BIDADARI SURGA ASIAH

Monday, August 12, 2013

LESBIAN ANTARA CINTA DAN ALLAH (BAGIAN II) NEW



Dunia lesbian sudah saya bahas dalam LESBIAN ANTARA CINTA DAN ALLAH(I), http://bidadarisurga-asiah.blogspot.com/2013/10/lesbian-antara-cinta-dan-allah-bagian.html , filenya sempat dibajak karena ada yang gak suka dengan tulisan saya tentang lesbian.Tapi gak apa apa, karena saya bukan seorang hacker yang kerjanya ngebajak, saya titip doa saja sama Allah, "semoga orang yang membajak file saya diambil ilmunya sehingga dia menjadi orang yang pelupa, sehingga dia bisa insaf dan sadar bahwa menghentikan nasehat adalah menghentikan kebaikan bagi dirinya. amin ya allah.
bagi teman teman yang belum membacanya, insya Allah nanti saya posting ulang. Sekarang saya ingin membahas dunia lesbian dalam pandangan islam dan pilihan hidup mereka antara cinta dan Allah. 

Dunia homoseksual bukan barang baru dikenal dalam dunia islam. Islam telah megisahkannya dengan jelas dalam Alquran, pada masa nabi Luth AS, dimana kaum nabi Luth adalah kaum homoseksual.
Hukum homoseksual itu sendiri dalam islam adalah haram dan termasuk salah satu dosa besar. Oleh karena perbuatan ini menjijikkan maka Allah kemudian memusnahkan kaum nabi Luth A.S dengan cara yang sangat mengerikan. Bahkan Homoseksual jauh lebih menjijikkan dan hina daripada perzinahan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

 "Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth AS, maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya)." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dan Ibnu Majah). 

Dari sini sangat jelas bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual tidak lain adalah hukuman mati. Ancaman pelaku homoseksual ini jauh lebih berat dibandingkan dengan hukuman bagi pelaku zina. Jika dalam perzinahan, berat hukumannya masih tergantung apakah pelakunya sudah menikah atau belum menikah. Jika dia belum menikah maka dia mendapat hukuman cambuk 100 kali. Sendangkan bagi yang sudah menikah dia harus dirajam sampai mati. Adapun dalam praktek homoseksual tidak ada pembagian tersebut. Asalkan sudah dewasa dan berakal (bukan gila) maka hukumannya sama saja. Hanya saja para sahabat berbeda pendapat tentang cara mengeksekusi para pelaku homoseksual. Dimasa Abu Bakar As-Sidiq, beliau menghukum pelaku homoseksual dengan cara di bakar hidup hidup, sementara sahabat yang lain menghukum para pelaku homoseksual dengan cara membawa mereka ke puncak yang tertinggi, kemudian mereka diterjunkan dari atas dan di hujani dengan batu. Namun semua sahabat sepakat kalau keduanya harus dihukum mati.

Homoseksual sendiri seperti yang saya jelaskan sebelumnya bukanlah sebuah takdir yang diberikan Allah kepada manusia tapi murni muncul dari faktor luar yaitu lingkungan.


Dan Allah sendiri menjelaskan hakekat diri-Nya menciptakan manusia dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya. Allah Wa Zalla berfirman : 

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An-Nisaa : 1) 

Kalau memang Allah sengaja mentakdirkan perasaan homoseksual pada manusia, dan mengizinkannya, lalu mengapa dengan tegas Allah mengazab seluruh kaum Nabi Luth tanpa menyisakan satu orang-pun, kalau bukan perbuatan mereka yang sudah melampui batas? Allah berfirman : 

 "Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A'raaf:80-84]. 

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum Nabi Luth dalam firmanNya :

 “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]. 

Betapa kejamnya Allah sebagai Tuhan pada hamba yang diciptakanNya jika dia sengaja menghadirkan pula ketertarikan sesama jenis tersebut dan pada akhirnya akan mengazab orang-orang yang Ia beri persaaan tersebut. Mahasuci Allah dari sifat kejam seperti itu. Karena itu, Homoseksual adalah sebuah perilaku penyimpangan seksual yang murni terbentuk dari lingkungan dan bukan takdir dari Allah. Karena memang perasaan suka sesama jenis butuh proses untuk terbentuknya. 

Namun saya pernah membaca seseorang lesbian atau gay yang mengaku sudah dari kecil mempunyai ketertarikan sesama jenis yang datang begitu saja. Maaf, menurut saya pribadi, perasaan suka itu bisa jadi muncul karena bantuan dari lingkungan pula walaupun mungkin itu tidak disadari sebab saat itu dia masih terlalu kecil untuk menyadari itu. Atau bisa jadi faktor dari keluarga yang tidak wajar memperlakukan dia tidak sesuai pada kodratnya. Misalnya seorang anak perempuan yang harusnya dipakaikan baju perempuan dan dibelikan mainan perempun tapi justru perlakuannya sebaliknya, ia malah dipakaikan baju laki-laki, dibelikan mainan laki-laki dan memperlakukannya pula sebagai seorang laki-laki. Atau seorang laki-laki yang diperlakukan dengan kelembutan sehingga ketika dia terbiasa seperti itu, pada akhirnya dia terobsesi untuk menjadi perempuan yang lembut. Banyak sebenarnya contoh lain yang sejenisnya namun semua faktor itu tidak akan terjadi tanpa bantuan dari lingkungan. 

LESBIAN ANTARA CINTA DAN ALLAH 

Cinta, siapa yang tak mengenalnya? Sesuatu rasa yang takan pernah bisa di defenisikan dengan kata-kata, bahkan perbuatanpun terkadang tidak bisa mengungkapkannya secara utuh. Cinta adalah sebuah rasa yang bisa mengubah segalanya termasuk merubah persepsi dan cara pandang seseorang. Kekuatan cintapun bisa memutarbalikkan antara benar dan salah, baik dan buruk, dan antara halal dan haram jika cinta itu tidak bersandar pada pemilik cinta yang sebenarnya. Tapi saya tidak akan membahas cinta ini terlalu jauh sebab saya sudah cukup membahasnya dalam postingan saya yang berjudul “Ketika Cintaku Bertasbih”. Tentang apa itu cinta, bagaimana ia di arahkan, bagaimana cara pemenuhannya yang benar agar mendapat pahala dari Allah swt. Silahkan ke postingan saya tersebut jika anda ingin tahu tentang cinta yang sebenarnya. 

Kembali pada pembahasan saya, cinta sesama jenis menurut saya adalah cinta yang rumit, cinta yang berliku dan berkelok kelok. Saking rumitnya cinta ini tak berujung. Semakin dicintai semakin tidak terlihat ujungnya. Cinta sesama jenis pula adalah cinta buta bahkan sangat buta. Cinta sesama jenis adalah cinta yang tak berlogika pula. Kenapa saya katakan tidak berlogika, karena cinta ini muncul tanpa memakai logika. Andai dia berlogika dia bisa membedakan jenis kelamin orang yang dia cintai, dia akan mencintai sesuai dengan fitrahnya yaitu seorang perempuan akan jatuh cinta pada seorang laki-laki dan seorang laki-laki akan mencintai seorang perempuan, bukan malah mencintai sejenisnya. Cinta sesama jenis hanya membutuhkan perasaan untuk merasakannya, dengan membuang logika untuk menalarnya. Karena jika mencoba dinalar dengan logika, dia akan menyadari bahwa cinta-Nya itu sudah salah tempat. 

 Bicara tentang cinta sejenis, cinta seperti ini takkan pernah berujung. Dia hanya akan berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan. Cinta ini bisa saja berawal tapi cinta ini takkan menemukan akhirnya. Kemudian, seberapa banyak besarnya cinta yang dikumpulkan pada sang pasangan maka sebesar itupula rasa sakit yang dia kumpulkan untuk dirinya. Bahkan bisa jadi rasa sakitnya akan lebih banyak yang terasa ketika hubungan itu berhenti pada akhirnya. Tapi, pendapat saya tentang cinta sejenis yang tak berujung itu bisa saja ditentang. Buktinya sudah banyak para pasangan lesbian yang mengakhiri cintanya di pelaminan alias menikah dan kemudian mengadopsi anak untuk membentuk sebuah keluarga yang utuh. 

Hal ini di praktekkan oleh generasi penerus kaum Nabi luth yang baru. Yah, Barat dan Eropa adalah negara yang membela mati-matian praktek homoseksual ini atas nama HAM.


HAM adalah Hak Asasi Manusia untuk bebas berbuat dan bertingkah laku, termasuk bebas untuk mengeksplorasi penyaluran hubungan seksual yang menyimpang. HAM ini kemudian dijadikan dagangan oleh barat dan eropa untuk dijual di Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya,.


Adalah Wajar jika orang eropa dan barat bebas mengeksplor kebebasan yang mereka miliki sebab mereka tak pernah mengenal Allah dan cinta-Nya.. Mereka tak mengenal ada kehidupan lain setelah dunia. Mereka tak mengenal aturan main ketika berada di dunia. Lupa bahwa mereka itu hanya makhluk yang sekedar numpang di bumi yang hak miliknya adalah Allah. Padahal, jika mereka sadar sekedar numpang di bumi Allah, berarti mereka harus mengikuti aturan yang dibuat oleh si pemilik bumi. Dan mirisnya muslim sekarang mengikuti dagangan barat tersebut secara mentah mentah dengan mengikuti gaya hidup mereka. Walaupun mereka tau cinta yang mereka pilih adalah sebuah kesalahan, dan kehidupan yang mereka jalani adalah sebuah dosa besar. 

Beberapa lesbian ingin hidup bersama, ingin menikah secara sah, bahkan ingin pernikahan yang legal hingga mengejarnya sampai ke luar negeri. Mencari pengakuan di mata dunia dengan pelegalan pernikahan mereka. Menikah kemanapun sampai di ujung negeri manapun, tetap dimata Allah ini adalah perbuatan homoseksual yang diharamkan Allah. Mendapat pelegalan di mata dunia tidak akan mendapat pelegalan di mata Allah. Menikah atau tidak menikahpun tidak akan mendapat pengakuan dari Allah dan tidak akan menghilangkan Azab Allah. Jangankan untuk pasangan sejenis, pasangan normal-pun antara seorang laki-laki dan perempuan tidak akan sah di mata Allah jika menikah beda agama. Allah mengharamkan seorang muslim menikah dengan non muslim, walaupun mereka mendapat pelegalan di catatan sipil negeri orang. 

Apalagi berbicara tentang pernikahan sejenis dan kemudian hidup bersama selamanya. Saya yakin, seorang lesbian apalagi dia seorang muslim, tidak akan pernah bahagia menjalani kehidupannya, lahir mungkin terlihat bahagia, tapi secara batin dia tersiksa, sebab masih ada dalam hati kecilnya yang menyadari bahwa apa yang dia lakukan itu adalah sebuah dosa besar. Setelah hidup bersama, beberapa keinginan pasangan lesbian adalah mengangkat seorang anak. Pernakah mereka berpikir bagaimana nanti perkembangan psikologis seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak nomal? Ketika dia melihat teman teman sekolahnya mempunyai ayah seorang laki-laki sementara dia sendiri memiliki ayah seorang perempuan, bagaimana perasaaan si anak saat itu? Bagaimana dia harus menghadapi lingkungannya?. Kita sendiripun berharap punya kehidupan yang normal, punya ayah dan ibu yang lengkap, atau punya suami yang membimbing kita, lalu kenapa kita ingin membentuk korban baru dalam kehidupan kita? Apakah itu yang disebut dengan keluarga yang bahagia? Lagipula perasaan yang terbentuk akan berbeda, karena tidak ada ikatan darah maka takkan ada pula ikatan batin yang terbentuk. Rasa sayang-pun akan berbeda ketika suatu saat dia mengetahui bahwa dia hanya seorang anak angkat. 

 SURAT CINTA UNTUK SAUDARIKU.....

Isi dari setiap kalimat yang saya tulis ini, mungkin tidak bisa dikatakan surat, sebab jika ia surat maka dia akan ditulis dengan bahasa yang indah. Sayangnya saya bukan pujangga yang pandai merangkai kata yang indah, tapi yang pasti saya menulisnya dengan cinta, cinta antara seorang muslim kepada muslim lainnya karena Allah. Cinta yang tulus tanpa mengharap balasan selain melihat saudariku yang sedang khilaf, kembali ke jalan Allah. Jadi biarlah dia menjadi sebuah surat dengan cinta sebagai isi-nya. Jika isi surat cinta saya ini tak berkesan, hapuslah dalam benak dan anggaplah seperti angin yang berlalu. Tapi jika isi surat cinta saya berkesan di hatimu, tersenyumlah,sebab engkau sudah maju selangkah untuk berubah... 

SAMPAI KAPAN ENGKAU MAU MENJADI LESBIAN ?  

Dunia homoseksual adalah dunia maya yang dipaksa untuk menjadi nyata. Jika saya mengibaratkannya, ibarat seorang yang bermimpi di waktu malam, namun setelah fajar datang, dia harus menghentikan mimpinya karena harus terjaga. Setelah itu diapun harus berhenti bermimpi, dia harus menjalani kehidupan nyatanya sehari penuh karena penghujung malam masih jauh, untuk megawali dia bermimpi kembali. Saat saat di dunia maya adalah saat saat bahagianya, dan saat saat di dunia nyatanya adalah saat saat sakitnya. Siklus itu akan berulang. Dan itu akan terjadi terus menerus selama hidupnya. Bahagianya pun hanya sesaat, Kalaupun belum berakhir karena kematian yang memisahkan, pasti pula akan berakhir dengan perselingkuhan atau persoalan yang lainnya.


Saya pribadi punya teman teman lesbian. Beberapa diantaranya seorang lesbian buchi, walaupun mereka berusaha sekeras mungkin untuk menjadi seorang laki-laki, toh tetap mereka seorang perempuan, yang punya sisi keperempuanan yang masih banyak takutnya. Terkadang mereka takut dengan gelap, takut bila sendiri, alergi terhahadap binatang, dan takut terhadap hal-hal yang menurut saya tidak perlu ditakuti. Pernah saya sedang bersama kak clara (lesbian yang saya ceritakan di postingan yang pertama), dengan gaya maskulinnya, saya baru tau kalau dia sangat takut gelap. Pernah suatu saat ketika kami sedang berada dirumah teman, tiba-tiba lampu padam Saya berpikir untuk mencari kak clara dalam gelap karena takut sebab dia khan tomboy, eh kak clara malah yang berteriak ketakutan untuk mencari saya dalam gelap. ^^. 

Adalah fakta, Seorang buchi tidak akan punya sperma untuk membuahi ovum untuk menghasilkan anak, malah dia yang akan terbuahi oleh sperma. Atau lihat saja waria, seberapapun dia berusaha melembutkan dirinya, jika diganggu yang berlebih maka secara spontan seorang waria akan menampilkan sisi kelaki-lakiannya yang mungkin lebih daripada lelaki biasa..coba aja kalo gak percaya..^^ Karena itu, sekuat-kuatnya wanita dia tetap seorang wanita, dan selemah-lemahnya pria dia tetap seoran pria. Penampilan bisa dirubah, tapi fitrah tidak bisa berubah, sebab dia murni bentukan ilahi.
Jujur, saya sangat membenci perbuatan teman-teman lesbian saya, tapi itu tidak menghalangi saya untuk menyayangi mereka. Apalagi bagi mereka yang benar benar mau untuk berubah. 

Saya pernah bertanya pada Lina, sampai kapan dia akan menjalani dunia lesbiannya? Dia sendiri bingung, sampai kapan dia akan menjalani dunianya. Dia sendiri-pun sadar bahwa dunia yang dia jalani sekarang lebih banyak sakit yang dia dapatkan ketimbang bahagianya. 

Dulu-pun saya pernah bertanya pada diri sendiri di masa jahiliyah saya, sampai kapan mau mengumbar aurat? Sampai kapan mau hidup bebas, dan menjalani kehidupan tanpa aturan Allah?


Pertanyaan itu pada akhirnya bisa saya jawab, setelah islam menyadarkan saya apa arti dari “kehidupan”
itu. Dan itulah sebab yang mendorong saya untuk segera bermetamorfosis menjadi seorang muslimah. 

Banyak manusia yang tidak mengerti alasan kenapa Allah menciptakannya di dunia , sehingga ketika mereka menjalani kehidupan, mereka hanya menjalani begitu saja tanpa makna dan arti. Bagi mereka kehidupan itu adalah bagaimana mencari kenikmatan sebesar-sebesarnya tanpa batas.

Kemudian berbicara tentang dunia tempat manusia hidup, manusia mana yang tidak tergoda dengan dunia? Tempat yang menawarkan segala macam kenikmatannya. Banyak sekali manusia yang terpedaya olehnya. Banyak yang tergoda dengan pesonanya, sehingga lebih memilih membuang kehidupan akhiratnya untuk mendapatkan kehidupan dunia yaitu kesenangan. Manusia lupa, bahwa ternyata dunia . tempat mereka di beri kehidupan, hanyalah tempat persinggahan yang bersifat sementara. Kalau dipikir-pikir, Namanya juga persinggahan yang sementara berarti kenikmatan yang ditawarkan pun pasti bersifat sementara. Ini menandakan ada kehidupan lain setelah dunia, dan kehidupan lain setelah dunia itu disebut dengan akhirat, tempat perhentian terakhir manusia.



 Ini adalah siklus hidup manusia dari awal penciptaannya sampai ia dibangkitkan 

Perhatikan siklus ini. Siklus ini dengan jelas menjelaskan arah perjalanan manusia dari awal dia berada di dalam alam rahim, kemudian terlahir ke dunia dan setelah dia meninggal. Seharusnya dari melihat siklus kehidupan manusia ini kita bisa tau kemana nanti arah langkah kaki kita sesudah meninggalkan dunia, yah kita akan menuju alam akhirat. Saya berpikir, andai saja tidak ada kehidupan setelah manusia mati dan andai saja tidak ada hari dimana manusia dibangkitkan, dan andai saja pula tidak ada hari dimana manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di dunia, tidak perlu anda, saya sendiripun akan mencari kenikmatan dunia itu, berada di garda paling terdepan malah. Melakukan apa yang saya mau sekehendak hati saya. Tanpa perlu terbebani dengan apapun itu. 

Tapi Permasalahnnya yang muncul adalah hidup manusia tak sampai disini. Seorang muslim pasti tau bahwa dunia adalah tempat persinggahan sementara, karena ada kehidupan akhirat yang menanti disana. Allah SWT berfirman dalam surah AL-Ghafir :

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” ( Al-Ghafir:39) 

Dari sini, Saya-pun mulai mengerti arti kehidupan itu. Kehidupan adalah sebuah "Waktu" dan "Kesempatan" yang diberikan Allah kepada manusia selama di dunia untuk mencari "Bekal " di perjalanan selanjutnya, yaitu akhirat. Kehidupan adalah "Waktu Sekali" dan "Kesempatan Sekali" ----," There's is no second chanhe "----" Tidak ada kesempatan kedua", hanya sekali. Karena hanya sekali maka kehidupan itu jadi punya "arti". Dan arti manusia diberikan kehidupan tidak lain adalah untuk mencari ridha Allah SWT.

Karena kehidupan adalah "waktu sekali" dan "kesempatan sekali" maka, manfaatkan keduanya dengan menjalani hidup yang bermakna yaitu mengejar ridha Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bukan dengan mengisi "waktu sekali" dan "kesempatan sekali" dengan mengumbar hawa nafsu duniawi yang pada dasarnya hanya berisi kesenangan sesaat, hanya sesaat. Toh, tidak ada kesenangan yang abadi di dunia, sebab kesenangan itu akan dihentikan oleh kematian.

"Kematian adalah pemutus kesenangan"

Maka apabila "Waktu sekali" dan "kesempatan sekali" itu dirangkai menjadi sebuah kata yang saya sebut dengan "usia", Sudah berapa banyak usia yang Allah berikan kepada kita, kita habiskan untuk beribadah kepada-Nya? Kita habiskan untuk mencari ridha-Nya? Ataukah jangan-jagan usia itu hanya kita habiskan untuk mencari murka Allah dengan bermaksiat kepada-Nya?

Ingatlah jika usia sudah sampai pada finisnya-maka There's is no second chanhe untuk meminta dia kembali. 

Saya,pun mulai merenungi arti dari kehidupanku sekarang....haruskah saya memilih jalan hidup yang dimurkai Allah? dan dengan tempat kembali yang buruk? Setelah melihat siklus ini, saya berpikir, bagaimana saya akan menemui Allah kelak? Dengan cara apa saya bertanggungjawab atas segala kelalaian saya selama di dunia ini? Bagaimana nasib saya nanti? Apakah akan berhenti di surga ataukah saya akan terhenti di neraka? Pertanyaan pertanyaan itu terus menghantui saya.


Dari semua itu, saya mulai menyadari , ternyata selama ini saya sudah tertipu pada dunia, melakukan sesuatu menurut kehendak hawa nafsu semata. Jika seperti itu, saya berpikir, apa artinya mencari kenikmatan dunia yang sifatnya sementara sementara saya harus kehilangan akhirat yang bersifat abadi? Tapi setidaknya yang saya tau pasti sekarang bahwa hidup adalah berjuang, berjuang mengalahkan hawa nafsu duniawi, berjuang untuk keluar jadi pemenang. Bagaimana caranya? Caranya jangan mengikuti manusia-manusia yang lagi lupa, nanti saya tambah lupa, jagan mengikuti manusia yang lalai, nanti saya tambah lalai, jangan mengikuti ulama ulama liberal yang nyeleneh soal agama, yang memutarbalikan aturan agama dengan memfatwa haram jadi halal, nanti saya bisa bego, bisa gak tau mana halal mana haram, dan jagan mengikuti setan melalui hawa nafsu, karena nanti saya bisa jadi setan juga. Dan satu, belajar giat untuk mendekat pada Allah-ku. ^^ . Buat saudari-saudariku yang kucintai karena Allah, saudari-saudariku yang sedang lupa dan lalai, sampai kapan engkau akan menjalani dunia lesbian? 


BELAJAR DARI YANG MATI 

Saya sering mendengar di beberapa berita, tentang pasangan pasangan yang sedang melakukan zina tiba-tiba di ambil nyawanya sama Allah. Entah itu pasangan normal namun bukan suami istri, pelacur dengan pelanggannya atau pasangan homoseksual. Saya jadi membayangkan, bagaimana akhir kehidupan manusia-manusia tersebut, meninggal di saat sedang melakukan kemaksiatan, dan tidak sempat bertaubat. Bagaimana nasib mereka di dalam kubur dan di akhirat nanti? Saya yakin, seyakin yakinnya bahwa mereka pasti menyesal di alam sana.


Gambaran penyesalan manusia yang terpedaya oleh hawa nafsu duniawi sehingga melahirkan penyesalan yang luar biasa, dikisahkan Allah dalam Al-Quran surah Al-Faathir : 

 “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan Allah menjawab mereka : "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” ( Al-Faatir: 37) 

Harusnya dari sekarang, kita belajar dari yang mati. Belajar dari penyesalan mereka. Harusnya pula kita bersyukur, bersyukur bahwa orang-orang yang di ambil nyawanya oleh Allah dalam keadaan bermaksiat adalah contoh bagi kita, untuk kita jadikan pelajaran dan Hidayah untuk segera kembali ke jalan Allah. 

Bersyukur karena bukan kita yang dijadikan "contoh" oleh Allah, untuk dijadikan pelajaran dan hidayah bagi orang lain. 

Coba kalau kita yang dijadikan "contoh" untuk orang lain sadar dan kembali pada Allah? Mati dalam keadaan bermaksiat dan belum bertaubat? Sungguh kita adalah orang-orang yang merugi dan orang-orang yang menyesal kemudian. Naudzubillahimindzlik…. 

KAUPUN BERJODOH DENGAN SEORANG LAKI-LAKI 

Ada tiga hal yang ditetapkan Allah pada seorang manusia sebelum ia dilahirkan ke dunia, dan tiga hal inilah yang tidak dapat dirubah oleh manusia. Yang pertama adalah, rezkinya, kedua adalah jodohnya, dan ketiga adalah ajalnya. Oleh sebab itu, semua manusia yang terlahir ke dunia ini masing-masing sudah dipersiapkan jodohnya oleh Allah, dan jodohnya itu tentu antara jenis laki-laki dan jenis perempuan, bukan sesama jenis.


Dan tentang jodoh inilah yang dinafikkan oleh para pasangan homoseksual, mereka lupa bahwa ketika Allah sudah mendatangkan jodoh mereka, maka mereka takkan pernah kuasa untuk menolaknya, walaupun mereka melakukan berbagai macam konspirasi untuk menolak jodoh tersebut. Jika Allah sudah menetapkan jodoh kita maka pasti kita akan bertemu dengan jodoh kita, apakah itu dipertemukan di dunia ataukah dipertemukan di akhirat. Jika hati di ajari dengan mencintai sesama jenis maka pasti hati akan merasa sakit ketika akan mencintai jodoh yang lawan jenis, dan akan pasti pula sulit untuk mencintai jodoh tersebut. Pada perjalanannya, sulit untuk bahagia dengan jodoh, padahal jodoh-lah yang akan menemani kita dalam mengarungi kehidupan. 


Itulah mengapa saya mengatakan hubungan sesama jenis hanya punya awal tapi dia tak memiliki akhir. Memulai hubungan yang tak punya akhir penyelesaian hanya akan meninggalkan sakit. Dan sakit percintaan dunia lesbian atau homoseksual pada umumnya mungkin jauh lebih perih. Jika pasangan yang normal berpisah, rasanya sakit memang, tapi jika dia mengenal Allah-nya, suatu saat dia akan cepat pulih sebab dia akan dengan lantang berkata,“ Dia bukan jodohku, sebab dia bukan yang terbaik, sebab hanya yang terbaiklah yang menjadi jodohku, suatu saat Allah pasti mempertemukan aku dengannya”. Tapi jika pasangan homoseksual yang berpisah, bukan karena tak jodoh sebab memang dari awal bukan jodoh…maka itu sakitnya akan lebih perih. Masih harus-kah bertahan dengan hubungan yang seperti ini? 

Saudariku, adalah sebuah kepastian bahwa jodoh kita adalah seorang laki-laki bukan perempuan. Berhentilah untuk mencintai sesuatu yang tak mungkin, berhentilah. Jangan pernah menantang langit, sebab langit takkan pernah runtuh ketika engkau marah akan takdirmu, jangan pernah melawan arus, sebab arus takkan pernah berbalik arah, arus takkan pernah berhenti untuk mengalir, justru engkau semakin terseret.



Saudariku, hubungan antara engkau dan dia seperti antara manusia dengan bayanganya, bersama tapi takkan pernah bersatu. Walaupun sekuat tenaga engkau berusaha merangkulnya, dia takkan pernah bisa kau genggam, sebab dia hanya bayangan dan akan tetap menjadi bayangan selamanya. Dan itu pasti. Tidak letikah?



ADAM MEMANG TAK SEMPURNA

Adam memang diciptakan dengan kekuatan, ketegaran, dan akal yang lebih, dominan ketimbang perasaan. Adam memang sengaja diciptakan berbeda dari Hawa karena Adam punya tugas yang berat, tugas sebagai pemimpin dan tugas sebagai seorang suami. Hawa memang diciptakan dengan kelembutan, kelemahan, dan perasaan yang jauh lebih dominan ketimbang akalnya. Hawa memang sengaja diciptakan berbeda dari Adam karena Hawa punya tugas yang berat pula, yaitu tugas menjadi ibu yang sabar.


Adam dengan kekuatannya akan melengkapi Hawa dengan kelembutannya dan sebaliknya, Hawa dengan kelembutannya akan melengkapi Adam dengan kekuatannya, Adam dengan ketegarannya akan melengkapi Hawa dengan kelemahannya, begitupun sebaliknya, Hawa dengan kelemahannya akan melengkapi Adam dengan ketegarannya, Adam dengan akalnya akan melengkapi Hawa dengan perasaannya, begitupun sebaliknya, Hawa dengan perasaannya akan melengkapi Adam dengan akalnya. Keduanya diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk saling melengkapi untuk bisa menjadi sempurna.Dan itu adalah aturan alam yang takkan pernah berubah.


Adam memang tak sempurna, karena Adam adalah manusia biasa yang punya salah dan khilaf. Kecewa pada seorang Adam tidak mesti membuat kita putar haluan. dan banting stir. Karena Adam bukan cuman seorang di dunia ini. Suatu saat akan ada seorang Adam yang lebih baik dari seorang Adam yang mengecewakan kita. Agar tak terulang kecewa yang kedua kali maka carilah Adam yang mencintai Tuhannya, ketika dia mencintai Tuhannya, maka dia akan mencintai makhlukNya, Ketika dia takut dengan siksa dan azab dari Tuhannya, maka dia akan takut melukai makhluk Tuhannya. Kemudian, sama seperti Adam, Hawa juga tak sempurna, karna Hawa-pun adalah manusia biasa yang punya salah dan khilaf. Bisa jadi saat ini Adam bersalah padamu tapi bisa jadi suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan kau bersalah pada Adam. Bukankah Allah mengajar manusia untuk saling memaafkhan? Maaf akan mengurai kecewa dan menyembuhkan luka. Beranikan diri untuk menerima Adam, dan buat dirimu menjadi sempurna di mata Allah dengan menerima Adam. 

ENGKAU ADALAH WANITA TERINDAH YANG DICIPTAKAN OLEH ALLAH UNTUK SURGA 

Dulu saya pernah berpikir, mengapa Allah tidak menciptakan saya ke dunia sebagai seorang laki-laki saja. menjadi perempuan itu sangat ribet. Terlalu banyak aturan mainnya. Harus berjilbab, harus berkerudung dan sebaginya. Laki-laki itu simple. Tapi setelah saya mengenal islam, saya justru bahagia ketika saya terlahir sebagai seorang perempuan. Kemudian, walaupun Rasululllah mengatakan bahwa yang paling banyak masuk neraka adalah wanita, justru ladang pahala surga lebih banyak di dapatkan oleh seorang wanita ketimbang seorang laki-laki. Rasulullah bersabda : ;

“Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendaki”

Subhanaullah, hanya dengan menikah, taat pada suami serta melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah, maka surga sudah dalam genggaman. ,

Tahukah kita, ada satu hal paling penting sehingga membuat wanita itu begitu mulia dan berharga di mata Allah dan saya baru menyadari itu. Apa itu? Wanita dihadiahkan Allah dengan sebuah “Rahim”
yang terdapat dalam tubuhnya. Rahim adalah anugerah terindah yang diberikan Allah hanya kepada seorang wanita. Coba kita bayangkan, secanggih canggihnya teknologi manusia sekarang, mereka mampu membuat bayi tabung, mereka mampu mengubah alat kelamin pria menjadi wanita dan sebaliknya, mereka mampu membuat payudara buatan bagi seorang laki-laki, mereka mampu menukar organ tubuh manusia satu kepada manusia yang lain, tapi mereka tidak mampu membuat Rahim, jangankan untuk membuat Rahim buatan, menukar Rahim antara perempuan yang satu ke perempuan yang lain mereka tak mampu…sebab Rahim itu berbeda, dia anugerah yang khusus untuk wanita, dan yang takkan pernah dimiliki oleh laki-laki yang merubah dirinya menjadi wanita. subhanaullah-kan.


Lalu untuk apa Rahim itu? Untuk melahirkan anak-anak, penerus generasi manusia yang ketika kelak dia menjadi anak yang sholeh, dia bisa menyelamatkan kedua orang tuanya di akhirat. Mengapa tugas seberat itu dibebankan kepada wanita? Sebab hanya wanita-lah yang sanggup memikul tugas sebesar itu. Pria sehebat apapun itu dia takkan pernah sanggup memikulnya. Dengan tugas sebesar itu, maka ada pahala yang luar biasa besar dihadiahkan Allah kepada wanita yaitu, surga yang seluas langit dan bumi. Lalu, bagaimana mungkin dengan berbagai macam pahala yang ditawarkan itu dan rahim yang kita miliki, tidakkah tergerak hati kita untuk menjadikannya ladang surga untuk investasi akhirat?. Karena itu, jangan biarkan rahim-rahim itu terbengkalai begitu saja dengan menjalani hidup sebagai lesbian. Lagipula, berbeda jika kita mengasuh anak yang lahir dari rahim sendiri dan mengasuh anak dari rahim orang lain. Akan lebih indah jika rahim kita bisa melahiran anak, sebab hubungan yang paling lekat antara seorang ibu dan anak adalah hubungan darah. Saudariku, belajarlah untuk sembuh, belajar untuk menjadi seorang istri, belajar menjadi seorang ibu dan mempuyai seorang suami. Mempunyai keluarga yang sempurna. Keluarga yang utuh untuk mencari ladang pahala yang banyak. 

ANTARA CINTA DAN ALLAH

Setahu saya, jika seorang lesbian disuruh memilih antara cinta atau Allah, dia akan memilih cintanya, sebab bukan hal yang mudah baginya untuk meninggalkan pasangannya lantaran terlalu cintanya pada cintanya, "Hubungan yang berdarah-darah" kata Lina mengibaratkan hubungannya dengan pacarnya.


Jika kita lebih mencintai "cinta yang salah (pacar sejenis.red)" daripada Allah, sehingga tidak rela melepas "cinta yang salah" tersebut untuk kembali ke jalan Allah, malah menjadikannya sesuatu yang sangat beharga dari apapun di dunia ini, muncul pertanyaan buat kita, "Siapakah pemilik hidup dan mati dari "cinta" kita ? Jika Allah memisahkannya dengan kita, bisakah kita melawan? lalu, jika kita memilih mempertahankannya dan meninggalkan Allah dan siap menanggung semua resiko di akhirat, kelak. bukan hanya kita yang akan bertanggung jawab untuk menanggung perbuatan kita, "cinta"pun akan bertanggung jawab pula atas dirinya di akhirat, sebab "cinta" juga hanya makhluk Allah yang sama seperti kita, sama sama manusia yang tak berdaya. Saat di padang Masyhar ,takkan ada lagi rasa cinta yang besar pada "cinta", kita akan lupa dengan "cinta" sebab saat itupun kita gelisah dengan amalan kita. Atau bisa jadi malah saat itu kita mungkin memperkarakan "cinta" pada Allah, sebab "cinta" yang melenakan kita hingga bermaksiat pada Allah. Jangankan untuk " seorang "cinta", di padang masyar seorang suamipun akan melupakan istrinya dan begitupun sebaliknya, Sebab semua manusia akan sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri. Jika seperti itu, bukankah kita harus memlih Allah, Tuhan yang memegang hidup mati kita dan "cinta" kita....? 

Karena itulah, kita harus rela melepas "cinta" untuk kebahagiaan dan kebaikkannya di dunia dan akhirat begitupun juga untuk kebahagiaan dan kebaikkan dunia dan ahirat kita....itulah yang disebut "Mencintai karena Allah".... ;

Namun walaupun begitu, masih ada juga lesbian yang tidak ingin melepas pacarnya dan tidak juga ingin melepas Allah-nya, tidak ingin memilih diantara keduanya. Hal yang saya maksudkan disini adalah, di sisi lain dia memilih tetap menjalani hubungan pacarannya dengan pacarnya, berhubungan suami istri bahkan hidup bersama dengan pacarnya membentuk sebuah keluarga. tetapi di sisi lain pula dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai hamba semisal melaksanakan sholat lima waktu. Di waktu yang lain beribadah dan di waktu yang lain bermaksiat. Terus terang saya tidak mengerti dengan pilihan seperti ini. Saya tak mengerti ketika beberapa homoseksual sholatnya jalan tapi berzina dengan pacarnya -pun jalan. Di sisi yang lain menyadari kesalahannya sehingga "takut" dan kemudian tetap menjalankan sholat, tapi disisilain "berani" pula melakukan kemaksiatan di hadapan Allah. Astagfirullah...
Ternyata perbuatan manusia yang suka bermain-main dengan Allah telah digambarkan Rasulullah dalam haditsnya :

" Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, IA MENJUAL AGAMANYA DENGAN KESENANGAN DUNIA " 

Hadits ini menggambarkan bahwa begitu mudahnya manusia menukar antara iman dan kekafiran dalam waktu yang sangat singkat, hanya berselang pagi dan sore ( belum cukup sehari), paginya ia seorang mukmin yang taat, tapi di sore harinya ia sudah menjadi seseorang kafir yang bermaksiat. Paginya melaksanakan perintah Allah namun sorenya melakukan larangan Allah untuk mendapatkan kesenangan dunia.


Inilah perbuatan yang terkategori suka mengolok-ngolok Allah dengan cara mempermainkan antara keimanan dan kekafiran, mengolok - ngolok Allah dengan mempermainkan antara perintah dan larangan Allah dalam waktu yang singkat...Apakah Allah menyukai manusia yang berbuat seperti ini? Yang saya mengerti adalah bahwa "liwath" atau hubungan homoseksual adalah termasuk sebuah dosa besar yang para pelakunya cepat atau lambat akan mendapatkan azab Allah. Seorang yang sholat-pun ketika dia melukai saudaranya dengan perkataannya maka Allah tetap akan menghukumnya apalagi jika dia benar benar melakukan perbuatan "liwath" yang merupakan dosa besar oleh Allah?
Sejatinya pula makna dari sholat adalah untuk mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, jika sholatnya tidak mampu menghalanginya dari perbuatan keji dan mungkar ini (liwath), maka bisa jadi sholatnya hanya sekedar "gerakan" semata. Jika seperti itu, apakah dengan sholat namun tetap melakukan perbuatan "liwath" akan menghilangkan Azab Allah? 

Saudariku sayang, Hitam takkan pernah bisa menjadi putih dan putih pun tak bisa menjadi hitam. Daerah abu-abu pun tak ada, karena pilihan hanya dua, maksiat atau taat? karena tempat kembali hanya dua yaitu surga atau neraka. Memilih untuk kembali ke jalan Allah dengan meninggalkan pacar sejenis dan tetap istiqomah memang berat tapi itulah yang disebut dengan "Ujian Mencintai Tuhan".
Mencintai Tuhan insya Allah tidak akan membuat kita kehilangan cinta, sebab Tuhan-lah yang akan mengarahkan kita kepada cara mencintai yang benar sesuai fitrah sehingga aktifitas mencintai kita akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat...buatlah pilihan sekarang juga, "cinta" atau Allah? 

 APAKAH PENYAKIT INI BISA SEMBUH?  

Banyak psikiater dan bahkan para homoseksual yang tidak percaya bahwa penyakit ini bisa sembuh. Tapi saya percaya bahwa penyakit ini bisa sembuh. Sebab kenapa : Rasulullah SAW bersabda :



"Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, semua ada obatnya kecuali kematian"
Lalu apa obatnya? Allah berfirman, :

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82) 


Sabda Rasulullah ini bukan hanya untuk penyakit luar, penyakit dalam-pun apapun itu insya Allah ada obatnya. Itu artinya penyakit ini bisa disembuhkan walaupun sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Dan untuk kesembuhan yang optimal maka obatnya pun harus yang optimal, Dan kata Allah, obat yang paling optimal dari segala macam penyakit di dunia adalah Al-Qur'an.


Salah satu buktinya, ada kenalan teman saya. Dia adalah seorang buchi tulen. Bahkan mungkin dia sudah bisa disebut sebagai seorang sentul. Namun ketika dia berhijrah dengan mulai mendekat kepada Allah, perlahan lahan dia mulai melepas semua perasaan suka sesama jenisnya. Alhamdulillah sekarang dia telah menikah dan punya anak. Dia sendiripun konsisten untuk putus hubungan dengan lingkungannya agar bisa sembuh. Ketika ditanya apakah ia masih punya perasaan pada wanita? Ia mengatakan bahwa alhamdulillah, perasaan itu sudah hilang. Sekarang-pun juga ada seorang mantan gay yang saya kenal yang sedang berusaha sembuh dari masa lalunya. Alhamdulillah, sekarang dia sudah menikah dan punya anak. Namun perasaan suka sesama jenisnya belum sembuh total. Tapi saat ini teman mantan gay saya tetap melawan semua hawa nafsu yang muncul ketika ia melihat laki-laki yang menarik perhatiannya. Sebuah kalimat dalam surat email yang ia kirimkan kepada saya yang saya tangkap: “Saya tau saya belum bisa sembuh, kalaupun ini tidak bisa sembuh maka biarlah ini menjadi ujian saya ketika menjalani kehidupan ini. Dan antara hawa nafsu dan keimanan, saya lebih memilih mempertahankan keimanan saya kepada Allah. Karena esok, keimanan inilah yang akan menjadi kebanggaan saya ketika menghadap Allah kelak. Saya ingin kembali kepada allah dengan membawa iman ini”.


Membaca suratnya, air mata saya jatuh. Saya begitu terharu pada teman mantan gay saya tersebut. Saya sedikit bisa merasakan rasa sakit yang dia tahan. Sebab saya tau bahwa dunia gay dan lesbian adalah dunia yang ketika seseorang sudah berani memasukinya maka sulit untuk keluar kembali. Dia memilih menikah dengan seorang wanita yang selama ini menjadi makhluk asing baginya tentu bukan perkara yang mudah. Namun itulah pilihan hidupnya. Sebab kembali dengan keadaan khusnul khotimah adalah impiannya. Untuk saudaraku ini saya tulus berdoa kepada Allah, semoga Allah menjawab doa-mu, menyembuhkan penyakitmu sebelum engkau menghadap Allah. Dan semoga selalu istiqomah di jalan Allah.;

Memang, kesembuhan untuk penyakit ini butuh proses yang lama, tidak semudah membalik telapak tangan. Dan dalam proses itu ada rasa sakit yang luar biasa ketika mencoba meninggalkan dunia homoseksual. Tapi yakinlah, rasa sakit yang dirasakan ketika menjalani proses untuk sembuh adalah ibarat paku yang sedang dicabut dari tubuhmu, setiap satu paku yang dicabut dengan rasa sakit itu berarti satu persen lagi kesembuhan yang engkau dapatkan. Dan yakinlah, bahwa setiap rasa sakit yang engkau rasakan selama menjalani proses kesembuhan, tidaklah sia-sia sebab Allah akan membayar rasa sakit tersebut dengan menggugurkan setiap dosa-dosamu. Dan lagipula, bersyukurlah ketika engkau masih bisa merasakan sakit untuk berubah, karena dengan rasa sakit itu engkau bisa menyadari betapa mahalnya sebuah kesembuhan sehingga engkau akan sangat menghargai arti kesembuhan itu sendiri dan dari situ pula engkau akan berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi merasakan rasa sakit yang sama di masa depan. Kata pepatah,

 "Orang pintar tidak akan pernah jatuh lagi pada lubang yang sama"

karena itu jangan lagi pernah terjatuh ke dalam dunia lesbian jika engkau sudah sembuh dan dalam tahap untuk sembuh. Jika teman lesbian dan teman gay saya bisa berubah, berarti anda yang homoseksual-pun pasti bisa berubah,...dengan niat yang kuat, yakin, dan usaha insya Allah bisa....
Setiap engkau merasa diri tak sanggup atas ujian saat sembuh dan godaan yang datang bertubi-tubi maka katakan pada diri

 "Saya tidak Mau Mati dengan "predikat"  Mayat Homoseksual saat menghadap Allah, Tapi saya ingin mati sebagai hamba Allah saat menghadap-Nya".  :')

ayo saudariku, Insya Allah Bisa, Bismillah. fighting...(^^) 

Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi semuanya, terlebih bagi saudari-saudariku yang sedang salah dalam melangkah. Jika ada kata kata saya yang salah dan menyinggung perasaanmu, maka maafkanlah saya. Sebab saya adalah manusia biasa yang punya salah dan khilaf. Saudari-saudariku yang saya sayangi. Semoga hatimu bisa terketuk dan tubuhmu bisa tergerak untuk segera meraih Cinta dan Ampunan Allah. Tak ada manusia yang suci di dunia ini yang terlahir tanpa dosa, tak ada manusia yang sempurna yang tak punya salah dan punya khilaf, tapi manusia yang lebih baik adalah manusia yang segera bertaubat ketika dia melakukan kemasksiatan tanpa menundanya. Dan manusia yang saling mengingatkan untuk kebaikkan.

"Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal.. Maka Aku akan mendekatinya sehasta... Apabila hamba-Ku mendekati-Ku sehasta... Maka Aku akan mendekatinya sedepa... Dan apabila hamba-Ku datang kepada-Ku dengan berjalan.... Maka Aku akan datang padanya dengan berlari..." 

Alhamdulillahi robbil 'alamin, buku saya yang berjudul  "diantara CINTA atau Cinta" telah selesai saya rampungkan. Buku ini adalah gabungan tulisan dari artikel, Lesbian antara Allah atau cinta satu, dengan Lesbian antara Allah atau cinta dua. Agar buku ini lebih fresh, saya menambahkan dengan beberpa hikmah dan tips tips untuk bisa sembuh secara terperinci. Buku ini sebagai jawaban dan permintaan beberapa teman teman, untuk membantu sahabat sahabat yang sedang salah dalam melangkah. Buku ini masih jauh darI sempurna, tapi di dalamnya ada sebuah harapan yang besar bagi mereka yang ingin sembuh, belajar untuk sembuh dan bertahan dalam kesembuhan.




 
cat : ini catatan saya tentang takdir yang menjadi jawaban dari pertanyaan teman teman yang masuk di email saya yang insya Allah berhubungan dengan artikel di atas. Semoga bermanfaat 


http://bidadarisurga-asiah.blogspot.co.id/2015/12/pilihlah-takdirmu-sendiri-karena-kamu.html








Thursday, December 29, 2011

Surat Cinta Hawa Untuk Adam...



Lama rasanya tangan ini tidak menulis lagi di blog, bukannya tak mau, tapi lagi sibuk dengan sebuah proyek dakwah kecil. Lagi mencoba menulis novel tentang cinta, tentang dakwah dan tentang pengorbanan…kisah tentang sebuah negeri nun jauh dari pandangan mata tapi amat dekat di hati. Palestine…negeri para syahid yang menunggu dibebaskan…sesaat setelah kota Roma itu ditaklukan, tempat hati ini tertawan. Yup, sekarang lagi sok jadi novelis gitu…layak atau tidak, bagus atau tidak, insya Allah tetap aku posting tulisan novelku di blog kecilku ini, dengan harapan akan menjadi batu-batu kerikil intifadah yang ketiga sekaligus Intifadah yang terakhir untuk Palestine oleh para perindu surga, untuk semakin semangat dalam berdakwah di jalanNya, sekaligus mencari diantara hamba-hamba Allah yang akan menjadi “sang Al-Fatih Kedua”…yang akan menaklukan kota Roma, dengan kepemimpinannya sebab dialah sang penakluk…yang tak tertaklukkan….

Tapi tulisan aku kali ini tidak akan membicarakan sang penakluk kota Roma, sebab itu proyek besar yang membutuhkan konsep dan strategi yang besar pula. Jadi aku tetap akan membicarakan sang penakluk, tapi ini sang penakluk yang lain, yaitu sang penakluk hati tapi tanpa syarat…he..he…^^

Beberapa bulan yang lalu, ada seorang lelaki datang menemui sahabatku, ia menawarkan hatinya. Karena ia adalah seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya, maka sahabatku menerima lelaki tersebut dengan hati yang ikhlas. Sahabatku membuka pintu hatinya untuk lelaki tersebut ketika lelaki itu mengetuk pintu hatinya dengan salam dan senyuman yang paling manis. Mereka berdua kemudian sepakat untuk bertaaruf, dengan berharap semoga Allah menjodohkan mereka dalam ridhaNya.
Jadilah lelaki ini menjadi sang penakluk hati sahabatku.

Suatu saat, sang penakluk itu mengirimkan surat pada sahabatku, sebuah surat yang isinya mampu membuat hati sahabatku tersentuh bahkan mungkin sangat tersentuh. Suatu waktu pula, mereka berdua berdiskusi tentang impian masa depan mereka, harapan-harapan mereka dan mimpi-mimpi mereka,yang akan diwujudkan mereka berdua setelah menikah. Namun ada satu hal pembicaraan yang membuat hati sahabatku sangat gelisah. Ketika sang penakluk berkata bahwa ia ingin punya banyak anak. Karena itu, syarat yang diajukan sang penakluk pada sahabatku adalah “kesuburan”.

Mendengar syarat itu, sahabatku menjadi gelisah. Bukan karena ia tak memenuhi syarat sang penakluk tapi ada sesuatu yang berkecamuk di pikirannya yang memaksanya untuk gelisah. Sebagai wanita, wajar sahabatku merasa senang mendengar ke-inginan sang penakluk. Senang karena kelak jika mereka berdua berjodoh, maka pada rahim sahabatku nanti insya Allah,akan mengandung anak-anak sang penakluk. Anak-anak yang sholeh yang akan membantu sang penakluk, berjuang untuk agama Allah. Dan gelisah karena sahabatku sadar bahwa urusan anak adalah urusan Allah, Dzat yang menciptakan manusia. bukan urusan sahabatku dan sang penakluk.

Walaupun begitu, sahabatku tak ingin menghapus perasaannya pada sang penakluk, karena sahabatku tau bahwa, itu adalah sebuah keinginan hati sang penakluk yang harus dihormati dan dihargai. Keinginan seorang lelaki yang ingin menjadi ayah dari sebuah pernikahan sacral walaupun syaratnya adalah “kesuburan”. Sebuah syarat yang mengikuti anjuran dari sang Rasul pilihan, yang begitu bijaksana sekaligus memiliki muatan politis yang tinggi.

Kemudian pada suatu saat, aku berkunjung ke rumah sahabatku, kudapati ia dalam gelisahnya. Akupun mencoba untuk mencari tau apa penyebabnya. Sahabatku bercerita padaku tentang syarat yang diajukan oleh sang penakluk hatinya. Dan itu sudah kuceritakan pada kalian para blogger di tulisan awal. Akupun mencoba berdiskusi dengan sahabatku menyangkut syarat mencari istri yang diajukan sang penakluk. Sang penakluk menginginkan agar wanita yang dinikahinya haruslah wanita yang subur. Karena kesuburan pula merupakan syarat bagi seorang wanita untuk dapat hamil. Kamipun berdiskusi tentang tugas seorang istri yang notabene adalah sebagai seorang wanita. Dimana sesungguhnya, adalah kaum yang didaulat oleh Allah sebagai makhluk yang akan mengandung dan melahirkan anak di dunia. Sungguh tugas yang mulia yang hanya Allah berikan pada makhluk yang paling peka perasaannya, paling kuat rasa sayangnya, paling besar rasa cintanya, yaitu wanita bukan pada kaum sang penakluk hati.

Berbicara tentang kesuburan, aku sering pula mendengar cerita teman-teman aku yang lain bahwa dalam sebuah taaruf seorang lelaki banyak yang menjadikan “kesuburan” sebagai syarat dalam memilih istri. Adalah hak mereka bagi laki-laki untuk mencari wanita yang subur demi mendapatkan keturunan. Toh seperti yang sudah aku jelaskan dari awal, bahwa menikahi wanita yang subur adalah anjuran utama dari Rasulullah.
Tetapi faktanya, pada beberapa kasus, kesuburan bukanlah jaminan seorang wanita dapat melahirkan anak ketika sudah menikah. Buktinya banyak wanita yang walaupun mereka secara klinis adalah wanita-wanita yang subur, tetapi apa daya, setelah menikah ternyata Allah belum mengaruniakan mereka anak. Tapi ada beberapa kasus pula, wanita yang sudah di vonis dokter tak akan bisa hamil ternyata malah bisa hamil bahkan mampu melahirkan anak-anak yang banyak.
Jadi sebenarnya ini bukanlah permasalahan "menikahi wanita subur" atau "tidak menikahi wanita tidak subur", tetapi bagaimana kita menyikapi bahwa permasalahan kehadiran anak dalam pernikahan adalah bukan urusan wanita ataupun laki-laki tetapi urusan Allah yang menciptakan wanita dan laki-laki. Dan itulah yang kini menjadi ganjalan di hati sahabatku.

Kemudian aku mencoba berdiskusi tentang hal ini dengan salah satu sahabatku yang telah menikah. Saat sedang berdiskusi, tanpa kuduga tiba-tiba sahabatku menangis di hadapanku. Aku bingung, aku merasa tak menyakiti maupun menghinanya. Kami hanya berdiskusi tentang kesuburan wanita yang menjadi syarat untuk melahirkan anak, yang kemudian dijadikan syarat pula oleh seorang lelaki ketika mencari istri. Namun sesaat kemudian aku mengerti apa arti dari tangisannya itu. Aku baru teringat tentang keadaan dirinya. Saat ini usia pernikahannya sudah menginjak tahun keempat, dan sampai saat ini juga ia belum dikarunia anak. Padahal ia termasuk wanita yang subur. Ceritaku telah mengingatkan akan nasibnya.

Di sore itu, langit meneteskan air mata kesedihannya, seolah mengiringi tangisan sahabatku. Saat itu, Aku hanya bisa memeluknya ketika tangisannya semakin menjadi. Selang beberapa lama tangisnya-pun mulai mereda. Setelah merasa lega, Ia pun menumpahkannya segala isi hatinya padaku. Apa yang ia inginkan, apa yang ia rasakan. Ia pun memintaku menyampaikan semua isi hatinya kepada para sang penakluk hati agar mereka mengerti tentang satu hal…sesuatu yang diluar kekuasaan wanita, sesuatu yang merupakan urusan Allah semata. Inilah ungkapan hatinya….



Wahai Sang penakluk hati, sang Adam tempat tulang rusuk Hawa bertaut

Izinkan aku mewakili kaum hawa melalui surat ini, mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi impian seorang wanita dan apa yang ada dalam hati serta benak mereka…

Seorang Wanita siapapun itu, tidak akan pernah menganggap dirinya "SEMPURNA" menjadi wanita sebelum dia menemukan tempat untuk menambatkan hatinya, sebelum ia memiliki tempat untuk bernaung, sebelum ia diikat oleh ikatan suci pernikahan, yah..sebelum ia sah menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang membuatnya menjadi sempurna.

Seperti Hawa yang diciptakan untuk menemani Adam yang kesepian, seperti itulah wanita diciptakan untuk kaum lelaki.Wanita diciptakan untuk menemani hari-hari kesepian kalian, wanita dititipkan di dunia untuk memberikan kebahagiaan di wajah kalian, wanita dilahirkan untuk mengabdi pada kalian ketika menjadi suaminya. Terlebih jika wanita tersebut sudah memiliki pemahaman islam, bahwa dengan menjadi istri yang sholehah bagi suaminya adalah sebuah jalan baginya untuk mendapatkan surga Allah. Maka dengan balasan surga yang menggiurkan, wanita mana yang tidak ingin menjadi sempurna?

Namun ternyata, setelah menjadi seorang istri, seorang wanita kembali tersadar bahwa menjadi seorang istri saja bukanlah sebuah kesempurnaan yang sejati. Tetapi jika dia sudah melahirkan dan kemudian memberikan anak pada suaminya,maka itulah kesempurnaan sejati baginya. Kesempurnaan itulah kebahagiaan yang terbesar dalam hidupnya tanpa bisa ditukar oleh kenikmatan apapun yang ada di dunia ini. Tidak oleh uang yang banyak, rumah yang mewah,dan harta yang melimpah…semua itu takkan mampu menawan hatinya.
Dan Tak ada pujian yang paling indah, tak ada panggilan yang paling membahagiakan hatinya,ketika ia dipanggil dengan sebutan “ibu”, oleh suara ayu sang anak…tak ada pelukan yang paling hangat selain pelukan anaknya yang berlari ketakutan mencari perlindungan dalam pelukannya…

Wahai Sang penakluk hati, lelaki yang menjadi imam di hati dan imam di rumah Kaumku
Mempunyai anak adalah sesuatu yang sangat penting dalam pernikahan sebab anak adalah penerus keturunan, cahaya mata kedua orang tua, sekaligus perekat keharmonisan antara suami dan istri. Ketika dalam pernikahannya selama kurun waktu bertahun-tahun, sepasang suami istri belum dikaruniai anak, orang-orang akan selalu menimpakkan seluruh kesalahan pada si wanita, mulai dari menuduhnya sebagai wanita tidak subur. Punya rahim subur-pun masih harus menerima kutukan lainnya yaitu sebagai wanita sial-lah atau cacian yang lainnya. Tanpa mereka berpikir bahwa masalah anak diluar kehendak kami para wanita. Diluar kekuasaan kami. Kami hanya makhluk lemah yang hanya bisa meminta kemurahan Allah dengan menyempurnakan kami dengan kehadiran anak.
Keputusan bukan pada tangan kami, tapi pada tangan Allah yang menciptakan kami.Haruskah kami dipersalahkan? yang menciptakan kami, haruskah kami dipersalahkan?

Wahai sang penakluk hati, lelaki yang mencintai kaumku
Di dunia ini, perkara apa yang paling ditakutkan oleh seorang wanita melebihi dari perkara hidup yang lainnya? Dengan jujur, seorang wanita akan menjawab, “perkara itu adalah melahirkan”.
Setiap seorang wanita yang sudah menjadi ibu, ketika dirinya ditanya, ”rasa sakit apa yang paling sakit yang pernah ia rasakan di dunia ini?”. Dengan senyuman ia akan menjawab, “Tak ada rasa sakit yang melebihi dari rasa sakit ketika melahirkan”.
Begitu kuatnya keinginan kami, seorang istri untuk mempunyai anak, mampu mengalahkan ketakutan kami terhadap rasa sakit melahirkan. Bahkan untuk melahirkan anak, kami harus rela mempertaruhkan nyawa kami, demi membahagiakan suami kami.
Walaupun resiko sakit yang luar biasa dengan taruhan nyawa, ikhlas kami tanggung, tapi Allah juga belum mengabulkan doa kami…Haruskah kami dipersalahkan…..Haruskah kami ditinggalkan?

Tahukah Sang penakluk hati,... berapa banyak rasa sabar yang disiapkan oleh seorang istri dalam hatinya ketika semua orang datang menghina dan menyalahkan dirinya karena belum mampu untuk melahirkan seorang anak?

Tahukah Sang penakluk hati,... berapa tetes air mata seorang istri yang jatuh setiap harinya untuk meminta kehadiran sang anak?, air mata yang selalu menghias dalam sujud mereka, dalam hening mereka, atau air mata yang disembunyikan dalam hati mereka ketika menatap wajah suami mereka dengan memberikan senyuman mereka yang termanis, namun sebenarnya mereka menyimpan tangisan itu sendiri jauh dalam lubuk hati mereka yang luka.

Tahukah Sang penakluk hati,... berapa ratus doa yang dipanjatkan seorang istri setiap harinya untuk dikasihani oleh Rabbnya agar rahim mereka dapat mengandung? Berapa juta bait-bait cinta yang mereka lantunkan setiap harinya untuk menarik hati Rabbnya agar mereka dapat melahirkan? Bahkan mereka berdoa dalam keputus asa-annya…

Tahukah Sang penakluk hati,... berapa ribu kata maaf yang ingin disampaikan seorang istri pada suaminya, karena belum mampu membuat suaminya menjadi seorang “Ayah”? …kata maaf yang hanya bisa ia sampaikan lewat tatapannya, senyumannya dan belaiannya, tanpa disadari oleh suaminya….

Tahukah Sang penakluk hati, seorang suami diberikan "empat kali kemurahan" oleh Allah untuk mendapatkan anak, sementara seorang istri diberikan empat kali kesabaran oleh Allah untuk mendapatkan keikhlasan, Lalu dalam hal ini, sebenarnya siapa yang paling menderita…? Kalian seorang suami atau kami seorang istri? Jika seperti itu, Haruskah kami disalahkan? Haruskah kami ditinggalkan?

Wahai Sang penakluk hati yang semoga Allah mengaruniakanmu sebuah hati yang hangat…

Seorang istri-pun tahu bahwa seorang suami pasti ingin mempunyai anak. Seorang istri bukanlah batu yang tak bertuah, seorang istri bukanlah wanita yang tanpa perasaan. Ketika melihat kesabaran suaminya yang dengan sabar dan setia mendampingi mereka, hati seorang istri pasti akan tergerak untuk meminta suaminya mengambil “tawaran Allah" yang lain” untuk mendapatkan anak. Demi cinta kepada suaminya, seorang istri harus memaksa dirinya untuk ikhlas menerima aturan itu, walaupun jujur,itu meremukkan seluruh tubuhnya bahkan menghancurkan hatinya.

Wahai Sang penakluk hati…Lelaki yang berjiwa besar…
.
Suratku ini, bukan untuk membuat hati kalian tak nyaman, bukan untuk membuat kalian terikat …selamanya. Tetapi suratku ini hanya ingin mengungkapkan perasaanku, perasaan kaumku, bahwa kesempurnaan kami adalah ketika kami telah mampu melahirkan seorang anak bagi kalian.

Aku tak ingin menyalahkan kalian yang berkeinginan untuk mendapatkan anak dengan syarat mencari wanita yang subur, itu hak kalian, sebab itu anjuran Rasulku yang hendak membanggakan kalian dan keturunan kalian dihadapan Allah.Dan aku sangat setuju tentang hal tersebut. Sebab tentara-tentara islam dan para penakluknya haruslah terlahir dari rahim seorang wanita yang subur.
>
Tetapi aku hanya ingin kalian sadar bahwa keinginan kami untuk dikaruniai anak jauh lebih besar daripada keinginan kalian. Jika kalian para lelaki menghadirkan satu hasrat untuk dikaruniai anak, maka kami kaum wanita,menghadirkan seratus bahkan seribu hasrat untu dikaruniai anak. Sebab ini menyangkut kodrat penciptaan kami di dunia, menyangkut kesempurnaan kamisebagai wanita.

Karena itu hargailah kami dan perasaan kami.Janganlah menyalahkan kami,janganlah menghujat kami, janganlah mencela kami, ketika rahim rahim kami belum berbuah. Sebab sekali lagi, urusan anak adalah diluar kekuasaan kami…tapi adalah kekuasaan Tuhan yang menciptakan kami.

Dalam penantian, aku selalu berdoa kepada Allah bahwa semoga Allah mengaruniakan rahimku sebagai tempat untuk melahirkan anak-anak yang akan menjadi cahaya bagi orang tuanya dan menjadi tentara-tentara islam yang kelak akan menaklukan kota roma di masa yang akan datang.

Dan teruntuk Suamiku, aku ingin membisikkan kalimat mesra ini di telingamu,

“Abi, jika nanti kesabaranmu itu tlah habis untuk menanti anak dariku, maka ajukanlah proposal nikahmu padaku….sebab aku mencintaimu karena Allah…"

Kudengar suara sahabatku bergetar ketika kalimat itu ia ucapkan di bibirnya,kulihat air mata itu tumpah dari bening matanya. Kurasakan hati yang sedang mencoba untuk ikhlas…
Aku sadar, seperti Itulah wanita, kaumku,diriku,yang walaupun akal kami penuh dengan berbagai kajian pemikiran yang seolah menguatkan kami,tapi sesungguhnya kami adalah wanita yang terlahir dengan perasaan yang melekat pada kami. Kami lemah, sangat lemah. Kini, Aku memeluknya untuk kesekian kali…saat ia mulai menangis lagi.

Aku pun teringat sebuah kisah sahabatku yang lain, ketika setahun masa pernikahannya, dokter memvonisnya terkena kista rahim dan dia harus menjalani pengobatan…agar dia bisa punya anak. Sekarang pernikahnnya sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Alhamdulillah suaminya tetap sabar menerima keadaan itu sambil menguatkan hati istrinya.

Ada pula, kisah mengharukan dari sepupuku, dokter sudah memvonisnya tidak akan memmpunyai anak karena rahimnya telah rusak, di tahun kelima pernikahannya. Dia sudah pasrah dan mengajukan cerai pada suaminya, tetapi suaminya bersikeras menolak untuk menceraikan sepupuku. Tapi siapa yang sangka, di tahun berikutnya, Allah malah mengizinkan rahimnya untuk mengandung. Ditahun berikutnya lagi dia mengandung pula…dan Alhamdulillah sekarang ia telah dikaruniai empat orang anak yang tampan dan cantik. Subhanaullah…Apa sih yang tidak bagi Allah?

Memang dalam kehidupan ini, ada wilayah perbuatan yang dikuasai oleh manusia (manusia sendiri yang berkehendak untuk berbuat tanpa dipaksa) dan ada wilayah perbuatan yang tidak dikuasai oleh manusia (diluar kehendak manusia, dan manusia dipaksa untuk menerima). Para istri misalnya, jika mereka tak tau memasak, dan diminta untuk belajar memasak oleh suaminya, dan sang istri bersedia belajar memasak dan akhirnya dia bisa memasak maka keadaan dari tidak tau memasak hingga tau memasak adalah wilayah perbuatan yang dikuasai oleh sang istri. dia boleh memilih mau belajar atau tidak belajar., "tau memasak" adalah hasil mutlak yang akan dia dapat karena ada "usahanya".(kehendak). Tapi dalam hal mempunyai anak, itu masuk di wilayah perbuatan yang tidak bisa dia kuasai, dia hanya bisa berusaha (berobat jika ada masalah) tapi hasilnya, itu diluar kehendaknya, karena Allah-lah yang memutuskan apakah dia akan mengandung atau tidak. Inilah yang seharusnya dipahami oleh para suami dan orang-orang yang suka menyalahkan pihak wanita jika dia belum memberikan anak.

Begitulah, manusia boleh bersyarat, boleh memilih, tapi sesungguhnya Allah jualah yang menentukan. Para penakluk hati boleh bersyarat, boleh memilih untuk mendapatkan istri yang subur, tapi Allah-jualah yang menentukan kehadiran anak tersebut.
Ada sedikit pertanyaan menggelitik yang diajukan sahabatku pada diriku,pertanyaannya adalah, “mengapa laki-laki yang “tidak berpemahaman” lebih sabar dan setia pada istrinya dalam menunggu kehadiran anak dari pada laki-laki yang “berpemahaman” tapi kurang sabar dalam menunggu hingga mencari madu yang lain buat istrinya, sehingga dibilang tak setia?

Akupun menjawabanya dengan jawaban yang menggelitik pula,“karena laki-lakiyang tidak berpemahaman, tidak mengenal poligami, tak tau ada jalan menuju roma, sehingga mereka tetap sabar dan setia, lagipula jika mereka berani,bisa-bisa nyawa taruhannya, berbeda dengan laki-laki yang punya pemahaman, mereka mempunyai pengetahuan tentang poligami, sehingga mereka tau ada jalan menuju kota roma, sehingga mereka tak sabar untuk mencari jalanmtersebut….he…he…he…(bercanda .)

Jadi artikel saya kali ini, ingin sedikit membuka hati bagi para penakluk hati,bahwa menikahi wanita subur atau tidak menikahi wanita tidak subur bukanlah halyang harus kita permasalahkan. Itu sah-sah saja. Tapi yang harus dipermasalahkan adalah adanya orang-orang yang tidak mempunyai hati yang selalu menyalahkan, mencela, kaum wanita jika ia belum mampu menghadirkan anak pada pernikahannya. Tanpa dihina atau di celapun mereka sudah merasa tertekan dengan ujian yang Allah berikan pada mereka. Yang masalah adalah para suami yang tak sabaran sehingga meninggalkan istri mereka begitu saja, tanpa peduli pada perasaan mereka sedikitpun.


Bagaimanapun juga, tetap berikan cinta itu pada istrimu, bahkan harus dilebihkan. Tetap berikan sayang itu pada mereka, bahkan harus dilebihkan.Tetap kuatkan mereka dengan kesabaran, bahkan harus dilebihkan…semoga dengan begitu Allah menjawab doa kalian dengan Anak yang sholeh dan sholehah….Amin

Sesungguhnya wanita adalah seorang Hawa yang diciptakan untuk menemani Adam.Jika Hawa mencintai Adam tanpa syarat maka Adam-pun harus mencintai Hawa tanpa syarat...

Tuesday, November 29, 2011

Cinta Untuk Cinta II



Cintaku ini Wahai Cinta...
Penuh Dengan Segala Kelemahnnya
Penuh Dengan Segala Kekurangannya
Penuh Dengan Segala Ketidakberdayannya

Karena Itu Wahai Cinta...
Sempurnakan cintaku Dengan Kekuatan-Mu
Sempurnakan cintaku Dengan Kelebihan-Mu
Sempurnakan cintaku Dengan Kekuasaan-Mu

Namun Terkadang Aku Akui....
Cinta Mampu Menyilaukanku Dengan Pesonanya
Cinta Mampu Memabukkanku Dengan Keindahannya
Cinta Mampu Mengusikku Dengan Keberadaannya

Tapi, cinta Takkan Pernah Mampu Memalingkan Hatiku Dari Mencintai-Mu
Karena Dengan Mencintai-MU.....

Maka cintalah Yang Tersilau Akan Pesonaku
Maka cintalah Yang Mabuk Karena Keindahanku
Maka cintalah Yang Terusik Dengan Keberadaanku

Sesungguhnya cinta Lupa...
Dia Bukan Apa-Apa..
Karena Dia Ada....
Berawal Dari Kecintaanku Pada-Mu...

Demi cinta Untuk Cinta
Aku Rela Melepas cinta
Karena Aku Tau..
Cinta Yang Kulepas Akan Pergi
Tapi Cinta-ku Yang Kucinta Takkan Pernah Pergi
Sebab Cinta-ku Akan Tetap Mecinta
Pada Orang-Orang Yang MencintaiNya

Pada-Mu Cinta....
Pada cinta Untuk Cinta


Asiah Muslimah..... T T

Tuesday, August 2, 2011

Mengejar Malam Lailatul Qadar



Tulisan ini lahir dari sebuah eksperimen yang tidak di sengaja, lahir dari sebuah kesadaran penuh melalui beberapa kali kegagalan dalam mendapatkan sebuah malam yang penuh dengan ampunan, yaitu Malam Lailatul Qadar. Sebuah kisah dari seorang sahabat saya, yang ingin saya bagi dengan teman-teman. Kebetulan kisahnya hampir sama dengan kisah saya pula dalam mengejar malam Lailatu Qadar. Kebetulan yang tidak disengaja. Kisah yang ingin dibagi agar semua umat muslim itu sadar bahwa betapa beruntung dan berbahagia bagi orang-orang yang mendapat Malam Lailatul Qadar dan betapa Na’asnya dan kerugian terbesar bagi orang yang tidak mendapatkan Malam Lailatul Qadar tersebut. Yuk baca, siapa tau anda mempunyai kisah yang sama dengan sahabat saya dan saya. ^^

Mengenal Lailatul Qadar

Kata pepatah, “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Pepatah itu benar adanya. Dulu ketika Ramadhan itu datang, saya hanya menganggapnya sebagai bulan yang biasa saja. Paling yang membedakan yaitu jam makan pagi, siang dan malam saja. dengan bulan biasa. Puasa saya hanya sekedarnya, tak mungkin di tinggalkan karena ini sebuah kewajiban. Sholat tarawih saya hanya sekedar pula, mumpung hukumnya sunnah, dikerjakan dapat pahala ditinggalkan tidak mendapatkan apa-apa. Begitulah karena tak tau keagungannya, bulan Ramadhan selalu berlalu begitu saja….tak ada penyesalan. Mungkin ini pula yang dirasakan oleh orang-orang yang belum punya ilmu tentang Ramadhan.

Tapi rasa sayang kepada Ramadhan itu akhirnya muncul ketika saya belajar untuk mengenal Ramadhan dan mengenal segala keistimewaan dalam bulan tersebut…( itulah pentingnnya mengapa kita harus belajar islam.)
Saya baru tau bahwa, di bulan Ramadhan, Allah memberikan seluas-luasnya kesempatan kepada hamba-hambanya untuk memperoleh ampunan dari-Nya. Pada bulan Ramadhan, Allah menutup rapat-rapat pintu Neraka dan membuka selebar-lebarnya pintu Surga bagi umatnya yang mau mencari ampunan di bulan Ramadhan. Begitu istimewanya bulan Ramadhan, Rasulullah pun bersabda :

“Apabila umat ini tahu apa yang ada dalam Ramadhan, niscaya mereka akan mengharapkan hal itu selam satu tahun penuh.” (HR Tabrani).

Pada bulan Ramadhan pula, Setan-setan yang menggoda manusia di belenggu. Allah tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada setan-setan untuk menggoda manusia. Inilah bukti bahwa Allah memudahkan kita mencari ampunannya dengan menutup semua jalan yang bisa membuat kita terjerumus ke dalam kemaksiatan. Tapi yang aneh-nya walaupun setan-setan sudah di belenggu masih saja ada manusia yang berbuat kejahatan ,keburukkan alias kemaksiatan. Disinilah kita bisa menyadari bahwa manusia-manusia yang melakukan kemaksiatan di bulan puasa ternyata “setannya adalah dia sendiri” yang menjelma dalam tubuh manusia. Maaf, menurutku manusia yang melakukan kekhilafan di bulan Ramadhan telah melakukan sebuah “Kebodohan”. Kenapa? Jikalau di bulan biasa, manusia melakukan kemaksiatan karena ada faktor dorongan dan bisikkan dari setan, sehingga bisa dimaklumi, tapi di bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu, sehingga kemaksiatan yang dilakukan adalah “Murni” dari dalam dirinya sendiri. Wajar khan kalau saya menyebutnya sebuah “Kebodohan”? 

Sealain itu, pada bulan Ramadhan, di dalamnya terdapat sebuah malam istimewa yang disebut dengan Malam Lailatul Qadar. Begitu istimewanya, sehingga Allah menfirmankannya di dalam Al-Quran yaitu :

“Sesunguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS al-Qadr [97]: 1-5).

Subhanaullah…hanya untuk sebuah malam, Allah mengukirnya dalam kitab-Nya agar manusia sadar tidak ada malam yang penuh ampunan selain malam Lailatul Qadar tersebut. Dalam riwayah yang pernah saya baca pula dikatakan bahwa pada malam tersebut, Allah sendiri turun ke langit untuk langsung menjabah doa hamba-hambanya yang bangun berdoa di malam tersebut. Tak ada doa yang tertolak pada malam tersebut…semua terjabah….^^.

Rasulullah SAW bersabda tentang Ramadhan dan Malam Lailatul Qadar :

Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun ». kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka (HR Al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)

“Barangsiapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadr, niscaya diampuni dosa-dosanya yang sudah lewat. (HR Bukhari dan Muslim) 

Selain menyebutkan kemuliaan di malam Lailatul Qadar, Rasulullah juga memberikan secara rinci kapan dan dimana Malam Lailatul Qadar itu datang. Banyak sekali hadist yang menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar akan datang diantara tanggal ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (HR Bukhari) atau tujuh malam terakhir bulan itu (HR Bukhari). Walaupun Rasulullah sudah memberikan bocoran penting tersebut, tapi toh ternyata tidak semua orang bisa mendapatkannya, hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat kesempatan bangun di malam tersebut. 

Bayangkanlah hanya dengan beribadah pada malam tersebut, Allah akan langsung mengampuni segala dosa-dosa kita. Tapi pertanyaan yang muncul di benak saya, apakah mudah bagi kita untuk mendapatkan Malam Lailatul Qadar? Bukankah dia adalah malam istimewa? jadi yang berhak mendapatkannya tentu orang-orang yang istimewa pula. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita termasuk orang-orang yang istimewa? Dan apa yang menjadikan kita bisa menjadi istimewa untuk mendapatkan malam tersebut?

Dan sebenarnya, ada sebuah hal yang tak pernah disadari oleh manusia ketika mereka berniat untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar itu. namanya juga malam bonus, tentu tidak semudah itu kita bisa mendapatkannya. Apa sebenarnya hal terpenting tersebut? Insya Allah saya akan membagikannya bagi teman-teman sekalian.

Sebuah Awal…

Sebagai makhluk yang penuh dhoif dan kesalahan, dimana dosa-dosa sudah menggunung, tentu saya sangat tergiur dengan malam lailatul qadar ini. Dimana Allah berjanji bahwa hamba-hambanya yang bangun beribadah pada malam tersebut, akan diampuni segala dosa-dosanya. Karena hanya tergiur pada malam tersebut saya baru meningkatkan ibadah saya pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan lebih focus pada malam-malam ganjil. Selama 10 hari mengejar qiyamul lail, saya hanya kecolongan satu hari saja. Pada malam tersebut saya mengalami ngantuk yang tidak tertahankan, hingga malam itu saya tak bisa bangun untuk sholat qiyamul lail. Tapi justru 1 hari itu adalah satu hari yang membuat saya menyesal selama setahun. Yah satu malam yang saya terlalaikan dengan ketiduran adalah malam lailatul Qadar. Kenapa saya bisa begitu pedenya menyebut malam yang saya lewati adalah malam lailatul Qadar. Karena saya berpatokan dari hadits Rasulullah tentang tanda-tanda hari dimana malamnya terdapat lailatul Qadar. Pada hari itu, cuaca sangat sejuk. Tidak panas dan tidak pula dingin... hari itu terasa nyaman, orang-orangpun merasa teduh pada hari itu.

Di tahun berikutnya saya masih dengan niat yang sama. Tapi kali ini saya berharap tidak kecolongan lagi. Pada 15 hari terakhir Ramadhan saya baru mulai melakukan qiyamul lail untuk mendapatkan malam lailatul Qadar. Tapi diantara 15 hari qiyamul lail saya kecolongan lagi satu hari. Masya Allah, malam itu ternyata malam Lailatul qadar pula. 

Kejadian yang sama terus berulang di tahun berikutnya. Disitu saya sudah mulai berpikir, mungkin dosa-dosa saya sudah terlalu banyak sehingga Allah-pun enggan mengizinkan saya untuk mendapat malam Lailatul Qadar. Saya mulai putus asa dengan diri saya.

Setahun kemudian, Ramadhan pun datang menyapa. Kali ini tak boleh gagal lagi. harus dapat, batin saya. Dari awal ketika terbenam matahari, yang menandakan berakhirnya bulan Sya’ban, saya sudah start untuk beribadah. Saya sudah melaksanakan Tarawih dari hari pertama. Banyak orang yang pulang ketika tarawih itu sudah berjumlah 8 rakaat tapi saya berusaha melaksanakan tarawih yang berjumlah 20 rakaat. Dimalam sebelum sahur, saya sudah mengisinya terlebih dahulu dengan sholat lail. Dan berusaha agar sholat lail itu tidak terputus tiap harinya. Dalam berpuasa di siang hari, saya berusaha untuk benar-benar menjalankannya dengan penuh keikhlasan mengharap ridho Allah. Bukan puasa yang hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Usaha saya mendapat hasil. Alhamdulillah selama Ramadhan, 30 hari, saya tidak kecolongan satu haripun dalam melaksanakn sholat lail. Insya Allah saya bisa memastikan saya tak kehilangan Malam Lailatul Qadar saya.

Mengambil Hikmah

Dari sini saya mulai tersadar. Ternyata ada beberapa kekeliruan yang dilupakan manusia ketika mereka ingin mengejar Lailatul Qadar. Kekeliruan kita adalah kadang kita baru mau start untuk qiyamul lail di 15 hari terakhir di bulan Ramadhan atau di malam-malam ganjil. Kita mengikuti petunjuk sebuah hadits yang mengatakan bahwa :

“Intailah malam lailatul qadar, pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” 

Justru maksud hadits di atas yang saya tangkap adalah, Rasulullah sudah sedari awal Ramadhan mulai beribadah, semakin mendekat 10 hari terakhir Rasulullah semakin meningkatkan aktivitas ibadahnya. Artinya apa, orang yang sadar sudah start dari awal ramadhan itu datang, kita baru mau start di pertengahan, bukankah artinya kita sudah terlambat Finish?

Anehnya lagi kita, di awal-awal saja yang rajin. Seperti masjid dekat rumah saya. Di awal-awal puasa, jamaah sholat tarawih membludak. Kadang sampai di jalanan shaftnya. Tapi semakin berlalu hari, semakin hilang satu shaft pula tiap harinya. Padahal di akhir-akhir Ramadhanlah letak keistimewaannya.


Untuk sebuah ampunan, kita enggan melaksanakan sholat tarawih, setidaknya lakukan dulu sholat tarawih  sekurang-kurangnya 8 rakaat saja. Jika ingin dapat bonus lebih kerjakanlah lebih dari itu, misal 10, 12 dst hingga maksimal 20 rakaat. Insya allah setiap ibadah sekecil apapun dengan keikhlasan bernilai di mata Allah. Hanya jika kita benar-benar ingin mencari ampunan, kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam beribadah. 

Untuk sebuah ampunan, kita enggan melaksanakn sholat-sholat sunnah padahal shalat sunnah di bulan ramadhan nilai pahalanya sama dengan shalat wajib. 

Untuk sebuah ampunan, kita enggan melaksanakan Qiyamul Lail dari awal Ramadhan itu datang. Kita baru mau mengerjakan nanti pada akhir-akhir Ramadhan. Seorang teman bercerita kepada saya. Di 10 hari terakhir ramadhan, masjid dekat rumahnya mengadakan sholat qiyamul Lail yang dimulai tepat jam 2 malam. Teman saya datangnya terlambat, sholat sudah di mulai. Tahu khan kita bahwa sholat lail di masjid sangatlah lama, entah bacaanya, sujudnya, rukunya, semuanya lama. Di rakaat ke empat teman saya sudah merasakan pegal-pegal di seluruh badannya, dalam setiap sujudnya, rukunya selalu gelisah. Dia merasakan bahwa orang-orang di sampingnya ini pergerakannya cepat, tidak tertinggal dengan pergerakan imam, tenang dalam setiap sujud dan ruku yang terbilang begitu lama. Tidak seperti dirinya yang selalu terlambat mengejar imam, itupun sujud dan rukunya semakin lama semakin gelisah. Baru 1 malam qiyamul lail, encoknya dah kambuh.  Dalam hati temam saya bergumam. “wah hebat-hebat betul orang-orang disamping saya ini. Pasti mereka seusia saya”. Ketika ia menolehkan kepalanya ke kanan di akhir salam, dia terkejut. 

Ternyata orang-orang yang semangat dalam sholat itu, yang bertahan lama dalam setiap sujud dan ruku yang lama keseluruhannya adalah nenek-nenek yang diatas 60-an. Dia pikir saingan dalam sholatnya adalah anak-anak muda seusianya ternyata dia salah. Malam itu sebenarnya teman saya itu sudah tidak bisa bertahan lagi ikut qiyamul lail. Tapi karena melihat rival sholatnya adalah nenek-nenek, hatinya menjadi malu sama Allah. “Masa saya kalah dengan nenek-nenek ini, mereka saja mampu. Masa saya tidak”. Akhirnya teman saya tetap bertahan dengan sisa tenaganya yang ada. Di malam qiyamul lail berikutnya, dia ikut pula tapi kali ini dengan persiapan tenaga yang maksimal, dirinya tak ingin kalah lagi yang kedua kalinya dalam melaksanakan qiyamul lail. “Kan lawanku nenek-nenek ji, masa saya anak mudah kalah”. Ujarnya semangat.

Untuk sebuah ampunan, kita sedikit membaca Al-Quran di bulan Ramadhan, Berupayalah minimal dalam sebulan kita bisa satu kali mengkhatamkan Al-Quran. Jika ingin bonus lebih,  lakukanlah lebih dari satu kali khatam. Jangan kita menjadi orang  yang tak pernah sekalipun mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan. Padahal, sebenarnya kita bisa lebih dari itu. Acuan saya adalah, Seorang nenek tetangga saya yang sudah berumur 60-an, mampu menamatkan Al-quran paling kurang 3 kali dalam bulan ramadhan. Subhanaullah….Saya aja mengaku kalah sama tuh nenek-nenek. saya paling banter  hanya satu kali.

Untuk sebuah ampunan, kita berpuasa hanya sekedarnya. Sekedar menahan lapar dan haus. Prinsip kita, biar hari itu kita bertengkar dengan orang lain, marah sana-sini, hujat sana sini, mengunjing sana sini, bohong sana sini yang penting belum ada air yang masuk di tenggorokkan, belum batal. Sebuah legalitas untuk batalnya puasa. Tapi tak tahukah kita hal-hal di atas tentu saja sudah menjadikan puasa kita batal dengan sendirinya. Makanya saya kalo ada orang marah-marah di bulan puasa, saya langsung menghampiri orang tersebut dan kemudian menyodorkan air putih. Minta dia langsung minum saja. ^^

Oleh karena itu, jika kita benar-benar ingin mendapatkan Malam Lailatul Qadar, kita sudah harus berjuang dari awal Ramadhan dengan meningkatkan kualitas ibadah kita setiap harinya sampai pada nilai maksimal, tentu saja di sesuaikan dengan kemampuan kita. Jangan juga melakukan ibadah yang tidak ditunjang oleh kemampuan tubuh kita, sehingga membuat tubuh kita sakit pada akhirnya. Kita yang tau sendiri, sampai dimana kemampuan kita dalam beribadah.

Janganlah puasa dengan setengah hati, janganlah tarawih dengan setengah hati, janganlah qiyamul lail dengan setengah hati, begitu pula janganlah ikhlas dengan setengah hati, janganlah takwa dengan setengah hati. Sucikan niat kita ketika Ramadhan itu sudah datang menyapa. Berniat dengan ikhlas untuk mencari ampunan Allah pada bulan ramadhan. Insya Allah, anda akan mendapatkan Malam lailatul Qadar tersebut.

Yuk Merenung….!

Teman-teman sekalian yang dirahmati Allah, artikel ini tidak mengatakan syarat apapun untuk mendapatkan malam lailatul Qadar , karena jika ini syarat maka sudah tentu banyak orang yang tidak mampu melakukannya termasuk diri saya pribadi. Artikel ini hanya merupakan sedikit acuan dari sekian banyak acuan dalam mendapatkan lailatul qadar. Yang lahir dari kisah pengalaman saya dan sahabat saya dalam mengejar Malam Lailatu Qadar. Sehingga dari pengalamannya tersebut telah lahir sebuah hikmah, yang ingin dia bagi bersama kita agar kita termotivasi lebih untuk mengejar Lailatul Qadar. Karena ini hikmah yang ia petik dari pengalaman pribadinya, tentulah tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Karena itu saya kembalikan kepada Allah bahwa kebenaran mutlak adalah dari sisi-Nya. 

Teman-teman sekalian yang dirahmati Allah sejatinya bulan ramadhan adalah momentum bagi kita untuk benar-benar mengejar ampunan dari Allah SWT. Datangnya pun hanya sekali dalam setahun. Oleh karena itu alangkah sayangnya jika kita membiarkan ramadhan itu berlalu begitu saja. Marilah kita beribadah dengan upaya-upaya maksimal bukan dengan upaya minimal mencari pengampunan Allah. Karena tidak ada jaminan kita bisa mendapatkannya tahun depan. Sebab penyesalan itu tentu tidak ada gunanya.
Sayang-khan jika 30 hari itu berlalu begitu saja.?
Oke, Semoga bermanfaat...dan dengan keikhlasan dan rendah diri, saya meminta sahabat semua untuk menyelipkan nama  saya Asiah Muslimah, dalam sholat sahabat, apatah lagi dalam lail yang mengintai malam lailatul qadar, Karena doa seorang muslim kepada saudaranya insya Allah terjabah. tolong doakan saya agar saya diberi kesehatan, disembukan segala penyakitnya yang tampak maupun yang tidak tampak, diberikan rezeky yang banyak untuk membantu dakwah islam, dan dijadikan wanita yang sholehah untuk dunia dan akhirat. Saya mengucap terimkasih atas doanya, doa sahabat begitu berarti bagi saya. dan doa yang sama pula untuk sahabat. aamiin...aamiin...aamiin.. dan selamat berjuang untuk menggejar Malam Lailatul Qadar....

(Wallahu A’lam Bisshawab).

Sunday, June 26, 2011

INILAH ARTI KECANTIKKAN ITU !


MENURUT ANDA, MANA YANG PALING CANTIK; ???























Temanku itu wajahnya begitu cantik…terlalu cantik malah. Mulai dari hidungnya yang mancung, dan bibir yang seksi seperti artis hollywood Angelina jolie. Kulitnya putih. Posturnya tinggi dengan body yang semampai. Rambutnya lurus dan panjang. Dia adalah primadona di sekolahku. Rasanya tak ada cowok di sekolah yang tak pangling jika sudah melihatnya. Setiap hari selalu saja ada salam yang dititip cowok untuknya. Terkadang aku iri juga dengan kecantikan yang Allah anugerahkan padanya. Kalau lagi gak ada kerjaan, kadang aku membandingkan wajahnya dengan wajah teman-temanku yang tak dianugerahi kecantikan. Kadang-kadang juga kubandingkan dengan wajahku sendiri. Saat seperti itulah aku berpikir bahwa Allah itu tak adil. Mengapa Allah tidak menciptakan wajah wanita semuanya cantik, dan mengapa harus ia yang dianugerahi kecantikan…kenapa dia harus lebih cantik dariku? ^^ Singkat kata singkat cerita, temanku itu pada akhirnya hamil di luar nikah, dan tragisnya mati dibunuh oleh pacarnya sendiri lantaran rasa cemburu yang tinggi....yah berakhirlah nasib temanku yang cantik itu….

Bukannya mengambil pelajaran, aku malah semakin terpicu untuk lebih mempercantik diriku lagi. Sebenarnya untuk penilaian wajah, aku masih terkategori lumayanlah, gak cantik gak juga jelek. Banyak juga pria yang yang jatuh cinta padaku sampai rela menjadi body guard ku… Tapi Aku masih saja tak bersyukur. Aku ingin cantik yang lebih, yang ketika para lelaki melihatku matanya langsung juling, yang ketika aku berjalan melewati mereka, para lelaki akan langsung mengekor di belakangku, yang ketika aku tersenyum pada mereka dengan memperlihatkan gigiku yang putih mereka langsung tersilau, yang ketika aku berada di keramaian, akulah yang menjadi pusat perhatian. Kayak iklan gitu…

Karena itu, Mulailah segala produk kecantikan aku pakai. Entah yang membuat wajahku putih berseri sampai merona, yang menjadikan kulitku putih dan halus, dengan produk-produk dari merek yang paling murah sampai yang paling mahal rela aku beli demi sebuah kecantikan, aku menjaga tubuhku agar tetap terlihat langsing biar kayak pragawati dan juga…Diet….diet…diet….demi sebuah tujuan yaitu untuk menjadi yang paling cantik. Tak lupa, baju yang super ketat…dan seksi sengaja kupakai untuk menambah daya tarik. Apakah berhasil? Ya Alhamdulillah ( baca : Astagfirullah ) berhasil….tapi sampai detik itu aku tak pernah bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan untukku.

Suatu hari, organisasi lembaga dakwah kampus yang aku masuki ketika di bangku kuliah mengadakan kegiatan buka puasa bersama di sebuah panti asuhan tuna netra. Aku dan teman-teman akhwat mengambil bagian menyiapkan makanan buka puasa bagi para penyandang cacat tersebut. Kami sudah menata makanan dengan rapi di meja bagian untuk laki-laki maupun di meja bagian perempuan, karena memang kami memisahkan tempat duduk sesuai jenis kelamin. Bada ashar, para penyandang cacatpun memasuki aula dan menduduki tempat duduk yang telah kami sediakan. Acara-pun dimulai. Diawali dengan ceramah yang disampaikan oleh pak Ustad. Isi ceramah dari pak ustad menggugah hati kami semua yang hadir, tentang arti sebuah kesyukuran terhadap apapun yang diberikan Allah. Usai ceramah, dilanjutkan dengan sesi penyerahan sumbangan secara simbolik dari kami kepada perwakilan penghuni panti asuhan. Beberapa perwakilan dari panti asuhan-pun naik ke panggung. Saat serah terima itu berlangsung aku tidak mengarahkan pandanganku di atas panggung sebab aku sedang sibuk menyendokkan es buah di gelas-gelas kecil. Saat ku anggkat pandanganku di atas panggung, mataku tertuju pada seorang pria yang berwajah tampan yang sedang berdiri di atas panggung bersama teman-teman dari panti asuhan..

Wajahnya yang sangat tampan membuat mataku melirik sejenak. Saat ia tersenyum, 2 lesung pipinya terlihat jelas. Hatikupun berdesir…subhanaullah…memuji ketampanan yang Allah berikan padanya. Maklum mata saya masih normal. ^^ Saya masih memperhatikannya, saat dia berfoto-foto bersama teman-teman ikhwan kami. Tapi kekaguman dan pujianku atas ketampanannya tidak berlangsung lama. Ketika ia keluar dari barisan teman-temannya dan membalikkan badannya kearah samping…masya Allah….ternyata dia seorang penyandang cacat juga. dia tak mempunyai sebelah tangan. Seketika tampan yang kulihat selangit itu menjadi runtuh saat itu juga….ah…dia tak tampan lagi….hanya karena fisiknya yang berkekurangan….Disitulah aku baru sadar, kecantikkan dan ketampanan itu tidak ada artinya jika kita terlahir cacat fisik. Jika aku disuruh untuk memilih oleh Allah, apakah aku mau berwajah cantik tapi cacat, atau berwajah jelek tapi sempurna, aku tak akan memilih yang kedua-duanya. Asma Allah kusebut saat itu..

Adzan magrib sudah berkumandang. Kami semua bersama-sama menikmati hidangan ringan untuk buka puasa. Ketika semua orang masih sibuk mengambil hidangan buka puasa, aku melihat seorang lelaki penyandang cacat yang keluar dari pintu aula. Dia mungkin hanya meneguk segelas air putih saat itu. Hatiku bertanya, mengapa lelaki cacat itu tidak mau menikmati dulu hidangan buka puasa yang kami sediakan sebelum keluar. Karena penasaran, tugas menyendokkan es buah kuserahkan pada teman-teman akhwat yang lain. Aku-pun mengikutinya dari belakang tanpa ia sadari. Ternyata arah lelaki cacat itu hendak ke masjid. Aku memperkirakan jarak antara aula dan masjid berjarak sekitar 100 meter yang harus ia tempuh dengan kecacatan fisiknya. Lelaki itu hanya setinggi 1 meter, dengan pinggang yang langsung menyatu dengan kakinya yang kecil setinggi 5 cm tanpa telapak kaki. Kedua tangan-nya pun puntung. Dapatkah kita bayangkan, tubuh yang nyaris menyentuh tanah, dengan kaki kecilnya, bisa menghasilkan langkah sejauh apa?..

Lelaki cacat itu terus berjalan dengan cepat, kadang juga berlari-lari kecil. Aku hanya membutuhkan be-berapa langkah saja untuk menyusulnya. Lelaki cacat itu masih berjarak setengah perjalanan untuk sampai ke masjid. Ketika itu semua orang berlari keluar dari aula menuju masjid untuk menunaikan sholat magrib berjamaah. Semua melewatinya termasuk sesama teman-temannya penyandang cacat. Rasanya aku tak sanggup untuk melewati dirinya walaupun aku berkeinginan untuk mendapatkan sholat berjamaah. Akhirnya dia sampai juga di pintu masjid. Keringatnya sudah bercucur membasahi wajahnya. Disapunya keringatnya dengan kedua tangan puntung itu. Nafasnya sudah tersengal-sengal. Saya tau dia pasti sangat letih karena usahanya untuk mengejar sholat berjamaah..

Namun sayang, ketika dirinya sudah berada di pintu masuk masjid, terdengar dari dalam pak imam mengucapkan salam…berakhirlah sholat magrib berjamaah di masjid. Kulihat ia menunduk lesuh….dan hanya berdiri diam terpaku di pintu masjid. Kini aku tau, mengapa ia terburu-buru keluar hingga tak mencicipi lagi hidangan buka puasa yang kami sajikan hanya demi untuk mendapatkan sholat berjamaah. Dia sadar, kalau harus lebih dulu menuju masjid mengingat langkah kakinya yang tak seberapa, dan pada akhirnya, dia tak juga mendapatkannya. Aku hanya terpaku di tempat aku berdiri. Subhanaullah....

Sesaat kemudian aku berpura-pura berjalan mendekatinya dari arah samping, menoleh padanya dan berkata ..”yah terlambat…” sambil menunjukkan wajah sedihku. Sengaja kulakukan itu, seolah aku ingin mengatakan bahwa ia bukan orang terakhir yang sampai di masjid. Entah ia terhibur atau tidak dengan keterlambatanku yang yang memang aku sengaja….dia tersenyum melihatku, tapi guratan wajahnya yang sedih terlanjur membekas di wajahnya. Bulir-bulir air mata itu sudah menumpuk di kelopak matanya. Dia hanya masih berdiri di pintu masjid ketika semua orang keluar dari masjid dan melewatinya kembali.

Saat itu, saya tidak bisa menebak apa arti dari air mata itu, …mungkinkah ia mengaduh pada Allah tentang kecacatannya ataukah itu adalah air mata keridhoan dan kepasrahan terhadap apa yang sang pencipta berikan kepadanya.

Saat itu juga aku segera berlari mengambil air wudhu…dan kemudian tersungkur lemah dalam sujudku yang lama…aku menangis…air mataku jatuh…dadaku sesak….sangat sesak. Rasa syukur itu sudah tak terbendung lagi. “Ya Allah….alhmdulillah engkau telah menganugerahkan padaku tubuh yang sempurna tanpa cacat. Betapa malunya hati ini pada-Mu ya Allah, ampuni hambamu ini yang tak pernah bersyukur atas nikmat kesempurnaan yang engkau berikan, yang masih meminta lebih dan lebih.

Kejadian ini sangat berpengaruh besar bagiku. Kini aku baru sadar, kalau "kesempurnaan fisik" adalah gambaran yang sesungguhnya dari sebuah kecantikan dan ketampanan.
Bukan bentuk rupa atau bentuk tubuh, asal lengkap punya mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, mulut yang dapat berbicara, tangan yang dapat menyentuh, kaki yang dapat melangkah...itulah cantik, itulah tampan. Jika mata sipit sedikit, hidung pesek sedikit, pipi lesung sedikit, bibir memble sedikit, dada kecil sedikit,kaki panjang sedikit. kulit hitam sedikit dan lain-lain itulah "Ciri khas", Allah pasti sudah memperhitungkan secara cermat dan tepat, mengurangi di bagian sini tapi melebihkan di bagian sana, itu namanya "keseimbangan". Kapan kita merubah "keseimbangan" itu dengan "operasi plastik" maka yakinlah keseimbangan itu akan hilang dan berubah menjadi kecacatan yang harus di tanggung seumur hidup..

Lagipula mau cantik sampai dimana sih? toh suatu saat juga wajah yang cantik itu akan keriput juga, kulit yang halus dan putih mulus itu akan mengkerut juga, rambut yang diwarnai sana sini pasti akan memutih juga...lalu mau cantik sampai dimana?.

Ingatkah kita dengan wajah bayi yang baru lahir ke dunia, lihatlah wajah mereka sama, tak ada yang berbeda, bahkan kalaupun ditukar orang tua kandung-pun pasti tidak bisa membedakannya, apalagi kita. Nanti seiring perjalanan waktu maka wajah bayi-bayi itu akan berubah mengikuti wajah kedua orang tuanya. Tapi seiring perjalanan waktu pula maka wajah-wajah itu akan kembali sama ketika mereka sudah tua. Apa ada nenek-nenek yang saingan cantik? atau kakek-kakek yang saingan tampan..? baru sadar kan kita. Itu artinya apa? Bahwa Allah ingin memberitahukan kita, bahwa semua asal penciptaan akan kembali sesuai aturan alamnya dan kita tak bisa melawan itu. Yang harus kita lakukan adalah mensyukurinya dengan menghiasi kecantikan dan ketampanan itu dengan pakaian takwa..

Satu hal....kita boleh bangga dengan kesempurnaan fisik yang kita punya tapi kita tak akan pernah bisa menyamai "kesempurnaan hati" yang dimiliki oleh para penyandang cacat,karena mereka mempunyai hati yang lapang dan jiwa yang besar untuk menerima keadaan mereka yang terlahir tak sempurna..

Justru dari yang "tak sempurna" itulah yang "sempurna" mendapat pelajaran tentang "kesyukuran". Justru dari yang "tak sempurna" yang "sempurna" belajar untuk "tidak putus asa". Justru dari yang "tak sempurna" yang "sempurna" belajar untuk "bersabar", justru dari yang "tak sempurna" yang "sempurna" selalu di ingatkan akan "kebesaran Allah"....kalau begitu, kita semua tau sekarang, siapa sebenarnya yang "lebih sempurna"........^^

Karena itulah sesampai aku kembali dari panti….aku terus menangis. Malam itu kupandang langit. Dengan sisa tangisan yang ada..akupun bersujud menyerah pasrah kepada empunya malam.

Semoga dengan kisah ini kita semua selalu menjadi orang-orang bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah.....amien^^

Tuesday, April 5, 2011

Korban Logika Akal !


Salah satu alasan yang paling mendasar sehingga menjadikan manusia makhluk yang paling mulia diantara makhluk ciptaan Allah adalah tidak lain karena keberadaan akalnya. Saking mulianya manusia sehingga para malaikat yang notabene adalah makhluk suci harus mematuhi perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Dan tidak ketinggalan pula, Iblis makhluk yang diciptakan dari api-pun tidak luput dari perintah itu. Namun karena kesombongan yang begitu besar dan gengsi yang tinggi, Iblis menolak untuk bersujud kepada Adam. Iblis tetap bersikukuh menolak dengan argument bahwa dia terbuat dari api dan Adam dari tanah. Sekiranya mungkin Iblis lupa bahwa bukan unsur penciptaannya yang membuat ia harus sujud kepada Adam, namun akal itulah kuncinya. Walau tak dinafikkan Iblis-pun diberikan potensi yang sama. Maka terjadilah tragedi pertama dalam sejarah akhirat, Allah mengusir Iblis dari surga yang selama ini ia diami. Dendam Iblis-pun membara kepada manusia, sehingga ia meminta kepada Allah mengizinkan dirinya mengajak anak cucu Adam ikut menemaninya di neraka.

Tragedi sudah terjadi, keputusan telah diambil, dan vonis sudah dijatuhkan. Takdir Ilahi, sampai akhir zaman, Iblis takkan berhenti mengajak manusia untuk membangkang terhadap perintah Allah. Tragedi ini dikisahkan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, dimana Allah mengajarkan Adam ilmu pengetahuan, dan melalui akal yang diberikan Allah kepada Adam, sehingga Adam mampu untuk menyerap ilmu yang diajarkan kepadanya.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!, Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?, Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. ( Al-Baqarah; 31-34 )

Apa Itu Akal?

Kata “akal” berasal dari bahasa Arab: al-aql. Arti lafaz tersebut sama dengan al-idrak dan al-fikr. Ketiga lafaz tersebut maknanya sama. Akal merupakan khashiyat yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia, yang merupakan khashiyat otak manusia. Adalah kesalahan besar ketika akal disimpulkan sebagai organ fisik yang berada di dalam otak, kepala ataupun dada, dengan argument bahwa hati ada di dada. Karena fakta membuktikan bahwa hewan juga mempunyai “hati” yang ada di dada. Punya otak di kepala namun tetap tidak mempunyai akal.
Karena itu akal sesungguhnya merupakan “kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu”. Kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak. Lalu disimpulkan bahwa akal tempatnya ada di kepala. Tentu kesimpulan ini salah. Yang benar adalah kekuatan untuk terbentuknya “akal” lahir dari empat komponen yaitu : 1.Otak, 2.Realitas yang dapat di indra, 3.Alat indra dan yang terakhir, 4.Informasi awal. Proses kerjanya yaitu sebuah “realitas” diindera oleh “alat indra” yang kemudian dimasukkan ke dalam “otak”. dengan “informasi awal” sebelumnya, maka realitas tersebut kemudian disimpulkan. Pada saat itulah terbentuk kekuatan untuk menyimpulkan realitas. Inilah esensi akal manusia.

Seperti yang kita ketahui akal itu dikatakan berfungsi bilamana ia dapat menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu. Nah berkaitan dengan yang namanya “hasil kesimpulan” bukankah benar bahwa ia membutuhkan “informasi awal” untuk menyimpulkan? Tanpa “informasi awal” ini maka “akal” manusia akan salah dan keliru dalam menyimpulkan segala sesuatu?. Jika kesalahan dan kekeliruan itu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mungkin masih bisa untuk kita perbaiki. Tapi bagaimana kalau kekeliruan itu berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan akidah ( keimanan)? Sesuatu yang berhubungan dengan akhir kehidupan manusia, apakah akan berakhir di surga ataukah berakhir di neraka? Bukankah ini kesalahan dan kekeliruan yang sangat fatal?

Sebelumnya saya ingin mengajak teman-teman bernostalgia dengan pelajaran biologi dan sejarah ketika di bangku SMP. Ingatkah kita dengan Aristoteles? Ia adalah Seorang ahli filsafat Yunani kuno yang terkenal dengan teori Abiogenesis (generatio spontanea). Aristoteles berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi begitu saja alias spontanitas. Teorinya ini pada akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya teori “Dialetika Materi” yang di gagas oleh Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa alam semesta, manusia dan kehidupan berasal dari materi yang berevolusi. Teori ini kemudian melahirkan “Sistem Sosialis” yang penganutnya disebut para komunis. Karl Marx sendiri akhirnya diangkat sebagai bapak sosialis dunia.

Ingatkah kita pula dengan Darwin? Walaupun Darwin seorang gerejawan namun ia sendiri mengeluarkan sebuah teori evolusi yang mengingkari tentang penciptaan manusia oleh Tuhan. Hanya dengan melakukan pengamatan pada fosil manusia purbakala Darwin membuat kesimpulan mengejutkan dengan teorinya yang menyatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera. Pada akhirnya Darwin sendiripun kebingungan dengan teorinya tersebut.

Kalau kita lihat, teori Aristoteles dan Karl Marx, lahir dari akal mereka yang dangkal. Hanya dengan bersandarkan pada logika fakta terhadap kejadian-kejadian yang ada. akhirnya keduanya sama-sama bersepakat tentang pengingkaran akan keberadaan Tuhan. Keduanya Menafikkan adanya Tuhan sebagai pencipta dari alam semesta, manusia dan kehidupan. Dalam membuat “kesimpulan” yang melahirkan “teori” keduanya tidak menggunakan “informasi awal” sebelumnya untuk membuat “kesimpulan” tersebut. Padahal “informasi awal” merupakan sandaran utama untuk menuntun mereka dalam memecahkan segala permasalahan yang muncul. Saya sebut “informasi awal” itu adalah “kitab-kitab” yang diturunkan oleh Allah kepada para rasul kepada manusia. Dengan maksud agar manusia mengenal asal usul keberadaan mereka di dunia sekaligus Allah ingin mengenalkan dirinya sebagai Tuhan yang menciptakan manusia. Dari awal sebenarnya pertanyaan-pertanyaan keduanya tentang kehidupan sudah terjawab oleh kitab-kitab Tuhan. Bahkan pada akhirnya pula teori yang mereka hasilkan dengan hipotesis susah payah dengan waktu bertahun-tahun lamanya dari akal mereka sudah terbantahkan oleh kitab-kitab Allah. Ironinya dari “kesimpulan” yang mereka hasilkan dari akalnya menjadikan keduanya menjadi atheis. Menjadi atheis artinya memesan tempat di akhirat bersama Firaun Cs. Bukankah ini pemikiran yang sia-sia nan fatal? Akal yang hanya berlogika tanpa penuntun akan menjadi korban dari akalnya sendiri.

Tak jauh beda dengan Aristoteles dan Karl Marx, Darwin dengan bangga mengatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera. Mendapat pelajaran sejarah tersebut, saya sempat kaget…masa sih…? Sejurus kalu kita melihat alur logika akal yang digunakan Darwin dengan fakta hipotesisnya terkesan benar, apalagi ini dibuktikan dengan penenmuan fosil kerangka manusia modern yang sudah berbadan tegak namun masih menyerupai kera? Tapi Darwin terlalu naïf untuk mengatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera hanya dengan hipotesisnya. Pada akhirnya teori Darwin diruntuhkan dengan adanya penemuan gen dan kromosom. Itulah yang terjadi ketika akal Darwin yang berlogika dengan hipotesisnya dengan mengabaikan “informasi awal”. Informasi dari kitab-kitab Allah yang menjelaskan bahwa Adam adalah jenis manusia pertama yang diciptakan Allah tanpa berevolusi.

Sangat menggelikkan jika membayangkan kera yang berwajah buruk rupa bisa berevolusi menjadi manusia setampan wajah Nabi Yusuf dan secantik Zulaikha. Mungkinkah? Lalu bagaimana dengan kata pepatah, “Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya”? Artinya kalaupun berevolusi setidaknya bentuk tubuh dan wajah manusia tidak jauh-jauh dari kera. Paling tidak mulut manusia harus moncong dan bulunya harus lebat, oh iya satu lagi, manusia juga harus bisa bergelantungan di atas pohon. Hmmm…Mungkin kata pepatah itu tak berlaku karena pohonnya berada di atas gunung sehingga ketika buahnya jatuh langsung menggelinding dan terus ke sungai sehingga tumbuh menjadi “beda” dengan indungnya….kale….^^ Yah, Aristoteles, Karl Marx dan Darwin adalah korban dari logika akal yang mereka ciptakan sendiri.

Di abad 21 sekarang ini terdapat pula para korban logika akal. Jika Aristoteles Cs membuktikan hipotesis mereka dengan melakukan eksperimen, korban logika abad 21 menggunakan logika mantic. Yaitu gaya berpikir yang disandarkan pada akal. Mereka mencoba untuk menjangkau segala sesuatunya dengan akal tanpa mau tau bahwa akal manusia yang diciptakan itu terbatas, sama terbatasnya dengan kehidupan manusia.

Terkait dengan akal yang menggunakan logika dalam proses keimanan dan beribadah kepada Allah saya akan mengisahkan sedikit episode lembaran perjuangan saya dalam mempertahankan akidah yang pada dasarnya rapuh namun masih bertahan walaupun diserang. Ketika itu saya masih nol besar tentang islam. Tak tau akidah itu apa!. Waktu itu kami mengikuti pembinaan yang di beri nama GS. Namun isinya tetap adalah ospek yaitu penyiksaan senior terhadap yunior cuman sebutannya saja diperhalus. Saat waktu sholat magrib tiba, datang seorang senior yang belakangan saya ketahui, dia adalah ketua dari sebuah organisasi di kampus. Kami semua maba hendak berdiri untuk sholat, tapi tiba-tiba dia mencegah kami untuk sholat. Dengan suaranya yang lantang dia berkata:
“Untuk apa kalian sholat? Untuk apa…?” Ucapnya dengan gaya bahasa puitis.
“Adik-adik, tahukah kalian makna sholat yang sebenarnya? Ayo..tahukah kalian?”
Kami hanya diam. Maklum senior cing lagi sok bentak-bentak di depan kami.
“Makna sholat adalah mengingat Allah. Ingat…hanya mengingat Allah….. betul tidak?”
Kami mengangguk. Bukankah benar aktifitas sholat adalah aktifitas mengingat allah? “
Jadi sebenarnya, cukup hanya dengan mengingat Allah tanpa kalian harus mengerjakan sholat yang sebenarnya, maka kalian sudah bisa dikatakan sholat”.
“Cukup hanya dengan mengingat. Tidak perlu kalian susah-susah payah untuk mendirikan sholat.”  ucapnya dengan intonasi yang ditekan.
Disitu akalku yang dangkal kemudian berpikir. “Benar juga yang dikatakan seniorku. Bukankah sholat adalah aktifitas yang di dalamnya hanya mengingat Allah? Jadi cukup dengan mengingat-Nya saja maka kita sudah sholat? Jadi buat apa capek-capek sholat? Toh maknanya sama…mengingat sang pencipta. Karena dialog logika seperti itu akhirnya beberapa separuh dari teman-teman memutuskan untuk tidak pergi sholat. Alhamdulillah saat itu walupun apa yang dikatakan senior sangat masuk di akal, walupun bimbang aku tetap pergi sholat walau tak khusyu. Yah, senior itu-pun tidak sholat, padahal mengaku dirinya muslim.

Teman-teman seangkatan saya yang ketika itu baru selesai mengikuti sebuah basic training yang diadakan oleh salah satu organisasi yang ada di kampus mengajak saya untuk berdiskusi. Teman-teman saya mengajukan pertanyaan,
“asiah, kenapa kamu yakin bahwa Allah itu ada sementara kamu sendiri tak pernah melihat dengan mata kepalamu sendiri sosok tuhan itu?”

Dalam hati saya bingung, saya yakin tuhan itu ada, tapi keyakinan tanpa bukti bukankah itu tidak mendasar? Belum selesai saya berpikir, teman saya mengajukan lagi pertanyaan-pertanyaan lain? 
“Dimana sebenarnya letak keberadaan Allah? Di baratkah? Ditimur kah?” 
Saya ingin membantah mereka, tapi sayang saat itu ilmu islam saya tak punya. Yah sampai pada suatu hari saya akhirnya belajar islam. Pertanyaan itu akhirnya bisa dijawab pula dengan logika akal tapi akal yang punya "informasi awal" alias standar penuntun .

Pertama, memang benar sholat adalah aktifitas mengingat Allah. Tapi apakah dengan hanya mengingat Allah maka eksistensi sholat sudah bisa kita dapatkan? Bagaimana kalau saya bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Jika anda lapar, perut anda sudah keroncongan, sudah bersiul riuh rendah. Maka agar anda bisa kenyang cukup anda mengingat makanan. Dengan mengingat makanan maka kesimpulannya anda sudah makan. Tapi pertanyaannya, apakah perut anda sudah terisi dengan hanya mengingat makan? Apakah perut anda menjadi tidak lapar lagi ketika anda hanya mengingat? Jelas perut anda tetap akan kelaparan. Anda tetap butuh melakukan aktifitas yang sebenarnya yaitu makan. Mengambil makanan dan memasukannya ke dalam mulut. Baru anda bisa kenyang.

Atau misalnya anda ingin buang hajat. Perut and susah melilit. Maka anda hanya perlu mengingat bahwa anda sudah buang hajat. Maka anda sudah buang hajat. Pertanyaannya, apakah perut anda sudah berhenti untuk melilit? Anda tetap harus ke wc untuk menghentikan lilitan tersebut. Jadi kesimpulannya eksistensi aktifitas itu tidak akan pernah kita dapatkan dengan cara “cukup mengingat”.

Jadi melakukan sholat dengan bacaan dan gerakannya itulah yang diminta. Agar eksistensi perbuatan ibadah itu kita dapatkan. 

Pertanyaan yang kedua, bagaimana membuktikan bahwa Allah itu ada.?
Memang Dzat Allah sampai kapan-pun tidak akan pernah bisa dijangkau oleh akal manusia. Manusia sendiri-pun tidak akan pernah bisa melihat Allah. Tapi manusia tetap bisa menjangkau keberadaan Allah dengan melihat apa yang diciptakan oleh-Nya. Dan melalui Akal itu manusia diminita untuk berpikir. Allah berfirman :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” ( Al-Baqarah :164). 

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. ( Az-Zumar : 21).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” ( QS Ali Imran : 190).

Masih banyak ayat-ayat Allah yang menjelaskan bukti tanda-tanda keberadaan Allah. Karena itu tidak mungkin segala sesuatu ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dan Tak akan mungkin segala sesuatu yang ada di alam semesta bisa teratur dengan sendirinya. Contoh, Sistem tata surya kita. Planet-planet berputar mengelilingi matahari dengan melewati lintasannya masing-masing secara teratur. Andai tidak ada yang mengatur pergerakan perputaran planet-planet terhadap matahari, akan tidak mungkin salah satu planet semisal Pluto yang jauh lintasannya merasa bosan dan capek. Sehingga ia ingin melakukan perputaran yang lebih dekat dengan berpindah ke lintasan planet yang lain dan menggeser planet yang lainnya. Bayangkan apa yang terjadi jika Pluto mengambil lintasan planet yang lain? Bukankah alam semesta akan mengalami kehancuran? Banyak contoh yang  bisa kita dapatkan,  tapi cukuplah contoh kecil itu saya hadirkan di benak teman-teman dengan harapan akan memberi pengaruh yang besar bagi kita sehingga kita segera sadar dan tunduk pada Dzat yang menciptakan kita yaitu Allah SWT.

Masih ada pertanyaan logika lain yang membuat bingung teman saya. Dia mendatangi saya dalam keadaan nalar logika yang berkecamuk sehingga meremukkan semua keimanan nya kepada Allah. Dia tinggal selangkah lagi menuju ke-Atheisannya. Ia bertanya :
“Iblis diciptakan dari api, neraka terbuat dari api. Suatu saat iblis akan dimassukan ke dalam neraka. Bukankah unsur api akan bertemu dengan unsur api tidak akan  saling memusnahkan?. Jadi pasti Iblis tidak akan merasakan sakitnya di panggang dalam api neraka? Tuhan berpura-pura untuk menyiksa iblis.” Ujar teman saya mantap. 
Untungnya saya pernah mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan teman saya. Saya pun berkata kepada teman saya itu,
“kamu tercipta dari apa? 
“tanah”. Jawabnya.
“Oke, kalau begitu”. Saya pun dengan sengaja mengambil tanah kemudian saya gumpalkan ke dalam tangan saya dan mengayunkan tangan untuk melemparkan tanah tersebut ke arahnya. Melihat gelagat saya, diapun marah.
Asiah, kenapa saya mau kau lempar…?
“Tenang, ini tidak akan sakit ?
“Kau gila, itu tanah, sakitlah kalau kena tubuh! Ujar teman saya sambil mencak-mencak.
Sayapun tersenyum. “Bukankh kau dari tanah, ini juga tanah, jadi tanah-ketemu tanah tidak akan sakit khan?
Saya pikir teman-teman bisa menebak apa yang terjadi sesudahnya pada teman saya.

Dari semua itu kita bisa mengambil hikmah bahwa keberadaan akal adalah anugerah terindah yang Allah berikan pada manusia. Tapi satu hal yang yang harus kita pahami, akal manusia mempunyai keterbatasan. Kapan daya nalar logika berpikir kita keluar dari batas jangkauannya maka saya jamin, anda pasti gila. Jika ingin beriman dengan menggunakan akal, contohlah cara Ibrahim yang mendapatkan Tuhan dengan memikirkan keberadaan matahari dan bulan. Contohlah cara Nabi Ibrahim. Yang dengan kejeniusannya berlogika dengan "informasi awal" sehingga mampu mengalahkan argumen orang-orang jahiliyah yang menyembah batu dan berhala.  Karena itu akal-pun harus mempunyai "informasi awal" sebelum ia menghasilkan sebuah "kesimpulan". Akal wajib mempunyai "sandaran" dalam berpikir agar ia tidak salah dan keliru dalam berpikir.  Karena itu, sebagai seorang muslim, kita wajib menyandarkan  akal kita pada Al-Quran. Al-Quran adalah jawaban dari segala pertanyaan yang muncul, solusi dari permasalahan yang ada entah itu di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.  Terjangkau oleh akal dan bukan akal-akalan.  insya Allah dengan menjadikan Al-Quran sebagai alur awal berpikir anda, anda tidak akan tersesat dan menyesatkan orang. Berlogika akal tak ada salahnya tapi jangan sampai logika akal keluar dari batas nalar kita sehingga malah menyerang balik nalar akal kita sendiri.

Yup..jika anda punya akal, jangan jadi korban ke-logikaan akal anda.


Sumber :
* Islam Politik Dan Spritual, Hafidzh Abdurahman.