembali mengadu pada Allah tentang cowok tersebut yang terus menggangguku. Kenapa dia datang disaat aku ingin berubah menjadi seorang muslimah yang sebenarnya. Aku meminta kepada Allah untuk menguatkan hatiku darinya. Selesai aku berdoa dan menangis ria, aku membuka Al-Quran dan kemudian mengaji. Kebetulan Al-Quran yang kubaca adalah al-quran terjemahan. Saat itu aku sampai pada suatu ayat yang membuat hatiku semakin jatuh cinta kepada Allah:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nuur; 26)

Astagfirullah, aku menangis seusai membaca ayat Allah yang satu ini. Bukankah ini adalah janji Allah bahwa wanita yang keji akan mendapat laki-laki yang keji dan wanita  yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula? Bodoh, kenapa aku menyesali cowok mantan ikhwan tersebut. Aku terus mengutuk hatiku…dan bukankah jika aku berubah menjadi wanita yang sholehah dengan melaksanakan perintah-Nya dengan menutup aurat secara sempurna maka Allah pasti akan memberikan padaku laki-laki yang sholeh juga khan?. Tanpa sadar akupun berdoa kepada Allah,

“Ya Allah, jika kelak aku sudah berubah menjadi wanita yang sholehah, maka hadiahkanlah padaku lelaki yang sholeh pula. Akan kutagih janji itu padamu ya Rabbi”!

Inilah alasan kedua, kenapa aku ingin berubah setelah alasan pertamaku yaitu agar aku bisa mendapatkan cinta Allah. Aku teringat perkataan seorang ustad bahwa jika kita ingin melihat cerminan jodoh kita, maka lihatlah pada diri kita sendiri.
Karena Allah akan memberikan jodoh yang sama dengan tingkat keimanan kita. Jika saat ini engkau melakukan dosa maka saat itupun jodohmu sedang melakukan dosa pula. Sebaliknya jika saat ini engkau sedang melakukan kebaikan maka saat itu pula jodohmu sedang melakukan kebaikan pula. Hmm…gara-gara terkenang dengan perkataan ustad tersebut, setiap aku melakukan kebaikan atau keburukkan aku teringat jodohku. Karena tak mau jodohku buruk maka aku selalu berusaha untuk berbuat kebaikan biar dia baik juga disana. He..he..!

Akhirnya aku mengumpulkan tekadku untuk mengenakan jilbab. Beruntung, ada seorang kakak yang menghadiahkan 2 jilbabnya kepadaku. Allah juga menolongku. Kakak sepupuku yang kembali ke kampungnya karena sudah selesai kuliah melupakan satu jilbabnya di lemari. Anehnya ia mengatakan bahwa hanya jilbab itu saja barangnya yang terlupakan. Kupikir itu rezekiku, Alhamdulillah sudah punya tiga jilbab. Tapi saat itu, aku tak tau kapan waktu yang tepat aku akan berani mengenakannya.

Kebetulan lembaga dakwah tempat kajianku di kampus mengadakan acara. Aku termasuk sebagai panitia inti. Saat hari itu tiba, aku bersiap ke tempat acara. Namun saat kubuka lemariku, astagfirullah, tak ada sedikitpun baju di dalamnya. Kulirik tempat pakaian kotorku, sudah penuh. Aku ingat, sudah dua minggu ini aku tak mencuci pakaianku karena kesibukkanku ( :P ).
Aku panic, ya Allah, aku harus pakai baju apa?. Gak mugkin khan aku mengambil kembali pakaian kotorku!. Aku masih dalam kebingungan, deringan telpon dan sms dari teman-teman sudah memintaku segera untuk ke acara. Ketua panitianya tiba-tiba mendadak harus mengasistensi laporan Tugas Akhirnya. Akhirnya aku dimintanya untuk menggantikan tugasnya sebab aku adalah sekretarisnya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kantongan plastic yang kusimpan dalam lemariku. Isinya jilbab hadiah dari sang kakak. Apa aku harus memakai jilbab sekarang?, jika aku tak pergi, bagaimana nanti acaranya? Ah…mungkin ini tandanya aku harus berubah. Akhirnya aku mengenakan jilbab untuk yang pertama kalinya. Aku terus memandangi cermin, sambil berpikir, apa aku terlihat seperti ibu-ibu?

Saat aku melangkahkan kaki keluar dari rumah kostku, kutau semua mata tertuju padaku. Mas bakso lannggananku menatapku kaget. Orang-orang di kostku apalagi. Belum lagi dengan mahasiswa-mahasiswa yang hanya kami saling mengenal wajah karena tinggal di lingkungan yang sama. Mereka tak berhenti berkedip. Saat itu, tak sedikit-pun aku  menoleh. Aku cepat-cepat menaiki angkot dan kabur dari situ. Dalam perjalananku, aku merasa ada sesuatu yang lain pada diriku. Entah kenapa matahari yang menyengat hari itu tak kurasakan. Aku juga merasa menjadi seperti muslimah yang baru terlahir ke dunia. Ya Allah, hatiku begitu merasa lega dan tenang karena sudah tidak dikejar lagi oleh dosa aurat. Aku merasa diriku menjadi terjaga dari pandangan-pandangan liar, dan merasa begitu terhormat. Rupanya beginilah rasanya jika kita sudah bisa menaklukkan dunia untuk akhirat…sungguh, aku tak dapat melukiskan kebahagiaanku dengan kata-kata. Setibaku di tempat acara, semua mata kembali tertuju padaku lagi.  Teman-teman akhwat bergembira melihat perubahanku dan mengucap syukur. “ukhti, setelah kau mengenakan jilbab, apakah dunia menjadi terbalik? Dunia aman-aman saja bukan?”. Ujar musrifahku, yang ingin menggodakku. “Iya kak, dunia tak terbalik malah semakin cerah saja . Balasku sambil tersenyum.

Tantangan yang sebenarnya akan datang ketika aku masuk kampus. Esoknya, aku memasuki gerbang fakultasku, seperti kemarin, semua orang menatapku mungkin mereka pikir ada mahasiswa baru di fakultas mereka. Maklum, saat itu aku satu-satunya mahasiswi yang memakai jilbab diantara semua mahasiswi di fakultasku.   Kakiku semakin bergetar saat aku menaiki tangga menuju lantai tiga tempat perkuliahanku. Jantungku semakin berdetak cepat. Saat tiba di lantai tiga, teman-teman seangkatanku sedang asyik bercanda sambil tertawa. Aku yang tiba-tiba muncul dengan penampilan baru mampu menghentikan aktifitas mereka beberapa detik. Semua diam semua membisu. suasana menjadi hening.  Aku tambah grogi. Entah apa yang ada dalam pandangan teman-temanku, melihatku dengan cara yang aneh. Bagi mereka ketika aku megenakan kerudung adalah hal yang biasa, tapi kali ini aku tampil dengan jilbab adalah hal yang luar biasa. Seharian di kampus, tak ada yang komentar. Teman-teman cowokku tak ada yang mengajakkku bicara. Bahkan sahabatkupun menjauh dariku. Aku hanya bisa terus beristigfar.

Hari berikutnya, di lingkungan jurusanku, aku mendapat panggilan baru. Uztadzah. Sebenarnya aku tau itu panggilan mengejek karena setiap menyebut kata ustadzah mereka tertawa. Jujur, itu adalah panggilan yang paling kubenci. Tapi aku hanya menjawab dengan bibir yang tersenyum mantap. “alhamdulillah, semoga kelak saya bisa menjadi seorang ustadzah, terima kasih doanya teman-teman” belum lagi aku dikatakan mirip oma-oma yang jualan sayur dipasar. Ditanyain, sudah hamil berapa bulan. Aku jawab saja seenaknya.”sudah 3 bulan”. Ditanyain, kamu ini aliran apa? Aku jawab “aliran listrik”. Hati sudah gerah ya Allah. Sabar…sabar…T_T

Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri adalah jurus yang kupakai ketika teman-teman mengejekku. Bagiku tak masalah, Seisi dunia pun menjauhiku aku tak peduli, asal Allah cinta dan ridho padaku. Karena bukan kepada mereka aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, tapi hanya kepada Allah tuhanku. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, akhirnya teman-teman kampusku bisa menerima keadaanku. Asalkan sabar dan kuat, insya Allah, badai pasti  berlalu.

Bagaimana kisahku menarik bukan?.  Ternyata, hidayah bagi seseorang sudah tersedia, tinggal kita yang datang dan berusaha untuk mengambilnya. Ibarat makanan yang sudah tersaji di piring, namun masih membutuhkan tangan kita agar makanan tersebut bisa masuk ke dalam mulut.  Dan memang, untuk mengambil hidayah tersebut, kita akan diuji oleh Allah berupa rintangan yang membutuhkan kesabaran dan keihklasan. Jika kita berusaha dengan sunguh-sungguh untuk berubah, maka Allah akan memudahkannya. Jika  Aku dan muslimah-muslimah yang lain berhasil menundukkan hati dan pikiran dengan aturan Allah, maka aku yakin, kamu juga bisa. Yuk…bersama-sama kita raih ampunan dan surga Allah.

”Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Hadiid : 21)